Artikel ini merupakan bagian dari rangkaian tulisan dalam upaya Majalah Suara Pendidikan mendukung kebangkitan bulutangkis Indonesia. Adapun isi artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis dan tidak selalu mencerminkan pandangan Redaksi.

 

Fajar/Fikri bersua rekan senegara Raymond Indra/Nikolaus Joaquin (ist.)

All England Open Championships 2026 telah usai digelar. Namun, tak satu pun wakil Indonesia berhasil meraih podium tertinggi di turnamen bulutangkis tertua di dunia tersebut. Bahkan, hanya satu wakil Merah Putih yang mampu menembus babak semifinal ajang prestisius itu. Lalu, benarkah sinyal kebangkitan bulutangkis Indonesia mulai terlihat?


Sinyal kebangkitan bulutangkis Indonesia masih jauh dari kata terlihat. Hal itu tercermin dari hasil All England Open Championships 2026, di mana tak satu pun wakil Indonesia mampu melangkah hingga partai final. Ironisnya, sebagian besar wakil Indonesia sudah tersingkir saat turnamen baru memasuki babak 16 besar.


Baca jugaSinyal Kebangkitan Bulutangkis Indonesia


Dari tiga belas wakil Merah Putih yang tersebar di lima sektor, Indonesia hanya meloloskan enam wakil ke babak perempat final. Sementara sisanya, tersingkir lebih awal di babak 32 besar dan 16 besar. Dari enam wakil tersebut, hanya satu yang berhasil menembus babak semifinal, yakni ganda putra debutan All England, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.


Di semifinal, mereka berhadapan dengan juara bertahan sekaligus pasangan peringkat satu dunia, Seo Seungjae/Kim Wonho. Hasilnya, ganda putra “muda” itu harus mengakui keunggulan lawannya setelah kalah dua set langsung 21-19 21-13.


Jika dibandingkan dengan Korea Selatan, jumlah wakil Indonesia sebenarnya lebih banyak. Indonesia mengirim 13 wakil, sementara Korea Selatan hanya menurunkan tujuh wakil. Namun, hasil yang diraih justru berbanding terbalik. Dari tujuh wakil tersebut, tiga wakil Korea Selatan berhasil menembus partai final, bahkan satu di antaranya keluar sebagai juara.


Kejutan juga datang dari Taiwan. Negara itu dikenal rutin mengirimkan banyak wakil dalam berbagai turnamen internasional (baca: rombongan). Kerja keras tersebut akhirnya berbuah manis di All England, ketika mereka berhasil mengirimkan dua wakil ke partai final, yakni ganda campuran debutan Ye Hongwei/Nicole Gonzales Chan serta tunggal putra Lin Chun-yi. Capaian ini menjadi catatan bersejarah bagi negara kepulauan tersebut.


Sebaliknya, Indonesia justru mencatatkan sejarah yang pahit. Untuk pertama kalinya sejak 2011, Indonesia gagal mengirimkan wakilnya ke partai final turnamen bergengsi itu. Sejarah kelam itu pun kembali terulang pada edisi tahun ini – sebuah catatan yang tentu terasa miris bagi salah satu kekuatan tradisional bulutangkis dunia.


Lantas, haruskah Indonesia meniru langkah Taiwan yang berani mengirim puluhan pemain hanya untuk berlaga dalam satu turnamen? Atau cukup mengirim segelintir pemain dengan capaian mentok ialah gelar juara umum bagi Indonesia di turnamen BWF World Tour level di bawah 500? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi para pengurus PBSI.


Melihat kenyataan tersebut, benarkah sinyal kebangkitan bulutangkis Indonesia sudah mulai terlihat? Atau jangan-jangan hasil ini justru menjadi pertanda suram bagi perjalanan bulutangkis Indonesia ke depan? Semoga saja tidak! – Dimas Bagus Aditya

Lebih baru Lebih lama