Ecobrick, Kunci Penanganan Limbah Plastik


Kekuatan batu bata Ecobrick pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Sudah banyak orang luar negeri yang memanfaatkannya sebagai bahan material bangunan dan terbukti tidak kalah dengan bahan bangunan pada umumnya.

JOMBANG, MSP - Penggunaan batu bata dan batako sebagai bahan baku pembangunan rumah sudah tidak tergantikan. Sejak dahulu kedua bahan bangunan itu sudah mendapat kepercayaan penuh dari masyarakat, karena memiliki kekuatan serta karakter fisik yang sangat cocok sebagai konstruksi bangunan.

Makin memiliki nilai plus bilamana kontruksi bangunan memanfaatkan limbah yang selama ini kurang mempunyai daya guna dan hanya menjadi sampah belaka. Seperti halnya apa yang dilakukan oleh beberapa aktivis lingkungan telah menemukan sebuah terobosan baru di bidang bangunan, yakni batu bata berbahan dasar limbah rumah tangga. Penemuan tersebut diberi nama batu bata Ecobrick.

"Ecobrick sendiri terdiri dari kumpulan sampah plastik yang tidak bisa terurai sempurna oleh bakteri, laiknya dedaunan. Sehingga dari pemanfaatan limbah seperti ini bisa semakin meminimalisir tumpukan sampah di sembarang tempat," jelas salah satu trainer Ecobrick, Shanti Wurdiani Ramadhani.

Kekuatan batu bata Ecobrick pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Sudah banyak orang luar negeri yang memanfaatkannya sebagai bahan material bangunan dan terbukti tidak kalah dengan bahan bangunan pada umumnya.

Hanya saja jika digunakan di sisi luar bangunan dan diterpa oleh perubahan cuaca secara langsung, maka keadaan material harus rutin dipantau. Sebab perubahan cuaca berkala menyebabkan tingkat ketahanan Ecobrick tidak menentu. Setidaknya bangunan mampu bertahan selama lebih kurang 300 hingga 500 tahun.

Ada beberapa hal dasar yang perlu diperhatikan seseorang ketika akan menggunakan Ecobrick sebagai material bangunan. Jenis maupun ukuran botol sebagai wadah penampung plastik harus serupa, agar kontruksi bisa tertata rapi. Perlu menjadi perhatian juga untuk memasikan penggunaan Ekobrick harus benar-benar siap pakai, yakni terkemas secara padat. Penyusunan bata dilakukan secara horizontal dalam formasi kuadrat atau heksagonal dengan memilih pola sesuai tujuan pembangunan rumah, agar membentuk pola idaman.

Teknik pembangunannya pun sangat mudah dan tidak mahal. Cukup menggunakan teknik bangunan lempung kuno bangsa Spanyol dan Igorot. Perekatnya bisa menggunakan semen lempung jerami. Lempung Jerami sendiri merupakan semen organik berupa campuran dari tanah liat, pasir dan jerami atau penguat berserat lainnya. Tanah liat merah dan cokelat pucat khas pegunungan lah yang paling ideal digunakan sebagai campuran semen, karena daya rekatnya begitu kuat.

Selain digunakan sebagai bahan utama pembangunan rumah, benda yang sangat bermanfaat bagi lingkungan ini juga bisa dimanfaatkan sebagai pembuatan furniture rumah tangga. Caranya pun tidak jauh berbeda, cukup memadatkan perpaduan potongan plastik dan kresek di sebuah botol plastik dengan menggunakan sebilah bambu. Setelah jadi beberapa buah, maka bisa disatukan menggunakan bantuan lem khusus menjadi peralatan yang diinginkan. Bergantung kreasi sang pembuat Ecobrick.

Satu botol Ecobrick setidaknya minimal harus berisi plastik seberat 200 sampai 230 gram. Standar tersebut sudah ditetapkan bersama oleh para trainer di seluruh dunia, sebab di kisaran berat itu kepadatan isi bisa terjamin memenuhi satu botol plastik. Sehingga setiap botol memiliki tingkat kepadatan relatif sama dan kuat.

Semua jenis plastik bisa digunakan menjadi bahan baku batu bata ramah lingkungan ini. Baik bungkus makanan, baju, maupun sampah rumah tangga lainnya. Hanya saja sebagai dasar, memang harus menggunakan kresek untuk memadatkan dasar botol yang tidak rata. Bahkan warna-warni dari kresek bisa dikreasikan menjadi satu pola tertentu, sesuai kehendak kreator sendiri.

Manfaat yang begitu besar membuat Shanti sebagai penggerak lingkungan ingin menularkan kemampuannya membuat Ecobrick dan mengajak masyarakat agar lebih peduli terhadap sampah plastik. Apalagi sampah jenis ini juga tidak memiliki nilai provit jika dibiarkan begitu saja.

Wanita berlatar sebagai guru di Kabupaten Jombang ini pun menambahkan, "Sebenarnya slogan membuang sampah di tempatnya merupakan cara termudah mengatasi sampah di lokasi tersebut, tetapi banyak orang tidak menyadari jika sampah-sampah tersebut akan dipindahkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan akan terjadi penumpukan sampah plastik di sana."

Oleh karena itu Shanti kerap mengajak peserta didiknya agar mengikuti jejaknya dalam membuat Ecobrick. Sampai saat ini lebih kurang 2500 benda serupa mampu dihasilkan peserta didik binaannya. Tepat di hari Sabtu dan Minggu selama Bulan April 2018 hasil karya peserta didik akan ditampilkan di sebuah pameran khusus dengan mendatangkan tutor seorang penemu pertama Ecobrick dari luar negeri, serta mengundang kelompok-kelompok penggerak lingkungan lain yang bergerak dalam lingkup yang sama.

“Tujuannya tidak lain adalah sebagai langkah nyata mengenalkan benda bermanfaat ini kepada masyarakat Jombang yang masih belum familiar, agar bersama-sama memulai kontribusi sadar akan kondisi lingkungan sekitar,” pungkas perempuan yang menjabat sebagai salah satu pengurus bank sampah Kabupaten Jombang tersebut. ■fakhruddin
Powered by Blogger.