![]() |
| Jajaran dewan guru UPTD SDN Soket Dajah 1, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan. (ist.) |
BANGKALAN - Upaya pelestarian budaya lokal melalui dunia pendidikan terus menemukan relevansinya. Di tengah pesatnya arus budaya digital yang kian mendominasi kehidupan anak-anak, praktik pembelajaran multiliterasi di UPTD SDN Soket Dajah 1, Kecamatan Tragah, menunjukkan bahwa pelibatan langsung murid dalam pengalaman budaya dapat menjadi strategi efektif untuk menumbuhkan literasi budaya yang kuat dan bermakna.
Di bawah kepemimpinan Siti Zahrah, S.Pd.SD., sekolah ini merancang rangkaian pembelajaran berbasis etnopedagogi yang menyatukan eksplorasi bahasa, seni visual, hingga refleksi nilai-nilai karakter. Fokus utama kegiatan tersebut adalah menanamkan kecintaan terhadap tradisi khas Madura melalui aktivitas pembelajaran yang menyatu dengan rutinitas sekolah.
"Saya ingin literasi budaya tidak berhenti sebagai teori di buku. Anak-anak harus merasakannya, melihatnya, dan mengekspresikannya," ungkap Imami Kholifatul Jannah, S.Pd, Guru Kelas VI-B UPTD SDN Soket Dajah 1, Kecamatan Tragah.
Dalam praktik literasi budaya dipadukan dengan literasi lisan, sosial, dan budaya dalam pembelajaran yang transformasional. Berikut beberapa aksi yang dilakukan:
SEBARA: Menghidupkan Kembali Roh Bahasa Ibu
Aksi pertama dimulai dengan program SEBARA (Sehari Berbahasa Madura) yang digelar setiap hari Sabtu. Pada kegiatan ini, seluruh siswa diwajibkan berkomunikasi menggunakan bahasa Madura dalam seluruh aktivitas di sekolah.
![]() |
| Dua siswa sedang mempraktikkan SEBARA (Sehari Berbahasa Madura). (ist.) |
Kegiatan ini menjadi fondasi multiliterasi yang kuat karena murid belajar melalui saluran literasi lisan dan sosial. Dengan berbahasa ibu, siswa tidak hanya belajar berkomunikasi, tetapi juga memahami etika dan tata krama (unggah-ungguh) yang melekat pada identitas daerah mereka. Budaya Madura tidak lagi terasa jauh, melainkan hadir dan relevan dengan kehidupan mereka sebagai generasi penerus.
SEMBURA: Petualangan Menemukan Makna Budaya
Memasuki aksi kedua, setiap tanggal 24 masing-masing bulan, suasana belajar berubah menjadi sebuah petualangan edukatif bertajuk SEMBURA (Sehari Mengenal Budaya Madura). Dalam kegiatan tersebut, murid diajak bergerak, mencari, dan menemukan sendiri informasi budaya melalui serangkaian kegiatan dinamis.
- Jam 1-2: Literasi Kinestetik melalui Permainan Tradisional - Siswa memburu kegembiraan melalui permainan seperti Egrang, Benteng-bentengan, Kasti, hingga Dakokon (Congklak). Aktivitas ini bukan hanya menyenangkan, tetapi efektif membangkitkan minat belajar dan kolaborasi antar kelompok.
- Jam 3-4: Literasi Auditori lewat Lagu Daerah - Murid mendalami irama dan filosofi lagu-lagu ikonik seperti Tanduk Majeng, Pajjar Laggu, dan Gai' Bintang. Mereka menyimak narasi di balik lagu yang menggambarkan etos kerja dan harapan masyarakat Madura.
- Jam 5-6: Visualisasi Budaya dan Adat Istiadat - Siswa memasuki ranah artistik dengan mengenal tari tradisional (seperti Muang Sangkal), senjata Celurit, hingga pakaian adat Pesa'an. Proses ini menyatukan literasi visual dan simbolik dalam memahami makna setiap ikon budaya.
Pendidikan yang Mengakar, Generasi yang Melekat pada Budaya
Praktik multiliterasi ini membawa transformasi nyata bagi peserta didik maupun sekolah. Pemahaman murid terhadap tradisi lokal meningkat tajam dari sekadar mengenal menjadi benar-benar memahami nilai di baliknya. Nilai religius, rasa syukur, gotong royong, dan kebanggaan terhadap budaya pun tumbuh secara alami sepanjang proses berlangsung.
Bagi guru, pendekatan ini menawarkan model pembelajaran budaya yang modern dan realistis. Sementara bagi sekolah, kegiatan ini menghadirkan ekosistem pelestarian budaya yang hidup dan inklusif. Pembelajaran ini memberikan pesan kuat bahwa "Modernisasi boleh maju, tetapi identitas harus tetap berpijak". UPTD SDN Soket Dajah 1 terbukti menjadi ruang belajar yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membudayakan.
Penulis : Imami Kholifatul Jannah, Guru Kelas IV-B UPTD SDN Soket Dajah 1, Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan dan Mahasiswa S2 Pendidikan Dasar Universitas Negeri Surabaya.
Pembimbing : Dr. Nurul Istiq'Faroh, M.Pd., Prof. Dr. Wahyu Sukartiningsih, M.Pd.


