Menolak Menyerah, Semangat Berniaga Sepeda


Agus Rahmadon salah satu pegawai Tata Usaha (TU) SMP Negeri 6 Jombang yang menjalankan bisnis sampingan yaitu jual sepeda beserta onderdilnya.

JOMBANG, MSP – Banyak latar belakang penyebab seseorang menjalankan bisnis sampingan, mulai dari gaji yang kurang mencukupi kebutuhan hidup, sekedar coba-coba menyalurkan jiwa berbisnis. Kondisi ini juga terjadi pada para pegawai honorer. Gaji mereka yang tergolong masih kecil bahkan masih di bawah Upah Minimum Regional (UMR), biasanya mencari alternatif lain untuk mendapatkan pendapatan tambahan yakni dengan menjalankan usaha sampingan.

Seperti yang dilakukan salah satu pegawai Tata Usaha (TU) SMP Negeri 6 Jombang, Agus Rahmadon. Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, nampaknya gaji sebagai pegawai TU masih belum bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Terlebih dengan kebutuhan kedua anaknya yang masih duduk di SD dan TK.

“Jika mengandalkan gaji dari sekolah saja tidak akan cukup. Saya harus memutar otak bagaimana dapat mencukupi kebutuhan hidup. Pada akhirnya saya mulai menekuni jual sepeda beserta onderdilnya,” ujar Agus Rahmadon.

Sejak dirintis pada tahun 2013 silam, lanjut laki-laki yang juga hobi sepeda sejak SMP ini, berjualan sepeda serta onderdil adalah jawaban akan kesenangannya yang berpeluang menghasilkan untung. Apalagi trend bersepeda sudah masuk ke segala lini masyarakat, sehingga cukup menjanjikan

“Sebenarnya hanya coba-coba saja membuat bisnis ini, tetapi Alhamdulillah hasilnya lumayan. Awalnya saya diminta tolong seorang teman untuk menjual sepedanya, kemudian saya diberi uang fee (baca: komisi). Lama kelamaan menjalankan jual beli sepeda membuat permintaan dari sesama penghobi sepeda, akhirnya saya mulai menekuni bisnis ini,” katanya.

Namun dalam perjuangannya menjalankan bisnisnya, Agus Rahmadon harus lihai dalam membagi waktu. Kewajibannya sebagai pegawai di sekolah harus tetap ia kerjakan dari pagi hari hingga menjelang sore. Belum lagi melayani pesanan konsumen dan berbelanja onderdil sepeda di berbagai distributor langganannya untuk dijual kembali.

“Saya fokus ke online shop. Adanya sosial media dan aplikasi jual beli sangat membantu. Saya dapat melayani pembeli disela-sela waktu luang karena tidak menyita waktu banyak. Cukup dengan menampilkan foto detail produk maka pembeli tidak akan rewel,” kata pemilik lapak bernama Semoga Berkah (SB) Bike ini.

Saat ini, Agus Rahmadon membeli onderdil sepeda dari berbagai toko sepeda di Jombang. Pasalnya, jika membeli di luar kota dirinya akan terkendala waktu karena tuntutan kesibukan pekerjaan di sekolah. Namun terkadang jika barang yang ia inginkan tidak ada maka bapak dua anak ini membeli di beberapa temannya di Surabaya dengan cara online.

Persaingan harga dalam online shop juga kerap dirasakan pecinta sepeda MTB (sepeda gunung) bermerek Boxer tersebut. Pasalnya, dalam pemasarannya banyak diantara pelapak lain yang menjual onderdil sepeda di bawah harga umum. Menyiasati hal tersebut Agus Rahmadon harus membeli barang-barang diskon atau promo agar mendapatkan harga murah tetapi jika dijual masih mendapatkan keuntungan.

“Modalnya terkadang saya harus pinjam di bank. Untuk memutar uang, tidak jarang saya membeli sepeda utuh dan menjualnya secara terpisah. Selain dapat menambah keuntungan, juga agar cepat laku,” kekeh mantan guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMP Sawunggaling Jombang.

Agus Rahmadon berambisi memiliki toko yang besar yang dapat menjual sepeda dan onderdil secara lengkap. Mungkin baginya, sekarang masih belum bisa karena menurutnya membuka usaha harus fokus pada satu pekerjaannya dulu. Ia berharap semoga nanti dapat terwujud cita-cita.

“Dukungan keluarga merupakan motivasi utama bagi saya. Dorongan merekalah yang selama ini membuat saya tidak patah arang dengan segala lika-liku kehidupan. Selain itu, terus mengingat masa lalu untuk pembelajaran di masa depan. Saya selalu berpesan kepada anak-anak agar lebih giat belajar dan mendapat masa depan lebih baik,” pesannya. aditya eko
Powered by Blogger.