Atap Sekolah Roboh Terindikasi Tidak Sinkronnya Dapodik


Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Sekolah Dasar, Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, Baris Sulisdianto, M.MPd menjelaskan bahwa atap yang roboh di SDN Dukuhklopo itu berasal dari ruangan yang sudah lama dikosongkan dan tidak digunakan kegiatan pembelajaran.

PETERONGAN – Ruang kelas menjadi sarana dan prasarana utama dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Tanpa sarana ruang kelas yang memadai, baik guru maupun peserta didik tidak bisa saling melakukan kegiatan pembelajaran dengan nyaman.

Pada Minggu (10/11) dunia pendidikan Jombang dihebohkan dengan berita robohnya atap salah satu ruang kelas di SDN Dukuhklopo, Peterongan. Beruntungnya kejadian robohnya atap ruang kelas itu tidak terjadi saat hari aktif kegiatan pembelajaran, sehingga tidak sampai ada korban baik dari guru maupun peserta didik.

Kepala Seksi Kelembagaan dan Sarana Prasarana Sekolah Dasar, Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, Baris Sulisdianto, M.MPd menjelaskan bahwa atap yang roboh di SDN Dukuhklopo itu berasal dari ruangan yang sudah lama dikosongkan dan tidak digunakan kegiatan pembelajaran.

Baca Juga : Festival Batu Gilang Menggali Potensi Desa yang Terpendam

“Kondisinya memang sudah rusak dan sudah dua tahun tidak digunakan jadi seperti tinggal menunggu robohnya saja,” jelas Baris Sulisdianto saat ditemui di sela-sela kegiatan Sosialisasi Sekolah Adiwiyata bagi Sekolah Swasta pada Selasa (12/11).

Saat ditanya lebih lanjut mengenai pengajuan permohonan bantuan rehabilitasi yang dikabarkan sudah sejak tiga tahun yang lalu diajukan oleh pihak sekolah namun tidak kunjung didapatkan, Baris Sulisdianto mengaku sudah mengetahuinya. Namun menurut pengamatannya, dimungkinkan terjadi kesalahan pemasukan informasi pada Data Pokok Pendidikan (Dapodik) oleh pihak sekolah sehingga pengajuan bantuan rehab tidak kunjung didapatkan.

Pengisian Dapodik yang tidak sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan juga turut mempengaruhi diterima atau tidaknya pengajuan bantuan rehab gedung sekolah. Rehab gedung sekolah utamanya untuk skala berat, diajukan melalui mekanisme pengajuan Dana Alokasi Khusus (DAK). Salah satu penilaian verfikasinya berdasar pada isian informasi dalam Dapodik. Jika dalam Dapodik semuanya dilaporkan dalam kondisi baik padahal ada gedung yang rusak dan diajukan untuk direhab maka kemungkinan pengajuan permohonan rehabnya akan ditolak.

“Untuk itu diharapkan pada setiap kepala sekolah untuk mengingatkan para operator Dapodiknya untuk secara berkala memperbarui informasi pada Dapodik jika terjadi perubahan data sekecil apapun. Karena saat ini, segala jenis program ataupun bantuan dari pemerintah sumber informasi dasarnya berasal dari Dapodik,” tambah Baris Sulisdianto.

Selain harus memperhatikan isian Dapodik, untuk menghindari kejadian serupa terjadi lagi pria yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Sekolah Menengah Pertama, Bidang Pembinaan SMP Disdikbud Kabupaten Jombang ini juga menghimbau pada sekolah untuk juga memperhatikan kondisi sekolahnya. Jika ada kerusakan-kerusakan ringan diharapkan untuk segera memperbaikinya. Pembiayaan rehab ringan masih boleh diambilkan dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Ketika kerusakan sudah ditangani sejak masih dalam tahap ringan, diharapkan kerusakah tidak sampai dalam tahap berat. Namun jika sudah terlanjur berat, maka segera membuat proposal pengajuan bantuan rehab yang nantinya akan diajukan dalam proses penilaian DAK dengan pemerintah pusat.

Merger Tiga Lembaga


Ditemui secara terpisah, Kepala SDN Dukuhklopo, Trimiyati, S.Pd juga membenarkan bahwa atap ruang kelas yang roboh berasal dari ruangan yang sudah sejak dua tahun yang lalu dikosongkan. Kondisi atap yang rusak parah dan dikhawatirkan bisa melukai peserta didik menjadi alasan mengapa ruangan tersebut dikosongkan dan tidak lagi digunakan selama dua tahun belakangan.

“SDN Dukuhklopo ini sebenarnya juga gabungan dari tiga lembaga yang sebelumnya ada, yakni SDN Dukuhklopo I, II, dan III. Atap gedung yang roboh itu dulunya milik SDN Dukuhklopo II. Kabarnya sudah pernah diajukan bantuan rehab namun belum juga mendapatkan sampai akhirnya roboh pada hari Minggu lalu,” jelas Trimiyati.




Sebagai kepala sekolah yang menjabat sejak 2 September, sejujurnya Trimiyati belum terlalu memahami secara mendetail seluk beluk sekolah yang dipimpinnya itu. Apalagi sekolah yang dipimpinnya itu merupakan hasil merger dari tiga lembaga. Sehingga secara administrasif banyak hal yang berubah, termasuk sejarah isian data Dapodik masing-masing lembaga. 

“Saya belum sampai pada pengecekan riwayat isian Dapodik saat lembaga belum dimerger. Apakah seperti yang diperkirakan yakni antara data yang diisikan dengan kondisi yang seharusnya tidak sama. Namun dalam isian Dapodik saat ini, gedung yang atapnya roboh itu sudah diisikan dalam keadaan rusak berat. Semoga segera bisa mendapatkan bantuan rehab kembali,” harap Trimiyati.

Kendati ada atap ruang kelasnya yang roboh, perempuan berhijab itu menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran di SDN Dukuhlopo tetap berlangsung sebagaimana mestinya. Ada beberapa ruangan lain yang masih difungsikan sebagai pengganti ruang kelas.

Sementara itu, Kepala Disdikbud Kabupaten Jombang, Agus Purnomo, S.H., M.Si menyatakan SDN Dukuhklopo akan diusahakan untuk mendapatkan bantuan rehab melalui pengajuan DAK 2021.

“Karena untuk DAK 2020 lembaga yang mendapatkan bantuan sudah ditetapkan. Sehingga tidak bisa diubah lagi. Sehingga kita mengusahakan lembaga yang saat ini mengalami kerusakan tersebut bisa mendapatkan bantuan di 2021,” tutur Agus Purnomo. fitrotul aini.

No comments

Powered by Blogger.