Kecelakaan yang terjadi di tol Jombang-Mojokerto ini rata-rata dipicu laju kendaraan yang terlampau tinggi. Hal itu tidak lepas dari kondisi jalan tol baru yang masih mulus dan cenderung sepi.

JOMBANG, MSP – Jalan Bebas Hambatan atau tol menjadi solusi perjalanan moda transportasi darat agar terhindar dari panjangnya jarak tempuh hingga kemacetan di momentum tertentu seperti musim mudik Hari Raya Idul Fitri. Walau berbayar hal itu bukan menjadi masalah berarti, ketika melihat manfaat yang dirasakan. Selaiknya di Kota Santri sudah terdapat tol yang menghubungkan Surabaya-Mojokerto (Sumo), tembus di Jombang melalui pintu masuk di Kecamatan Bandar Kedung Mulyo.

Jalur Surabaya mencapai Jombang yang sebelumnya ditempuh dalam waktu 2-3 jam, kini cukup 1 jam perjalanan saja. Terlebih nanti bila jalan tol sesi lanjutannya yakni Jombang, Kertosono, dan Ngawi yang sekarang sedang proses pengerjaan telah tersambung maka cukup banyak memangkas waktu menuju beberapa daerah di Jawa Tengah. Sementara untuk ruas tol Nganjuk, Madiun, Ngawi sampai Solo sudah resmi dioperasikan.

Salah satu pengendara mobil asal Surabaya, Hariyanto (48) mengatakan, “Saya tidak terlalu khawatir jika hendak pulang kampung ke Semarang. Pastinya mempersingkat waktu perjalanan dan tidak terjebak macet. Saya beberapa kali sudah merasakan Tol Sumo sampai Jombang dan jalur ini sangat membantu dalam perjalanan.”

Namun Hariyanto mengeluhkan bahwa dirinya pernah mengalami pecah ban ketika melintas jalur tol Jombang-Mojokerto (Jomo). Menurut dia, kontruksi jalan yang sedikit bergelombang dan tidak rata membuat ban menjadi panas akhirnya pecah.

Menanggapi bahwa kondisi jalan tol Jomo bergelombang, Kepala Departemen Pelayanan Lalu Lintas, Kemanan dan Ketertiban Astra Infra Tol Road Jombang-Mojokerto, Zanuar Firmanto membantah. Menurutnya, sebelum ruas tol Jomo beroperasi sudah dilakukan uji kelayakan terlebih dahulu yakni memeriksa kekesatan dan kerataan jalan.

“Tim yang melakukan uji kelayakan berasal dari pihak terkait, yakni Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dinas Perhubungan, serta Kepolisian. Hasilnya jalan tol Jomo sudah lulus dari uji kelayakan tersebut dan hampir tidak ada yang bergelombang,” tegas Zanuar Firmanto.

Beberapa kecelakaan yang terjadi belakangan ini menurut Zanuar merupakan kelalaian pengemudi. Rata-rata yang mengalami kecelakaan karena sopirnya mengantuk. Ada juga kendaraan yang melaju dengan kecepatan di atas 120 km/jam. Seperti kecelakaan yang menimpa rombongan suporter sepak bola beberapa waktu lalu, kendaraan melaju dengan kecepatan 150 km/jam.

Dikonfirmasi di tempat berbeda, Kasat Lantas Polres Jombang, AKP Inggal Widya Perdana menilai, infrastruktur tol tersebut sudah cukup memadai. Namun dia mengingatkan agar masyarakat lebih waspada dalam mengendalikan kecepatan laju kendaraannya karena jalur tersebut rawan kecelakaan.

Kecelakaan yang terjadi di tol Jombang-Mojokerto ini rata-rata dipicu laju kendaraan yang terlampau tinggi. Hal itu tidak lepas dari kondisi jalan tol baru yang masih mulus dan cenderung sepi. Berdasarkan data yang diterima, tercatat terjadi kecelakaan sebanyak 61 kali dan menelan dua korban jiwa terhitung sejak Januari 2018.

“Kebanyakan mereka mengalami kecelakaan tunggal akibat tidak mampu mengendalikan laju kendaraannya. 95% disebabkan karena pecah ban karena berkendara dengan kecepatan tinggi dan ban tidak kuat menahan panas,” kata Inggal Widya Perdana.

Seringkali kecelakaan terjadi antara pukul 14.00 WIB sampai dengan pukul 15.00 WIB tambahnya. Biasanya di waktu tersebut pengemudi kebanyakan lelah dan mengantuk. Karena itu himbau pengemudi beristirahat di rest area yang sudah disediakan pihak tol terlebih dahulu.

Keberadaan tol Jombang-Mojokerto ini, lanjut Inggal Widya Perdana, diyakini dapat menekan kemacetan saat arus mudik dan balik Lebaran 2018 di wilayah Jawa Timur. Tol ini mempunyai empat lajur lalu lintas di dua arah terpisah. Setiap lajur memiliki lebar 3,6 meter dengan lebar bahu luar 3 meter dan lebar bahu dalam 1,5 kilometer.

Terdapat empat rest area, masing-masing di KM 678 dan KM 695 dari dua arah. Fasilitas di rest area ini juga sudah cukup memadai, seperti tempat parkir kendaraan baik besar dan kecil, kamar mandi pria dan wanita, musala, pujasera, genset, serta security dan cleaning service. aditya eko
Sebelumnya Berikutnya