Husnul Khotimah*)

Teruntuk : Zahra Syifa’ussauqi

Menangis atas sepucuk rindu. Kaulah jelitaku. Kaulah rinduku. Menanti di balik tembok suci. Aku akan datang padamu. Allah akan memberi jalan pada kita. Semoga rasa ini, rasa kita. Di ridhoi-Nya wahai rinduku.

Baru membaca sebagian isi surat dari ustadznya, senyum manis Zahra mulai terlukis. Ingin rasanya ia terbang menembus langit ke tujuh bersama burung dan kupu-kupu. Ia melanjutkan kembali membaca potongan surat itu.

Dik Zahra...

Aku merindumu, sangat rindu. Hanya kaulah syifa’ussauqiku. Namun, apa daya diriku, selain menantimu. Yakinlah Allah selalu melindungi kita. Bersabarlah menunggu kesempatan itu. Percayalah hanya kau bunga penawar rinduku.

Muhammad Khoirul Haqiqi

Di atas kasur Zahra menari-nari riang setelah membaca surat pemberian ustadznya. Aini saudara ustadz Haqiqi hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu. Sesekali Zahra memutar-mutar bola matanya membayangkan sesuatu. Sesuatu yang membuat hati senang.

Setelah tenggelam dalam bayangan fana, dengan cepat ia meraih bolpoin di atas lemarinya beserta kertas yang belum tertuang tinta. Ia menggerak-gerakan bolpoin itu dengan penuh penghayatan. Tersenyum tanpa sebab. Ya, mungkin ini yang namanya cinta. Setelah selesai, ia berjalan ke arah Aini sambil menyodorkan amplop merah jambu yang telah di rangkainya. Aini hanya mengangguk sembari tersenyum senang begitu juga dengan Zahra.

***

Teruntuk: Muhammad Khoirul Haqiqi

Begitu juga dengan diriku di sini mas Haqiqi. Sungguh aku merindumu. Kala malam datang aku hanya bisa menangis. Menangis senang atas sebuah nikmat yang telah di anugrahkan-Nya. Sungguh besar kuasa-Nya menciptakan rasa ini dalam jiwa anak Adam dan Hawa. Yakinlah mas atas hati ini. Akupun akan duduk manis menunggu kesempatan itu datang. Di tanah ini, di pesantren ini. Maslah sang Zahratul Qolbiku. Aku akan bersabar. semoga Allah meridhoi rasa kita.

Zahra Syifa’ussauqi

Di luar pesantren Al-Ma’ruf ustadz Haqiqi tersenyum sambil memeluk balasan surat dari Zahra. Pesantren tampak sepi. Jarang sekali santri terlihat. Seseorang keluar dari dalam kantor berjalan ke arahnya.

“Hmm, sampai kapan kamu seperti ini?” senyuman ustadz Haqiqi menjadi pudar setelah tahu sahabatnya ustadz Alfis berada di belakangnya.

“Eh kamu. Aku pun tak tahu. Insya Allah setelah kelulusan nanti aku akan melamarnya. Dialah penawar rinduku.”

“Itulah lelaki sejati, ya sudah aku tinggal ke mushola dulu. Semoga Allah memberikan jalan untukmu sahabatku.”

“Amiin...” ucap ustadz Haqiqi sembari tersenyum.

Ustadz Alfis berjalan menembus angin dalam gelapnya malam. Ustadz Hakiki masih saja tersenyum di bawah pohon rindang. Dan tanpa disadari dari kejauhan sepasang mata mengamatinya di balik tembok. Mata itu sesekali mengeluarkan air mata, menangis, dan menyimpan suatu kebimbangan.

Ustadz Haqiqi kembali ke dalam kantor, mengemasi barang-barangnya dan kembali ke kamar. Sepasang mata itu masih saja mengamatinya. Namun, ia segera menghapus air matanya dan mengambil Al-Qur’an di dalam rak, kemudian membacanya sebagai penenang hati dan jiwa.

***

Waktu telah berjalan dengan lembutnya. Suara ustadz Alfis sudah terdengar dari mikrofon. Memerintah semua santriwan dan santriwati untuk melihat pengumuman hasil kelulusan. Tidak mau kalah dengan yang lainnya Zahra mempercepat langkah menuju papan pengumuman. Hatinya berdegup kencang, tidak sabar untuk melihat hasilnya.

“Alhamdullillah.” ucapnya dalam keramaian yang bercampur aduk rasa syukur dan sorak-sorai para santri.

