Higher order thinking pertama kali dikemukakan oleh seorang penulis sekaligus assosiate professor dari Dusquance University bernama Susan M Brookhart dalam bukunya, 'How to Assess Higher-order Thinking Skills in Your Classroom' (2010). Dia mendefinisikan model ini sebagai metode untuk transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan memecahkan masalah.

Hasil Ujian Nasional (UN) 2018 telah diumumkan. Secara umum, rata-rata UN untuk tingkat SMP/MTs mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Salah satu alasannya adalah karena meningkatnya persentase soal dengan standar HOTS (Higher Order Thinking Skill).

Higher order thinking pertama kali dikemukakan oleh seorang penulis sekaligus assosiate professor dari Dusquance University bernama Susan M Brookhart dalam bukunya, 'How to Assess Higher-order Thinking Skills in Your Classroom' (2010). Dia mendefinisikan model ini sebagai metode untuk transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan memecahkan masalah.

Merujuk pada jurnal berjudul 'Higher Order Thinking Skills' karya FJ King PhD, Ludwika Goodson PhD, dan Faranak Rohani PhD di Center for Advancement of Learning and Assessment, HOTS merupakan perpaduan empat hal, yakni kemampuan memecahkan masalah, berpikir kritis dan kreatif, berargumen, serta mengambil keputusan.

Fasilitator Daerah (Fasda) Program USAID PRIORITAS Kabupaten Jombang, “Ahmad Taufik, M.Pd mengatakan, “HOTS mengajarkan pada peserta didik bahwa proses belajar tidak hanya mengulang-ulang materi dengan konsep definitif saja, melainkan hingga dalam tahap mampu untuk mentransfer materi dari satu konteks ke konteks lainnya, memproses dan menerapkan informasi, melihat keterkaitan beragam informasi kemudian menggunakannya untuk menyelesaikan masalah secara kritis melalui kajian atau telaah ide.”

Ia menambahkan HOTS menunjukkan pemahaman akan informasi yang bernalar daripada sekedar mengingat kembali. Pertanyaan yang bersifat higher-order thinking tidak selalu harus sulit. Seperti misalnya mampu menyebutkan tanda-tanda terjadinya gempa tektonik, hal ini bisa saja dirasa sulit karena pada sebelumnya belum pernah mendapatkan informasi. Namun pertanyaan semacam itu bukanlah HOTS, kecuali jika selanjutnya turut melibatkan proses penalaran seperti langkah mengenai bagaimana langkah menyelamatkan diri dari gempa tektonik saat posisi di dalam rumah.

Keterampilan mental ini awalnya ditentukan berdasarkan Taksonomi Bloom yang mengkategorikan berbagai tingkat pemikiran yang bersifat lower order hingga higher order. Tingkatan keterampilan berpikir yang dibagi tersebut merupakan bagian dari salah satu ranah yang dikemukakan Bloom, yaitu ranah kognitif.

Tingkatan level ranah kognitif merupakan tingkat kemampuan peserta didik secara individual maupun kelompok yang dapat dijabarkan dalam enam level kognitif. Level 1 menunjukkan tingkat kemampuan yang rendah yakni mengingat (remember), level 2 menunjukkan tingkat kemampuan yang lebih tinggi yakni mengerti (understand), dan level 3 menunjukkan tingkat kemampuan menerapkan (apply). Level 4 menunjukkan tingkat kemampuan menganalisis (analyse) yakni memecah-mecah materi jadi bagian-bagian penyusunnya dan menentukan hubungan-hubungan antarbagian itu dan hubungan antara bagian-bagian tersebut dan keseluruhan struktur atau tujuan. Level 5 menunjukkan tingkat kemampuan mengevaluasi (evaluate) yakni mengambil keputusan berdasarkan kriteria dan atau standar. Level 6 menunjukkan tingkat kemampuan mencipta (create) yakni memadukan bagian-bagian untuk membentuk sesuatu yang baru dan koheren atau untuk membuat suatu produk yang orisinal. Sehingga secara sederhana, sesuai konsep Taksonomi Bloom, tingkat level 1 hingga 3 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tingkat rendah (lower order/LOTS). Sedangkan tingkat level 4 sampai 6 dikategorikan sebagai kemampuan berpikir tinggi (HOTS).

Sebelum menerapkan HOTS pada peserta didik, guru harus terlebih dahulu memahami konsep HOTS. Menurut Ketua FMGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Jombang, Dra. Nanik Masriyah saat ditemui di SMP Negeri Kudu, guru harus memiliki rasa percaya diri kuat serta niat gigih untuk mendiskripsikan materi ke soal HOTS. Meski harus diakui tidak seluruh guru mampu untuk melasanakannya.

“Guru wajib optimis dengan tidak mengeluh kurang mampu melaksanakan penerapan soal HOTS. Sebenarnya solusi yang bisa ditawarkan selain melakukan bimbingan dan pendidikan kilat (diklat) mengenai HOTS adalah ubah dulu pemikiran negatif dari seorang guru agar mampu menjawab tantangan pendidikan masa kini, serta sentuh kalbu setiap hati guru maka pengembangan dari soal HOTS mampu dikuasai oleh guru di berbagai daerah dan usia,” terang Nanik Masriyah.

Nanik juga berharap juga ada pembekalan cara untuk mengimbaskan karena guru belum tentu mampu secara menyeluruh. Harus mempunyai strategi yang bagus, metode yang inovatif, paham semua kompetensi dasar (KD) dalam pembelajaran sehingga dapat memilih KD mana saja yang dapat diaplikasikan ke pembelajaran soal HOTS karena jika dilakukan secara keseluruhan tidak akan cukup waktu.

