Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Jogoroto selaku badan di bawah naungan Dinas Pertanian Kabupaten Jombang gencar melakukan regenerasi petani sejak dini.

JOGOROTO – Kabupaten Jombang termasuk dalam wilayah agraris dengan bentang areal persawahan yang sangat luas. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur, Jombang memiliki 48.707 hektare persawahan yang dapat digunakan untuk menghasilkan bahan pangan. Akan tetapi hasil panen petani masih terbilang rendah, tidak bisa mencukupi kebutuhan masyarakat. Sehingga pemerintah masih harus mengimpor kebutuhan pangan dari luar negeri.

Hal itu disebabkan oleh paham yang dianut petani lokal masih sangat konvensional dan bergantung pada bahan kimia. Dampaknya, kesuburan tanah semakin berkurang begitu juga hasil panen tidak mampu didapat secara maksimal.

“Berawal dari latar belakang tersebut, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Jogoroto selaku badan di bawah naungan Dinas Pertanian Kabupaten Jombang gencar melakukan regenerasi petani sejak dini. Mulai dari anak usia dini hingga level mahasiswa diajak untuk menumbuhkan kecintaan terhadap profesi ini. Caranya, dimulai dengan melibatkan peserta didik ataupun anak didik melakukan kegiatan di BPP dan dikenalkan mengenai segala rupa benda-benda yang ada. Sedikit demi sedikit dengan sendirinya kecintaan akan tumbuh,” jelas Koordinator BPP Jogoroto, Anasrul Hakim, S.P.




Setelah kecintaan terhadap pertanian sudah muncul, perlahan pengetahuan beserta perkembangan ilmu pertanian pun diberikan. Begitu juga hal penunjang lain untuk mematahkan paham petani konvensional dalam menggunakan bahan kimia yang mengakar dan menjadi kebiasaan sejak dahulu. Secara langsung berdampak pada jumlah hasil panen serta pengeluaran petani. 

Ketika menggunakan bahan kimia, petani mendapatkannya dengan harga cukup mahal ketimbang organik yang lebih alami. Hasil panennya pun masih jauh lebih banyak ketika menggunakan bahan organik. Efeknya petani kian merugi. Pengeluaran sejak hulu sampai hilir di masa panen memerlukan biaya besar, sedangkan penjualannya tidak sebanding.

Laki-laki berkacamata tersebut menambahkan, “Karena itu, BPP akan terus bergerak melakukan regenerasi petani muda yang bisa mengubah paradigma petani konvensional supaya lebih produktif. Terpenting adalah menghilangkan kesan bahwa menjadi petani itu susah tetapi justru semakin mudah dan menjanjikan.”


Selain program regenerasi, tambah salah satu mitra BPP Jogoroto, Ir. Arif Wibowo, BPP Jogoroto mempunyai satu agenda yang bisa menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat, yakni penanaman sirih merah di pekarangan rumah, memanfaatkan lahan tersebut warga Jombang sudah bisa memanen dan menjualnya kepada mitra BPP yang nantinya akan mengolah sirih merah menjadi minyak atsiri. Perawatannya juga sangat mudah, setelah ditanam sirih merah akan tumbuh dengan sendirinya tanpa penanganan khusus.

Berkat program tersebut, di tahun 2018 ini BPP Jogoroto terpilih menjadi yang terbaik Se-Jawa Timur dan langsung menjalani penilaian lanjutan mewakili provinsi di tingkat nasional. Agar semua kegiatan semakin berkembang, poin selanjutnya adalah menjalin senergitas seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) untuk memberikan dukungan, agar semua proses bisa bejalan secara berkelanjutan. fakhruddin
Sebelumnya Berikutnya