Tenggelam dalam tawa, bersenandung dalam nada. Melukis kenangan sebelum perpisahan tiba. Tanpa disadari dari kejauhan di tengah pintu kantor ustadz Haqiqi memperhatikan mereka dengan senyum penuh arti. Di saat Zahra menyadari akan adanya tatapan itu, ia hanya tersenyum tertunduk malu. Aini yang berada di sampingnya pun ikut tersenyum, sambil memegang erat tangan Zahra dan sesekali menggodanya.

Sepasang mata itu lagi-lagi mengamatinya. Namun, kali ini yang diamatinya dua insan dalam satu keadaan. Sungguh hatinya semakin menggebu-gebu. Hatinya terus memohon petunjuk, tak sanggup dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi inilah kenyataan itu.

***


Ustadz Haqiqi mengemasi barang-barangnya. Ia akan segera pulang ke kampung halaman dan meluruskan niat untuk menjalankan sunah rasul. Dalam benaknya sudah terbayang-bayang wajah bunga penawar rindunya. Dik Zahra tenanglah, mas akan menepati janji mas untuk melamarmu. Mengikuti sunnah rasullullah dan mencari ridha Allah, katanya dalam hati dengan mantap. Ia kembali merapikan semuanya. Tok...tok...tok...”Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam, masuk.”

“Bagaimana kamu sudah siap?” kata ustadz Alfis sembari tersenyum.

“Beres bos.”

“Ya sudah mari aku bantu.”

Mereka berjalan menuruni tangga. Dari kejauhan ustadz Alfis melambai-lambaikan tangannya. Sepasang mata itu dari kejauhan melihat kepergian ustadz Haqiqi dengan amat redup. Kebimbangan terus menyelimuti. Ingin rasanya menangis. Hatinya hancur berkeping-keping. Bagaimana mungkin menyatukan keadaan yang sebentar lagi akan terpecah. Ustadz Alfis masih terus melambaikan tangannya hingga sosok ustadz Haqiqi tak terlihat. Ia melukiskan senyumnya dan kembali ke dalam pondok.

***

Ya nabi salam a’laika, ya rasul salam a’laika, ya habib salam a’laika, sholawatullah a’laika. Lantunan Qosidah pengiring pengantin terdengar indah menghiasi suasana. Dua insan di atas pelaminan tertunduk malu dan terharu. Sesekali sang gadis mengeluarkan air matanya, namun cepat-cepat ia menghapusnya. Sang pria pun hanya menangis dalam hati menahan semuanya dan bersikap tenang.

Para tamu undangan mulai menaiki pelaminan dan bersalaman diiringi dengan sholawat-sholawat khas pesantren Al-Ma’ruf. Kedua mempelai beserta orang tua masing-masing bersiap-siap menyambut para tamu undangan. Satu persatu tamu undangan mengucapkan selamat dengan penuh suka cita.

“Selamat ya Alfis, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.”

“Amin. Terimakasih Om atas kehadirannya.”

Disela-sela para tamu undangan yang bersalaman sang gadis terkejut begitu tahu sosok yang di hadapannya sekarang adalah sosok yang selama ini disayanginya.

“Sahabatku selamat ya, jaga Dik Zahra, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah.”

“Amin. Maafkan aku sahabatku.”

“Ssst, sudahlah tak apa, jangan difikirkan lagi, ok.”

“Terimakasih.”

“Sama-sama.” Balas Haqiqi.

“Dik selamat ya. Semoga ini menjadi lindungan untuk Adik dan Alfis.” Kata Haqiqi dengan gugup sambil menahan air matanya yang akan terjatuh.

Zahra hanya mengangguk pelan sambil menahan air matanya.

Ustadz Haqiqi segera berlalu. Mata sang gadis tidak hentinya memandangi sosok yang pernah mengisi lubuk hatinya. Ustadz Haqiqi, hanya bisa melihat bunga penawar rindunya dari kejauhan. Keduanya saling bertatapan, namun semuanya kembali pudar ketika para tamu undangan berjalan ke sana kemari memenuhi ruangan.

***

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Teruntuk: Zahra Syifaussauqi

Apa kabarmu hari ini? Semoga selalu dalam lindunganNya. Dik Zahra maafkan mas jika saat itu mas hampir merusak perjodohan Adik dengan Alfis yang telah dibina saat Adik masih duduk di kelas satu MA. Mas sangat mengerti kalau saat itu kita benar-benar tidak tahu akan adanya hal itu. Tapi yakinlah Adikku itu semua memang jalan dari Allah. Mungkin saja mas tidak terlalu baik untuk Adik, dan Alfislah sesungguhnya sosok kaum Adam yang akan menuntun Adik dalam naungan-Nya.

