Kepala sekolah TK Dharma Wanita Desa Sukopinggir, Lilik Solichati, S.Psi kembali turut bersaing dalam ajang Seleksi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Berprestasi Tingkat Kabupaten Jombang Tahun 2018 dan berhasil menjadi yang terbaik pada kategori Kepala Sekolah TK. 

GUDO – Perkembangan pendidikan yang mengikuti perubahan zaman menuntut penyelenggara pendidikan harus mampu melahirkan karakteristik melalui inovasi dan kreatifitas. Bila hanya mengandalkan model konvensional yaitu saat guru sebagai sumber pembelajaran tunggal serta mengendalikan semuanya tanpa memberikan kesempatan anak didik menunjukkan kelebihannya, maka dengan sendirinya akan tergerus seiring perkembangan lembaga pendidikan lain yang tumbuh menyerupai jamur di musim penghujan.

Senyampang itu adanya inovasi dan kreatifitas yang dikolaborasikan dengan keterlibatan aktif anak didik, membuat peluang menemukan keunggulan anak didik semakin besar. Seperti diketahui dari tiap anak didik memiliki karakteristik serta pola belajar berbeda. Ada yang menyukai secara visual, audio, atau kombinasi keduanya audio-visual.

Rupanya strategi tersebut diterapkan di TK Dharma Wanita Desa Sukopinggir, Gudo. Sang kepala sekolah, Lilik Solichati, S.Psi kembali turut bersaing dalam ajang Seleksi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Berprestasi Tingkat Kabupaten Jombang Tahun 2018 dan berhasil menjadi yang terbaik pada kategori Kepala Sekolah TK.

“Hal tersebut saya lakukan sebagai salah satu usaha agar TK Dharma Wanita Desa Sukopinggir bisa tetap mendapatkan banyak anak didik,” tutur Lilik Solichati saat ditemui di sekolah.

Mengangkat Best Practice berjudul “MANTRA, Manajemen Citra Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan di TK Dharma Wanita Desa Sukopinggir, Gudo” perempuan yang sudah mengabdi selama 13 tahun di TK yang berlokasi di belakang Kantor Desa Sukopinggir itu menunjukkan berbagai keunggulan yang dimiliki serta usaha-usaha yang ia lakukan sebagai seorang kepala sekolah.

“Disini jam masuknya lebih pagi dibanding TK yang lain, jam 06.40 sudah masuk. Pertimbangannya berangkat dari asumsi yang ada di masyarakat bahwasanya jika kita memulai kegiatan pagi-pagi itu berarti akas (semangat). Dari jam masuk ini kami kembangkan dalam hal lain juga dengan mendorong ketertiban dan kedisiplinan,” ungkap Lilik Solichati.

Selain ketertiban dan kedisiplinan, kesungguhan, perempuan 48 tahun itu menambahkan bahwa di TK kesungguhan dalam mendidik serta mengasuh anak didik juga merupakan poin yang harus ditumbukan oleh guru, kesejahteraan bagi guru yang harus selalu diperhatikan, serta dorongan untuk selalu bisa menjadi teladan yang baik di sekolah maupun masyarakat.

Menyinggung pengalamannya mengikuti Seleksi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Berprestasi 2018, nyatanya seleksi kali ini bukanlah pengalaman pertama bagi perempuan berhijab itu. Ia mengisahkan bahwa pengalaman pertamanya mengikuti Seleksi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Berprestasi ada di tahun 2008. Lantas pada tahun 2016 lalu, ia juga sudah pernah menjadi yang terbaik di Kabupaten Jombang dan berhak mengikuti seleksi ke tingkat provinsi.

“Sehingga ya biasa-bisa saja ketika mempersiapkan seleksi kali ini. Bahkan salah satu putra saya justru melarang untuk saya ikut karena memang persyaratan yang harus dipenuhi cukup banyak, khawatir ibunya repot,” ujar ibu dua putra itu sembari terkekeh.

Namun perempuan 48 tahun itu lantas mengingat pengalamannya mengikuti beberapa kali Seleksi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Berprestasi. Seleksi tahun 2018 sedikit mengalami perbedaan dibanding tahun sebelumnya. Perbedaan yang ditemukannya adalah di tahun 2018 ini tidak ada tahapan tes psikologi yang pada seleksi di tahun sebelumnya menjadi tahapan tes ‘menakutkan’ baginya.

Saat ditanya rencana kedepannya terkait seleksi jenjang berikutnya, Lilik Solichati mengaku belum menyiapkan rencana apapun.

“Saya berharap dalam pembinaan yang dilakukan oleh tim Seleksi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Berprestasi kabupaten mendatang, tim menambah bobot materi serta memasukkan materi mengenai Bahasa Inggris. Pengalaman yang sebelumnya, soal-soal di seleksi tingkat provinsi jauh lebih sulit dan kami lemah di Bahasa Inggris,” harap Lilik Solichati. fitrotul aini.
Sebelumnya Berikutnya