Menangkal radikalisme dapat melalui deradikalisasi atau tindakan preventif kontraterorisme atau stratregi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan sedari awal.

JOMBANG, MSP — Rentetan bom yang meledak di tiga gereja di Surabaya pada Minggu (13/5) pagi, disusul dengan ledakan di Rusunawa Wonocolo Sidoarjo pada Minggu malam dan di Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya pada Senin (14/5) pagi mengusik ketenangan warga Indonesia. Masyarakat kembali dihantui akan aksi teror yang diyakini berawal karena pelaku menganut radikalisme.

Menurut Ketua Forum Musyawarah Guru dan Mata Pelajaran (FMGMP) Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Kabupaten Jombang, Samsul HS, S.Pd, M.Pd, menyatakan bahwa untuk menangkal semakin meluasnya radikalisme dapat melalui deradikalisasi atau tindakan preventif kontraterorisme atau stratregi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan sedari awal. Caranya melalui proses pendidikan dan pembelajaran yang terintegrasi dengan setiap mata pelajaran.

“PKn masih menjadi salah satu sarana yang tepat untuk memberikan dasar kepada peserta didik utamanya dalam pemberian dasar ideologi pancasila, kebangsaan atau nasionalisme untuk menangkal radikalisme. Kesadaran akan hak dan kewajiban seorang warga negara harus mulai dibangun melalui PKn, disamping itu pemasukan kembali nilai-nilai filosofis Pancasila yang relevan sekaligus menjadi filter atas nilai-nilai sosial yang tumbuh dan berkembang yang asalnya dari kebudayaan negara lain yang masuk ke Indonesia,” tutur Samsul HS.

Guru yang sehari-hari bertugas di SMP Negeri 1 Wonosalam ini meyakini bahwa Pancasila masih sangat relevan dijadikan sebagai dasar hukum, dasar negara dan pedoman hidup bagi masyarakat Indonesia. Hanya saja gaya penyampaiannya kepada anak sudah tidak bisa lagi melalui gaya klasikal dimana anak hanya diberikan definisi dan serta diinsitruksikan untuk menghafalkan teks. Melainkan harus melalui penyontohan yang realistis.

“Konten mengajar PKn sekarang harus lebih kontekstual. Membahas permasalahan yang sedang berkembang di masa sekarang kemudian dirujukkan kembali kepada nilai-nilai dan falsafah Pancasila. Misalnya kita bersama-sama menyaksikan video studi kasus tentang seorang peserta didik yang tiba-tiba sakit, teman sebaya di kelas yang menonton kemudian diberikan stimulus pertanyaan apa yang harus dilakukan jika mereka bertemu dengan anak tersebut. Dari beragam jawaban itu akan diketahui sejauh mana pemahaman akan konsep saling membantu. Berikutnya guru memberikan penekanan dan pemahaman yang lebih mendalam,” jelas Samsul.

Lebih lanjut, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kabupaten Jombang menambahkan, pemahaman peserta didik mengenai ideologi dan pembentukan karakter dirinya merupakan sebuah proses mulai merangkai konsep, pemahaman, hingga pengaplikasian. Di tengah proses pun juga tidak lepas dari pemberian contoh oleh guru, orang tua, atau figur berpengaruh lain. Karena dibanding hanya dorongan dan himbauan, pemberian contoh konkret jauh memberikan dampak. Misalnya diwujudkan pelaksanakan upacara bendera setiap hari Senin untuk menggaungkan rasa cinta tanah air, budaya bersalaman saat datang pagi ke sekolah, mendengarkan lagu nasional sebelum pelajaran dimulai.

“Dalam membangun karakteristik sumber daya manusia yang unggul, harus membangun secara terintegrasi terhadap revitalisasi pendidikan pancasila dan agama,” tegas Samsul HS.

Sementara itu, jika ditinjau dari sudut pandang keagamaan menurut Ketua FMGMP Pendidikan Agama Islam (PAI) Kabupaten Jombang, Drs. Ahmad Suud, M.Pd.I adalah keharusan dalam terlebih dahulu meletakkan dasar yang kuat tentang akidah yang dianut. Jika penguatan dasar akidah telah dilakukan, peserta didik dapat mulai dikenalkan dengan pengetahuan tentang nilai-nilai lain yang lebih luas dan sedang berkembang di Indonesia dengan bimbingan dari guru. Lagi-lagi peran guru dalam memberikan arahan serta teladan dalam penguatan dasar akidah anak sangatlah diperlukan.

“Secara khusus, materi pelajaran mengenai melawan radikalisme belum ada. Hanya saja secara implisit telah disampaikan dalam materi toleransi yang ada di kelas IX. Di materi itu juga dijelaskan bahwa Islam sangat memperhatikan mengenai toleransi antar umat beragama. Islam sangat menghargai perbedaan termasuk perbedaan beragama,” ungkap Ahmad Suud.

Ditambahkan pria yang sehari-hari mengajar di SMP Negeri 3 Peterongan ini, pemahaman toleransi tidak hanya sebatas pada pemberian materi di kelas, melainkan menerapkan secara nyata dengan tindakan bersosial. Saat proses pembelajaran, peserta didik dikelompokkan secara acak, tidak memperhatikan latar belakang, suku, warna kulit, atau yang lain. Dengan demikian peserta didik akan mampu beradaptasi dengan lingkungan secara umum.

