Bermodal hasil jual peralatan cuci mobil, Hendra berkeinginan membuat persewaan perlengkapan pesta dengan modal tersebut. Akhirnya mampu memiliki lima tenda berukuran 6x6 meter beserta 100 kursi.

JOMBANG – Lebih kurang tujuh tahun yang lalu, Hendra Budi Rachmanto memutuskan untuk meninggalkan karirnya sebagai kepala cabang di suatu perusahan leasing di Jombang demi menekuni bisnis persewaan perlengkapan pesta. Dia bertekat melanjutkan usaha sang ayah yang sudah berjalan puluhan tahun dengan nama ‘Bima Sakti’ beralamatkan di Jalan Meyjen Sungkono 176 Dusun Dayu, Desa Tunggorono.

Laki-laki yang kerap di sapa Hendra itu mengungkapkan usaha yang ditekuni sekarang ini merupakan usaha rintisan dirinya sejak 2005 silam. Tetapi karena ada sesuatu hal maka usaha persewaan perlengkapan miliknya di kelola sang ayah dan dia beralih kepekerjaan lain.

“2004 saya membuka cuci mobil. Berjalan satu tahun usaha tersebut saya tutup, bukan karena rugi tetapi hasilnya tidak sebanding dengan kerjanya. Akhirnya peralatan cuci mobil saya jual dan laku sekitar 16 juta rupiah waktu itu,” katanya

Bermodal hasil jual peralatan cuci mobil, Hendra berkeinginan membuat persewaan perlengkapan pesta dengan modal tersebut. Akhirnya mampu memiliki lima tenda berukuran 6x6 meter beserta 100 kursi. Namun usaha tenda tersebut tidak segampang yang dia kira, hampir beberapa bulan peralatannya tidak terpakai alias medak (Jawa: Menganggur).

Berjalannya waktu usaha persewaannya memiliki beberapa pelanggan dan mulai berkembang sehingga mampu menambah tenda menjadi 10 unit dan 250 kursi. Tahun kedua, Hendra merasa usaha yang dia gelutinya saat itu kurang menjanjikan. Sempat terbesit dipikirannya bahwa akan menjual semua peralatan tendanya tersebut. Namun dari pihak orang tua melarang untuk menjualnya dan meminta Hendra bekerja di tempat lain.



“Persewaan ini dipegang oleh bapak dan saya kerja di salah satu perusahaan leasing. Setelah beberapa tahun berjalan, akhirnya saya memutuskan kembali untuk meneruskan usaha persewaan tenda ini. Karena waktu itu bapak juga semakin bertambah usianya, sayang jika harus ditinggalkan,” kata Hendra ketika ditemui di kediamannya.

Awal karirnya naik daun adalah ketika Hendra menerima order pertama kali dari salah satu dokter di Jombang. Baginya, ini adalah job besar yang belum pernah dia tangani sebelumnya. Laki-laki hobi otomotif tersebut bertekat acara tersebut harus sukses dengan konsep baru yang belum pernah ada di Jombang selama ini.

“Alhamdulillah sukses dengan konsep yang saya tuangkan. Meski pada waktu itu tidak memakai alat persewaan saya sendiri melainkan memakai vendor dari Malang. Barulah setelah itu banyak orang yang mencari saya untuk menggunakan jasa persewaan tenda milik saya,” terangnya.

Berjalan empat tahun usahanya semakin membaik dan bahkan dapat dibilang sukses. Bagaimana tidak dari jumlah alat semula, kini bertambah menjadi 90 tenda, 2000 kursi dan 12 karyawan. Melejitnya usaha Hendra tidak kurang dari manajemen yang baik dan berbeda dari jasa persewaan tenda yang lain.

“Sebelum sewa, saya harus berdikusi dengan konsumen mengenai konsep seperti apa yang dikehendaki dan sesuai dengan kondisi di lokasi. Bahkan juga bisa satu harian penuh membahas konsep tersebut dan itu tidak bayar, mereka hanya sewa alatnya saja,” ujar Hendra.

Namun terkadang, tambah mahasiswa lulusan Institut Teknologi Adhi Tama (ITAT) Surabaya itu, beberapa konsumen nakal juga terkadang hanya sharing konsep saja tetapi sewa alatnya di tempat lain. Hendra tidak mengeluh soal hal tersebut, karena baginya rezeki tidak dapat dipaksa dan sudah ada yang mengatur.

Sekarang ini, dalam sehari dia paling tidak bisa menangani penyewaan di 2-4 lokasi dengan luas tenda minimal 36 meter persegi. Tiap meter persegi tendanya dibanderol tarif sewa 130 ribu rupiah. Walau membuat standar harga, Hendra mengaku pada sistem bisnis sewa tenda harga yang dikenakan ke konsumen tidak selalu bisa sama. Pelanggan sering menawar harga dan dia pun memberi promo disesuaikan dengan budget calon konsumen.

“Omset kotor yang bisa didapat per bulan 80 juta rupiah sampai dengan 90 juta rupiah. Tetapi itu masih belum di potong dengan upah karyawan dan perawatan alat. Perputaran uang dalam bisnis penyewaan tenda memang cukup besar namun modal yang diperlukan juga tidak sedikit,” jelas Hendra.

Supaya tidak kalah dengan persewaan tenda lain, Hendra selalu membuat model baru setiap 6 bulan sekali. Dirinya juga selalu menjaga kebersihan kain tendanya, pasalnya Hendra tidak pernah menggunakan kain yang sama meski dalam sehari ada beberapa orderan. Dia selalu mencucinya terlebih dahulu sebelum memasangnya.

Disinggung mengenai penambahan alatnya, Hendra mengaku tidak ingin menambahkan alat persewaannya lagi. Menurutnya jika alatnya semakin banyak dirinya akan takut kualitasnya menurun karena banyak yang ditangani dan tidak fokus. aditya eko
Sebelumnya Berikutnya