Di depan kaca dengan gaun pengantin yang masih dikenakannya Zahra menangis tak kuasa. Ia memeluk erat surat pemberian ustadz Haqiqi di hatinya. Tak berdaya. Sungguh tak berdaya. Dengan air mata yang masih mengalir, Zahra mencoba mengingat kenangan-kenangan bersama seseorang yang pernah mengisi lubuk hatinya. Di saat tersenyum bersama, surat-suratan, dan semua hal-hal indah lainnya. Astagfirullahaladzim. Zahra tersadar bahwa dirinya kini bukanlah milik ustadz Haqiqi. Ia pun mencoba membuang ingatan itu. Mencoba tegar dengan apa yang terjadi. Ia menarik nafas panjang dan meneruskan membaca surat itu.

Adikku janganlah bersedih, syukuri semuanya. Dalam hal ini semua tidak ada yang salah, ini semua sudah takdir. Mas ingin Adik mencoba mencintai Alfis, namun bukan sebagai sosok Zahratul Qolbi, yang dimana bunga hati itu akan hancur dan layu jika waktunya tiba. Tetapi, sebagai sosok yang mampu menuntun dan membimbing Adik menuju jalan Illahi. Walaupun kiamat menderu tuntunan dan bimbingan itu akan mengharum dan berkembang dalam genggaman-Nya.

Yakinlah bahwa berputarnya cinta ini sudah tertulis dalam naungan-Nya.

Muhammad Khoirul Haqiqi

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Uztada Alfis yang sedari tadi mematung di belakang Zahra hanya bisa menatap kekasihnya dari kaca dengan penuh penyesalan.

“Dik Zahra maafkan Mas. Ini salah Mas. Kalau saja saat itu Mas menceritakan ini semua pada kalian dan menolak perjodohan itu semuanya tidak akan seperti ini.”

Zahra menghapus air matanya. Ia mencoba dengan tegar mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut kekasihnya saat ini.

“Dik Zahra, Adik pasti tahu kalau orang tua kita saling kenal, bahkan sangat dekat. Awalnya Mas benar-benar tidak tahu kalau mereka merencanakan hal ini untuk kita. Dan di saat Mas mengetahui hal itu Mas sangat bingung harus melakukan apa. Mas takut untuk menentang keputusan orang tua Mas. Hingga akhirnya Mas hanya bisa pasrah dan menunggu takdir untuk menjawabnya,” tutur Alfis dengan lembut.

Air mata Zahra seakan terasa berkurang setelah mendengar tuturan Alfis. Namun, ia masih tetap menahan mulutnya untuk berbicara. Hingga ia mendengar kata-kata Alfis yang seakan mengusik hatinya.

“Kalau saja detik ini Adik menginginkan kita berpisah Mas siap, Mas sanggup asalkan Adik bahagia.”

“Tidaak...!, hentikan, cukup. Aku tidak ingin kata-kata itu meluncur sekali lagi dari mulutmu Mas,” kata Zahra dengan tiba-tiba yang membuat Alfis kaget dan makin bertanya-tanya.

“Maksud Adik?”

“Mas Alfis, mulai detik ini izinkan aku mencintaimu. Tuntunlah aku dan bimbinglah aku menuju jalan Illahi yang telah dikaruniakan-Nya,” kata Zahra dengan mata berkaca-kaca dan senyum yang tulus.

“Benarkah ucapanmu itu Dik?”

Zahra mengangguk pelan dengan senyum dan air mata yang membasahi pipi.

“Alhamdullillah. Atas izin Allah Mas berjanji akan menjaga, membimbing, dan menuntun Adik menuju jalan-Nya. Aku mencintaimu sayang, semoga semua ini menjadi naungan untuk kita dan orang-orang di sekitar kita.”

Mereka berpelukan dalam iman. Menikmati hembusnya angin malam dengan kebahagiaan.

Jauh di luar sana seseorang mengamatinya, namun hanya di balik jendela berpagar, berhias janur yang masih segar. Sambil memegang undangan yang bertuliskan, Muhammad Alfissyafa’ Dzia’ulhaq & Zahra Syifa’ussauqi. Ia menangis, sama seperti tangisan sang gadis saat di depan kaca. Ia berbalik dan segera pergi dari tempat itu dengan menyimpan rasa sakit yang mendalam.

Sepasang mata yang selama ini hanya bisa memendam rasa dan ketakutan. Mengintai dengan penuh kebimbangan. Kini semuanya telah mengharum atas izin dalam naungan-Nya.

*) Husnul Khotimah, lahir di Blitar 19 Juli 1996. Alamat Penjaringan Jakarta Utara. Sekolah di MA AL-ANWAR Paculgowang Jatirejo Diwek Jombang kelas XI IPA. Sekarang mondok di PPP. Al-Khodijiyyah Paculgowang.
Sebelumnya Berikutnya