Melalui Gerak dan Lagu Maksimalkan Pembelajaran Anak Usia Dini


Ketika pembelajaran dilakukan dengan proses yang menyenangkan, maka akan dengan mudah mengingat seluruh proses yang diberikan oleh guru. - Agus Sukarno -

JOMBANG – Lagu anak, sudah jarang terdengar dinyanyikan oleh anak didik saat ini. Bentuk keprihatinan ini menjadi cambukan keras untuk guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam menjalankan perannya. Meski bukan salah mereka 100%, namun keberadaan guru PAUD sebagai garda terdepan dalam mengenalkan pelbagai lagu anak. Baik itu yang dinyayikan oleh anak-anak ataupun orang dewasa tetapi memiliki suatu materi yang diperuntukkan bagi dunia anak-anak. Lebih kurangnya seperti itulah secara definitifnya.

Menyadari pentingnya lagu anak bagi perkembangan anak didik di sekolah, lantaran bisa sebagai penghantar pembelajaran dengan cara yang mudah dan sederhana. Misalkan saja dalam mengenalkan moda transportasi delman, maka cukup di nyanyikan dengan lagu ciptaan Ibu Sud yakni Naik Delman. Begitu pun dengan pengenalan-pengenalan akan hal atau peristiwa lainnya.

Untuk itu Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI) PGRI Kabupaten Jombang menyelenggarakan workshop peningkatan kapasitas mutu pendidikan melalui pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan dengan seni gerak serta lagu anak terbaik pada Kamis (26/9) di Aula Bung Tomo Pemerintah Kabupaten Jombang.


Baca Juga : Profesional dalam Berkendara

Menggandeng Yayasan Antero Mandiri Sentosa (Ceria Bocah Indonesia) bekerjasama juga dengan IGTKI-PGRI Provinsi Jawa Timur dan juga Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten (Disdikbud) Jombang. Materi yang diulas ialah menekankan pada dua materi yakni gerak dan lagu serta karakter guru.

“Penting untuk ditekankan terkait dengan gerak dan lagu anak bagi para guru dan karakter guru tersebut dalam praktiknya. Hal tersebut mencakup tentang pembelajaran yang aktif, kreatif, dan menyenangkan serta yang berbasis saintifik dengan melalui gerak dan lagu anak,” ungkap Ketua IGTKI-PGRI Kabupaten Jombang, Sri Daruretno, S.Pd.

Tampak suasana yang sangat berbeda dirasakan pada acara workshop kali ini, pasalnya tak terlihat kursi yang dipergunakan peserta juga panitia. Kegiatan peningkatan mutu tersebut secara sengaja dikondisikan leluasa sehingga dalam praktik usai penyampaian materi oleh narasumber mampu teralisasi optimal.

Ulasan tersebut dibenarkan oleh perempuan berhijab tersebut, “Peserta workshop dipersilahkan praktik bersama dalam kesempatan ini pula, akan terlihat keunggulan serta perkembangan kemampuan guru yang sudah mengikuti workshop pada cipta lagu dan gerak. Setiap peserta memiliki satu karya lagu, dengan solmisasi, dan gerakan yang juga diciptakan seluruhnya secara mandiri, yang artinya karya tersebut ciptaan pribadi yang original. Tentu menyesuaikan dengan enam aspek yaitu sosial emosi, kognitif, seni, bahasa, fisik, motorik.”

Peserta lebih kurang berjumlah 530 guru TK dari 21 kecamatan tersebut terlihat begitu menikmati rangkaian kegiatan. Materi dari Ceria Bocah Indonesia memberikan kreasi untuk metode pembelajaran anak didik. Ketika penyampaian menggunakan metode yang ceria, maka materi apapun akan dengan mudah di terima oleh anak khususnya saat melibatkan dalam sebuah permainan.

Menurut Agus Sukarno, ketika pembelajaran dilakukan dengan proses yang menyenangkan, maka akan dengan mudah mengingat seluruh proses yang diberikan oleh guru. Sehingga melalui proses inilah terarah pula pada pemantapan materi untuk penerapan pendidikan karakter guru. Hal ini juga diulas secara menyenangkan dan tak terasa sedang melakukan proses pembelajaran.

Pasalnya terdapat delapanbelas pendidikan karakter yang penting untuk diterapkan dalam pembelajaran. Guna mempersingkat waktu, penyampaiannya dilakukan seraya bernyanyi namun dengan cakupan materi yang berkesinambungan dengan beberapa pokok cara.


“Melalui proses tersebut, guru ditransfer ilmu bagaimana secara langsung menerapkan pendidikan karakter misalnya saja tentang kejujuran. Pemilihan permainan menyanyikan lagu berjudul ‘Tepuk Apa Kabar’, dan diakhiri dengan mencari pasangan. Ketika anak tidak mendapatkan pasangan, maka guru bertanya, apakah semua sudah mendapat pasangan. Terdapat beberapa anak tak mendapat pasangan sebab jumlah di dalam kelas ganjil. Sehingga anak diminta untuk angkat tangan, yang artinya sudah membudayakan karakter jujur. Sebagai gantinya, anak mendapatkan konsekuensi dengan pertanggungjawaban yang mendidik. Misal saja dengan diminta untuk menyebutkan jenis-jenis kendaraan beroda empat, atau diminta sebutkan buah yang berkulit kasar dan atau sebagainya.

Disini terkonsep membuka pemikiran guru dalam menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan serta menciptakan lagu ternyata tak begitu sulit. Belajar sambil bermain, bermain seraya belajar sehingga anak didik akan mengikuti alur guru untuk selalu mengingat lagu dan bermain ala usianya.

“Setelah workshop peserta membawa oleh-oleh permainan PAUD yang semakin kreatif dan termotivasi untuk mengembangkan dirinya. Disisi lain menghasilkan karya lagu terbaru dari tematik untuk dibawa ke lembaga masing-masing.” tutup pria yang kerap disapa Agus Antero tersebut. chicilia risca

No comments

Powered by Blogger.