Layaknya cerita di Petilasan Damarwulan di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh. Bagi masyarakat setempat, kisah dari Kerajaan Majapahit ini sudah menjadi lumrah tentang jalinan cintanya dengan Kencanawungu. Namun ketika mendobrak dengan menggali sisi lain Dhamarwulan selain seputar asamaranya membuat posisi cerita yang selama ini sudah diterima menjadi tidak tunggal atau mutakhir.

MEGALUH - Cerita rakyat tentang asal usul suatu daerah memang menarik disimak. Apalagi ada keterkaitan antara diri kita dengan cerita tersebut. Tentu akan semakin menggugah rasa penasaran dan ingin menuntaskan keingintahuan pungkasan kisahnya.

Layaknya cerita di Petilasan Damarwulan di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh. Bagi masyarakat setempat, kisah dari Kerajaan Majapahit ini sudah menjadi lumrah tentang jalinan cintanya dengan Kencanawungu. Namun ketika mendobrak dengan menggali sisi lain Dhamarwulan selain seputar asamaranya membuat posisi cerita yang selama ini sudah diterima menjadi tidak tunggal atau mutakhir.

Hal itulah yang dilakukan dalam mata kuliah Menulis Sastra mahasiswa Program Studi (Prodi) Bahasa dan Sastra Indonesia, STKIP PGRI Jombang angkatan 2017. Selama dua hari (28-29/4) mengusung tajuk "Merespon Desa Cinta, Eksplorasi Cerita Damarwulan". Sebanyak 68 mahasiswa menggali dari pelbagi narasumber untuk menemukan bagian cerita lain dari Dhamarwulan yang belum terungkap dan diterima oleh publik.

Menurut dosen mata kuliah Menulis Sastra, STKIP PGRI Jombang, Anton Wahyudi, M.Pd. saat dijumpai di tengah workshop di ruang pertemuan Balai Desa Sudimoro menjelaskan, "Sengaja mengajak mahasiswanya melakukan observasi di seputaran Petilasan Damarwulan guna menemukan ragam cerita suami Kencanawungu tersebut."

Sebelumnya, selama tiga bulan diberikan pembekalan serta dasar-dasar observasi dan menentukan narasumber. Harapannya dari hasil kerja lapangan itu mampu diaktualisasikan menjadi cerita fiksi. Utamanya adalah Cerita Pendek (Cerpen), lantas dihimpun seraya dibukukan.

Tokoh teater, penulis naskah, dan sutradara Jawa Timur, Zainuri yang bertindak sebagai pendamping mengemukakan bahwa sengaja membiarkan mahasiswa berkeliling di desa dalam kurun waktu tertentu supaya menemukan ragam cerita seputar Damarwulan melalui penuturan masyarakat setempat ataupun juru kuncinya. Setelah referensinya kaya, mereka mahasiswa bakal mudah memilih ide cerita nantinya untuk dikembangkan.

"Para mahasiswa mesti mengeksplorasi cara pandangnya. Jangan serta merta menerima cerita yang sudah berkembang di masyarakat. Justru temuan hasil observasi kemungkinan akan menjadi rujukan kedepannya dan menghasilkan pembeda dari cerita yang telah ada," terang pria berkacamata ini.




Zainuri menambahkan, Proses pembelajaran semacam ini asyik. Selain menghasikan nilai bagi mahasiswa juga dapat berkontribusi besar terhadap masyarakat Desa Sudimoro.

Bayu Anggara, salah satu mahasiswa yang turut serta mengakui usai observasi menemukan variasi cerita tentang Damarwulan yakni pernah memiliki 60 ekor kuda dan digembalanya. Akhirnya, muncul dalam istilah Jawa Suwidak Jaran.

"Berikutnya akan dikembangkan dari ide awal itu menjadi tulisan fiksi dengan konflik dari para tokoh yang dihadirkan," terang Bayu Anggara. rahmat sularso nh.
Sebelumnya Berikutnya