
Ilustrasi Swedish School System. (Dok. sweden.se)
LUND, SWEDIA, MSP – Swedia merupakan
salah satu negara Nordik dengan sistem pendidikan terbaik di dunia. Hal itu
tercermin dalam laporan Education at a Glance 2025 dari Organization for
Economic Co-operation and Development (OECD) yang dipublikaskan oleh Visual
Capitalist.
Dalam laporan tersebut,
Swedia menempati peringkat ketujuh sebagai negara dengan populasi paling
berpendidikan di dunia. Sebanyak 51,8% penduduk dewasa di negara itu tercatat
memiliki gelar universitas atau kualifikasi setara.
Pencapaian tersebut bahkan
menempatkan Swedia di atas dua negara tetangganya, yakni Norwegia (50,4%) dan
Finlandia (42,7%). Lalu, apa yang membuat sistem pendidikan Swedia mampu
menghasilkan tingkat pendidikan yang begitu tinggi?
Dalam sistem pendidikan di
Swedia, anak-anak diwajibkan mengenyam pendidikan sejak mereka berusia enam
tahun, sesua dengan Swedish Education Act (Skollag, red.).
Sebelum memasuki pendidikan wajib, anak-anak dapat mengikuti Förskola atau
pendidikan prasekolah yang setara dengan taman kanak-kanak.
Layanan prasekolah ini
memperoleh subsidi dari pemerintah kota. Besaran biaya yang ditanggung orang
tua umumnya disesuaikan dengan sejumlah faktor, seperti usia anak dan kondisi
orang tua, termasuk apakah mereka bekerja, menempuh pendidikan, menganggur,
atau sedang menjalani cuti orang tua.
Sementara itu, pendidikan
wajib di Swedia terdiri atas empat tahap, yakni förskoleklass (kelas
prasekolah atau tahun 0), lÃ¥gstadiet (kelas 1–3), mellanstadiet
(kelas 4–6), dan högstadiet (kelas 7–9).
Anak-anak berusia enam
hingga 13 tahun juga dapat mengikuti layanan penitipan anak di luar jam
pelajaran, baik sebelum maupun setelah sekolah. Selain itu, sistem pendidikan
wajib di Swedia mencakup sameskolor (sekolah Sami) yang diperuntukkan
bagi anak-anak dari masyarakat adat Sami.
Hampir seperti di
Indonesia, Swedia juga memiliki jenjang pendidikan menengah atas (Gymnasium)
yang ditempuh pada tahun ke-10 hingga ke-12 setelah pendidikan wajib. Namun,
berbeda dengan pendidikan dasar, jenjang ini tidak bersifat wajib.
Meski demikian, sebagian
besar siswa tetap melanjutkan pendidikan ke tingkat tersebut. Di Swedia, siswa
dapat memilih satu dari delapan belas program nasional yang berlangsung selama
tiga tahun. Enam program di antaranya dirancang sebagai jalur persiapan menuju
pendidikan tinggi atau universitas, sementara dua belas program lainnya
berfokus pada pendidikan dan pelatihan kejuruan.
Melalui sistem pendidikan
yang sebagian besar dibiayai dari pajak, Swedia berhasil menjadi salah satu
negara Nordik dengan tingkat pendidikan tinggi yang tinggi. Lebih dari separuh
penduduk dewasanya tercatat memiliki gelar universitas atau kualifikasi setara.
![]() |
| Sumringah! Nilna Maulida, S.Hum. (ist.) |
Hal tersebut turut
dibenarkan oleh Nilna Maulida, S.Hum., mahasiswa Indonesia pada program Master
of Asian Studies di Lund University, Swedia. Menurutnya, banyak diaspora
memilih Swedia sebagai tujuan studi karena berbagai fasilitas pendidikan yang
didukung negara, termasuk layanan pendidikan prasekolah (nursery school,
red.) yang dapat diakses dengan biaya sangat rendah atau gratis,
tergantung pada kondisi keluarga.
“Jadi, kalau di Swedia, nursery
school itu gratis. Kebanyakan orang tua mereka itu memasukkan anaknya sejak
umur dua tahun. Sehingga, mereka tak memikirkan siapa yang mengasuh anaknya
jika mereka bekerja,” imbuh perempuan asal Trawas, Mojokerto itu lewat
sambungan telepon, beberapa minggu lalu.
Selain itu, menurut Nilna
Maulida, sistem pendidikan di Swedia relatif lebih fleksibel dibandingkan di
banyak negara lain. Ia mencontohkan bahwa siswa yang belum memenuhi persyaratan
kelulusan Gymnasium (setara SMA) tetap memiliki peluang untuk melanjutkan ke
pendidikan tinggi melalui program atau mata kuliah persiapan tertentu
Nilna juga menyoroti perbedaan cara mahasiswa di Swedia menjalani pendidikan tinggi. Menurut pengalamannya, tidak semua mahasiswa langsung terikat pada satu jurusan tertentu sebagaimana yang umum ditemui di Indonesia.
“Aku sering bertemu teman-teman mahasiswa di sini. Biasanya kalau kenalan, aku tanya, ‘Kamu kuliah jurusan apa?’ Kalau di Indonesia, mahasiswa pasti punya jurusan. Sementara di sini, ada yang menjawab, ‘Aku nggak punya jurusan’,” tukas Nilna.
Nilna menjelaskan bahwa
sebagian mahasiswa di Swedia tidak terikat pada satu jurusan tertentu seperti
yang lazim ditemui di Indonesia. Menurutnya, mereka dapat memilih sejumlah mata
kuliah dari bidang yang diminat, kemudian mengombinasikannya untuk memenuhi
persyaratan memperoleh gelar akademik tertentu.
“Jadi mereka mengambil mata
kuliah yang mereka butuhkan. Nanti dilihat apakah kombinasi mata kuliah
tersebut memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar tertentu. Misalnya, kalau
banyak mengambil mata kuliah terkait budaya, sejarah, seni, dan bidang
humaniora lainnya, mereka bisa memperoleh gelar Master of Art. Karena itu,
mereka sering merasa tidak punya jurusan spesifik,” rinci Nilna.
Menurutnya, fleksibilitas
tersebut menjadi salah satu ciri khas pendidikan tinggi di Swedia yang
memberikan keleluasaan lebih besar kepada mahasiswa dalam menentukan bidang
studi yang ingin mereka tekuni. (*) Dimas Bagus Aditya
