“Lambang daerah bukan sekedar simbol untuk megah-megahan dan sekedar formalitas. Namun merupakan pengejawentahan dari sifat, watak, kepribadian, dan cita-cita suatu daerah.” - Mulyono -

JOMBANG – Lambang atau logo yang digunakan sebuah perusahaan, komunitas, maupun suatu daerah selalu mewakili jatidirinya. Oleh karena itu, dalam pembuatannya tidaklah asal. Melainkan dibutuhkan pemahaman agar tepat dalam menginterpretasikannya. Hal itu juga yang dilakukan oleh Mulyono, pensiunan PNS lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang yang membuat logo Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang pada tahun 1971.

Lambang Pemkab Jombang berbentuk perisai yang didalamnya ada gambar Padi dan Kapas, Gerbang Majapahit, Benteng, Balai Agung (Pendopo), Menara dan Bintang, Tangga Lima Tingkat, Gunung, Dua Sungai (Brantas dan Kali Konto) dibawahnya, juga terdapat pita dengan tulisan Kabupaten Djombang.

Mulyono mengatakan, “Lambang daerah bukan sekedar simbol untuk megah-megahan dan sekedar formalitas. Namun merupakan pengejawentahan dari sifat, watak, kepribadian, dan cita-cita suatu daerah.”

Filosofinya padi dan kapas yang berarti wujud kemakmuran. Begitu pula dengan gambar dua sungai, diibaraktakan juga membawa kemakmuran bagi Jombang. Warna merah dan hijau menggambarkan identitas asli Jombang. Idiom Jombang berasal dari kata Ijo (hijau) yang berarti subur, makmur, dan kebaktian kepada Tuhan, sedangkan abang (merah) berarti keberanian, dinamis, dan kritis. Ada juga paduan warna lain seperti biru langit yang berarti cerah serta dapat diartikan kesejahteraan wajah rakyat yang selalu optimis.”

Terdapat pula gambar Pendopo yang di tengahnya ada lambang Masjid dan Bintang, tambahnya Mulyono. Dipilihnya gambar Pendopo karena merupakan simbol rumah masyarakat Jombang dan dipilihnya masjid dengan bintang merupakan simbol toleransi umat beragama.

Gemar Menggambar Sejak Kecil

Cerita Mulyono menciptakan lambang Pemkab Jombang Bupati Ismail. Dahulu ada sayembara dari tim lambang daerah untuk membuat lambang Kabupaten Jombang. Sayembara tersebut bebas untuk umum, baik dari masyarakat sipil, pegawai PNS/non PNS bahkan tidak ada batasan bagi peserta dari Jombang maupun luar Jombang. Akhirnya peserta yang mengikuti sayembara itu cukup banyak. Salah satunya Mulyono karena sejak awal tertarik untuk mengikuti lomba itu lantaran sejak kecil mempunyai bakat menggambar.

“Awalnya saya ingin memberi kenang-kenangan kepada teman kerja di Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang, namun kebetulan pada tahun 1971 ada lomba dari panitia lambang daerah Kabupaten Jombang. Saya optimis mengikuti lomba ini dan mengirim dua karya lambang saya. Salah satunya gambar pendopo dengan kombinasi warna ijo dan abang ini,” ujar laki-laki asal Desa/Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk.

Harapannya menjadi pemenang kandas setelah ada pengumuman bahwa logo hasil karyanya menempati peringkat ke tiga. Desain lambang yang terpilih menjadi juara pertama adalah peserta dari luar Jombang dan hasil karyanya dimintakan persetujuan kepada Kamendagri melalui Gubernur.

Namun usulan persetujuan lambang itu ditolak Keementerian Dalam Negeri (Kemendagri) karena desainnya menyerupai dengan lambang Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang sudah dulu diresmikan. Akhirnya sebagai pengganti, logo pemenang Juara II dan Juara III yang diusulkan ke Kemendagri.

“Alhamdulillah yang disetujui desain saya. Tepat pada 19 Agustus 1971 saya diundang ke Pendopo Jombang untuk meresmikan lambang daerah tersebut. Dulu yang mengundang saya Bupati Ismail, bahkan dihadiri juga Gubernur Jawa Timur Mohammad Noer. Peresmian tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting, mulai dari Ditjen Pemerintahan Umum dan Otoda, dan jajaran kepala SKPD,” tandas Mulyono yang menetap di Jombang sejak tahun 1964.

Sebagai penghargaan atas jasa membuat desain lambang, Mulyono kala itu mendapat hadiah uang sebesar 10 ribu rupiah. Pada zaman dahulu, nominal uang tersebut sudah cukup banyak, bahkan penghasilannya dari lambang tersebut dapat memberangkatkan haji sekeluarga.

“Saya mendapat hadiah juara utama dari tim lambang daerah. Uang tersebut saya kumpulkan untuk pembayaran ibadah haji. Meski belum cukup, namun di bulan-bulan berikutnya saya sering diundang beberapa instansi baik dari Jombang maupun Jawa Timur untuk memaparkan arti lambang daerah tersebut. Dari honor-honor tersebut Alhamdulilah saya kumpulkan hingga mencapai 75 ribu rupiah dan saya gunakan untuk membiayai keluarga saya berangkat haji,” ujarnya bangga. aditya eko
Sebelumnya Berikutnya