Sifat dan sikap saling menghormati juga menjadi hal utama yang ditekankan, maka pendidikan karakter di sekolah seyogianya menerapkan konsep 5S yakni senyum, sapa, salam, sopan, dan santun agar peserta didik memiliki sikap berbudi luhur. Konsep ini juga harus dilakukan dalam semua kegiatan tidak hanya sebatas dalam proses pendidikan PAI.

“Pada dasarnya usia peserta didik di jenjang SMP ini masih perlu banyak arahan dengan strategi tarik ulur dalam menanamkan nilai sikap dan pengertian nilai moral. Karena dilihat pada hasilnya yang akan berdampak kedepannya dalam hidup sosial pada enam tahun mendatang,” jelas Ahmad Suud.

Pemaksimalan Mulok Keagamaan

Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang sebagai institusi utama yang bertanggung jawab akan penyelenggaraan pendidikan di Kabupaten Jombang tentunya memiliki tugas berat dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang unggul serta terbebas dari kontaminasi paham membahayakan keutuhan bangsa. Ditambah dengan ancaman yang datang di era digital sehingga sangat luas cakupannya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, drg. Budi Nugroho, MPPM mengakui bahwa penangkalan radikalisme menjadi tanggung jawab yang paling menantang. Bagaimana menanamkan kepada peserta didik agar benar-benar paham hingga menjadi keyakinan bahwa radikalisme adalah musuh bagi diri sendiri, masyarakat, dan negara.

“Sekolah merupakan pintu masuk yang sering kali menjadi sorotan utama dari sisi karakter, sehingga dinas pendidikan dan lembaga sekolah berperan penting. Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang sudah menerapkan Muatan Lokal (Mulok) Keagamaan dengan acuan buku mulok keagamaan yang disusun oleh Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) Kabupaten Jombang sebagai salah satu upaya untuk menangkal radikalisme,” ungkap Budi Nugroho.

Budi Nugroho menambahkan, pelaksanaan Mulok Keagamaan harus semakin dimaksimalkan dengan memberikan pengajaran agama yang sesuai dan tidak menyimpang. Konsep mengasihi, saling toleransi, dan tidak menyakiti sesama yang diajarkan oleh setiap agama juga perlu untuk ditekankan. Sehingga pemilihan guru mulok keagamaan harus memperhatikan kualitas dari sumber daya manusia, sarana prasarana melalui kemantapan sekolah dalam penajaman pendidikan agama yang sudah menjadi tuntutan dunia pendidikan.

Dari semua jenjang pendidikan, pendidikan dasar adalah jenjang pendidikan yang memiliki tantangan paling berat. Karena pada pendidikan dasar, peletakan dasar pemahaman dan nilai pada anak dilakukan. Jika dasar telah dibangun dengan kuat maka ketika beranjak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi tidak akan mudah terpengaruh.

Keberhasilan pendidikan juga dapat dilihat dari acuan raport perilaku peserta didik selama dua semester. Bahwa implementasi dari hasil pendidikan karakter berpengaruh terhadap perubahan sikap peserta didik untuk santun serta sopan dengan semua lapisan masyarakat. Guru PKn dan PAI memiliki peran besar dalam menentukan dan memberikan nilai perilaku terhadap peserta didiknya. Sehingga sekolah semakin teliti dan awas terhadap perilaku peserta didiknya, karena menjadi tolak ukur serta standar kelulusan peserta didik guna memenuhi syarat naik kelas.

Jika peserta didik tersebut pintar dalam mata pelajaran pengetahuan umum namun memiliki kekurangan di penilaian perilaku yang dilihat dari kaca mata akumulasi para guru, seketika peserta didik dinyatakan tidak naik kelas atau urung lulus. Sehingga sekolah bersama dengan guru PKn dan PAI berkolaborasi melakukan pembinaan untuk menangkal permasalahan dari peserta didik tersebut dengan menghadirkan orang tua wali peserta didik dan pihaknya.

“Pada dasarnya tidak ada peserta didik yang sangat unggul dalam akademik, perlu disadari bahwa peserta didik memiliki kemampuan dan kelebihan unik dengan metode realisasi yang berbeda-beda. Sehingga sangat mudah jika merubah peserta didik yang demikian untuk menjadi sangat paham tentang akademik. Menjadi pekerjaan rumah jika peserta didik sulit dalam menerima pembelajaran perilaku baik terhadap lingkungan sosialnya,” ujar Samsul HS.

Terakhir, orang nomor satu di Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang menambahkan, “Perkembangan teknologi yang semakin canggih, memberikan ruang gerak bertambah luas dalam hidup bersosial. Kemudian bagaimana cara mengarahkan anak agar memiliki tempat yang tepat untuk kehidupan sosial. Hal ini akan lebih baik lagi dari bagaimana pemanfaatan teknologi sesuai dengan porsi keperluannya. Maka komunikasi dengan orang tua sangat perlu sehingga kontrol lebih mudah jika anak selalu mengatakan apapun keluhannya.” chicilia risca / fitrotul aini.
Sebelumnya Berikutnya