Seni Merekam Momen Berharga


Di awal ketertarikannya pada dunia foto, Anas belajar memotret menggunakan kamera pocket, itupun hasil meminjam dari temannya. Akhirnya muncul niatan membeli kamera yang lebih canggih. Berbekal tabungan dan sedikit tambahan dana dari orang tuanya, terbelilah kamera dambaannya saat itu.

JOMBANG, MSP – Persebaran gambar di dunia maya terlihat begitu indah tampak di mata. Terciptanya keindahan tersebut tidak lepas dari peran juru kamera profesional, dengan cekatan fotografer mencari angle yang proporsional sesuai konsep melalui sudut pandang lensa kamera.

“Feel seorang fotografer dalam menangkap suatu momen sangatlah dibutuhkan, agar pesan dari hasil pemotretan bisa tersampai kepada masyarakat,” jelas salah satu fotografer kawakan asal Jombang, Anas Afansyah Hidayat.

Anas sendiri mengaku, kecintaannya pada dunia balik layar ini dimulai saat berada di bangku perkuliahan salah satu kampus swasta di Kota Malang tahun 2006. Ketertarikannya muncul secara kebetulan ketika mengikuti mata kuliah fotografi. Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) yang ditempuh sejak awal kuliah, sekarang lebih berfokus pada bidang foto.

Di awal ketertarikannya pada dunia foto, Anas belajar memotret menggunakan kamera pocket, itupun hasil meminjam dari temannya. Akhirnya muncul niatan membeli kamera yang lebih canggih. Berbekal tabungan dan sedikit tambahan dana dari orang tuanya, terbelilah kamera dambaannya saat itu.

Setelah dua tahun menimba ilmu di Kota Bunga, Malang, tahun 2008 sampai 2010 pria berkacamata ini pun lebih mendalami ilmu fotografi di Jogja. Selama di Jogja, mulailah perlombaan foto sering diikuti dan tidak jarang juga memenangkannya.

Pada tahun 2008 pula, Anas menjadi salah satu penggagas pembentukan komunitas foto pertama di kota santri. Terbentuknya komunitas adalah sebagai wadah bagi pecinta seni fotografi agar bisa sharing pengalaman kepada sesama penghobi.

“Setiap orang pasti memiliki kelebihan, adanya komunitas ini mempertemukan saya dengan fotografer hebat lain sehingga bisa menjalin silaturahmi dan saling membantu jika salah satu anggota sedang mengalami kesulitan,” tegas Anas.

Selepas berkelana menimba ilmu di kota orang, setiap harinya kesibukan Anas tidak lepas dari kamera. Sampai akhirnya pendapatan menekuni hobinya digunakannya untuk memenuhi peralatan-peralatan fotografi. Memang dalam menghasilkan satu potret yang bagus memerlukan peralatan penunjang, tetapi itu semua adalah nomer kesekian.

“Terpenting dari semua itu adalah kemauan tinggi dari seseorang. Setelah niat sudah terbentuk dengan baik, selanjutnya memahami komposisi sebuah foto. Dari dua aspek itu saja seseorang sudah mampu menghasilkan gambar yang baik, meskipun hanya menggunakan kamera seadanya,” kekeh pria usia 29 tahun ini.

Selama mengikuti event bersama teman sehobinya, Anas lebih sering menggunakan kamera telepon pintar daripada kamera canggih. Hal itu ditujukan agar masyarakat semakin termotivasi dan bisa melihat sendiri, dengan kamera sederhana pun bisa menghasilkan gambar yang berkualitas.

Dunia fotografi sendiri memiliki cerita klise, yaitu sebagai perekam momen-momen berharga hidup seseorang. Karena momen berharga itu pasti sangat jarang terjadi di kehidupan, seperti tumbuh kembang buah hati ataupun pernikahan. Adanya dokumentasi, memudahkan seseorang untuk mengenang momen tersebut kapan saja. fakhruddin