Dalam penerapan soal HOTS diperlukan sebuah sistem yang kreatif dalam penerapannya di kelas dengan siklus yang merata dan guru perlu mengevaluasi tanpa perlu menyalahkan peserta didik dari hasil ujian. Pada kenyataannya penyerapan dari peserta didik (input) setiap sekolah tidak sama. Begitu halnya dengan lingkungan sekolah wilayah kota dan perbatasan atau pelosok.

Sementara dalam tataran menulis dan membuat soal HOTS, guru bisa pilih materi yang sesuai dengan indikator soal, periksa materi apakah bermanfaat, mampu merefleksikan kurikulum, menarik, relevan serta cocok, kemudian apakah pertanyaan penting yang dapat diidentifikasi dari stimulus. Dari stimulus yang ada, soal dikembangkan ke arah melakukan analisis, sintesis dan evaluasi.

Peran Penting Literasi
Sementara itu, Menurut Ketua FMGMP Matematika Kabupaten Jombang, Edy Purnomo, S.Pd., menyebutkan, “Kesiapan peserta didik dalam menghadapi UN 2019 perlu dimaksimalkan. Karena persentase soal HOTS kemungkinan akan ditambah. Namun alih-alih hanya mempersiapkan peserta didik yang akan mengikuti UN, peserta didik kelas VII dan VIII juga harus mulai dikenalkan, dipersiapkan dan dibiasakan menghadapi pola pembelajaran dan soal-soal HOTS baik melalui proses keseharian (pembelajaran), ulangan harian, semester dan kenaikan kelas.”

Pria yang menjabat 2 periode sebagai Ketua FMGMP Matematika Kabupaten Jombang ini mengatakan bahwa peserta didik saat ini cenderung untuk berfikir cepat saji dengan langsung mendapatkan jawaban akhir dari rangkaian soal. Selain itu, peserta didik memiliki konsentrasi dalam kelas hanya 15 menit pertama selebihnya akan memaksakan akhirnya menjadi kelelahan. Untuk menghindarinya, dapat diterapkan model pembelajaran kelompok atau diskusi.

Melalui kelompok atau diskusi aspek kognitif, efektif dan psikomotor, dimana kegiatan pembelajaran didesain dengan kolaboratif untuk melatih kerjasama, kemampuan komunikasi, berpendapat serta kemampuan mengendalikan emosi dalam diskusi agar sekaligus menanamkan pendidikan karakter dan literasi. Literasi ini juga digunakan untuk mengarahkan peserta didik dan guru untuk mengulas semua pengetahuan serta materi KD dengan membaca terlebih dahulu pengantarnya di buku penunjang pembelajaran.

Ahmad Taufik menambahkan, “HOTS selain untuk mengukur kemampuan berfikir tingkat tinggi, ia juga berbasis pada permasalahan kontekstual (kondisi dan lingkungan apa adanya), dikaitkan dengan permasalahan atau topik-topik menarik yang sedang banyak dibahas, serta tidak rutin (insidental). Sehingga literasi memegang peran penting dalam penerapan HOTS. Kepekaan terhadap topik yang menarik, kontekstual, dan insidental sangat diperlukan dan bisa didapatkan dari berliterasi pada semua sumber informasi.”

Secara sederhana literasi yang dimaksudkan adalah kemampuan peserta didik dalam urusan membaca buku dan mendapatkan informasi. Namun untuk dapat mendapatkan penerapan HOTS yang maksimal, kemampuan literasi terhadap semua sumber informasi wajib untuk dikuasai. Sehingga selain dari buku, sumber literasi bisa berasal dari artikel-artikel yang ada di internet, berita-berita di media cetak serta elektronik, ceramah atau cerita-cerita dari orang lain, bahkan wawancara dan observasi pada lingkungan sekitar.

“Karena untuk dapat sampai pada tahapan higher thinking seseorang harus memiliki latar belakang ilmu, pengetahuan, serta informasi yang mumpuni. Sebab itu kemampuan berliterasi memegang penting dalam penerapan HOTS,” tambah Ahmad Taufik.

Namun melihat realita literasi di Indonesia yang menurut hasil survei dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2011 yang menunjukkan indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia yang hanya 0,001 persen dimana jika diartikan hanya ada satu orang dari 1000 penduduk yang masih mau membaca buku secara serius maka diperlukan usaha cukup ekstra untuk bisa mendapatkan hasil HOTS yang maksimal.

“Gerakan literasi yang digalakkan melalui program 15 menit membaca setiap hari masih banyak yang belum dilaksanakan dengan baik. Anak-anak hanya dituntut untuk membaca namun tidak ada kelanjutan apakah hasil dari membaca itu dituangkan dalam sebuah jurnal atau tugas mereview atau yang lainnya,” keluh Ahmad Taufik.

Sehingga untuk melaksanakan seluruh proses tersebut, pria yang sehari-hari mengajar di SMP Negeri 2 Jogototo itu menerapkan teknik TRISA yakni terpaksa, terbiasa dan bisa. Teknik ini diyakininya dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu utamanya sesuatu yang baru.

“Awal memang harus dipaksa, lama kelamaan akan menjadi terbiasa, sehingga akhirnya akan bisa melakukannya. Begitu juga untuk penerapan HOTS dan literasi,” ujar Ahmad Taufik. chicilia risca / fitrotul aini.
Sebelumnya Berikutnya