Mengais Recehan di Pinggir Jalanan

Dyah Saraswati Sulistyaningrum

Terkadang bila sudah tidak mampu menahan lelah, saya meminta mereka membeli makan malam atau sebelumnaya dikasih sama neneknya lauk.

JOMBANG, MSP – Setiap 22 Desember selalu dikenang sebagai peringat Hari Ibu. Hal itu merujuk Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional Bukan Libur tertanggal 16/12/1959.

Selain keterlibatan dalam memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia, ketangguhan kaum mama ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Diantaranya adalah mempertaruhkan nyawa saat melahirkan hingga memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya. Tidak lain sekedar memupuk harapan masa depan yang lebih baik.

Sosok tangguh itu pun tampak pada Dyah Saraswati Sulistyaningrum, seorang juru parkir di Jalan Kusuma Bangsa. Menanggalkan rasa malu demi menjawab tantangan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, ia rela bekerja diantara deru lalu-lalang jalanan.

“Tidak ada paksaan dari siapa pun, termasuk suami. Pekerjaan ini saya lakukan atas keinginan diri sendiri,” terang Dyah Saraswati Sulistyaningrum di sela mengatur tata letak kendaraan.

Setelah menyiapkan kebutuhan keluarga, mengantarkan anaknya sekolah, dan membereskan rumah Dyah Saraswati Sulistyaningrum lekas menuju ladang rejekinya. Sekitar pukul 09.00 WIB sudah tiba di lokasi parkir, berkalungkan peluit dan stick lamp perempuan 35 tahun ini sangat cekatan melakoni pekerjaan ini.

Diakui bahwa sosok mendiang ibundanya merupakan penguat bagi dirinya dalam mengarungi profesi yang tidak biasa dijalankan oleh perempuan sehingga menjadi penguat sewaktu bekerja dengan dedikasi yang tinggi tanpa terucap kata menyerah.

Dyah Saraswati Sulistyaningrum mengungkapkan, “Ibu mengajarkan saya untuk sederhana, jujur, tekun dan selalu bekerja keras. Hal itu yang terus tertanam hingga kini menjadi pegangan hidup.”

Sepekan hanya bekerja tiga hari saja selama hampir 12 jam karena bergantian dengan rekan lainnya, ibu empat anak ini mampu mengatongi uang sekitar 100.000 rupiah sampai dengan 150.000 rupiah. Hasil yang diperoleh itu cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan menjaga api dapur tetap menyala.

Mengurus dan Doa Anak

Meski lelah membekap di sekujur tubuh sesudah seharian terpapar sinar matahari dan bersahabat dengan asab kendaraan, Dyah Saraswati Sulistyaningrum enggan melupakan tanggungjawab utamanya sebagai ibu.

Usai menyudahi pekerjaannya langsung pulang ke rumah di Desa Kepatihan, Jombang. Membersihkan diri dan menyiapkan makan malam ialah rutinitas yang dilakukan, lantas menemani buah hati belajar hingga menuntaskan pekerjaan rumah untuk esok dijadikan bahan belajar di sekolah.

“Terkadang bila sudah tidak mampu menahan lelah, saya meminta mereka membeli makan malam atau sebelumnaya dikasih sama neneknya lauk,” terang Dyah Saraswati Sulistyaningrum.

Perempuan berhijab ini mengakui walau rezki sudah ada yang mengatur, doa anaknya mampu memberikan kelancaran tersendiri. Upayanya dalam mengais rezki dari uang receh pengendara terkesan lebih mudah sehingga kalau sudah dirasa cukup bisa pulang lebih awal.

Dyah Saraswati Sulistyaningrum menuturkan, “Semoga dengan pekerjaan saya yang seperti ini, anak-anak tidak memilki rasa mampu. Justru besar harapan kedepan melaui pekerjaan sebagai juru parkirir dapat menyekolahkan mereka mecapai jenjang tertinggi. ■ chicilia rischa