Kepala SDN Sumbermulyo I Jogoroto, Abdur Rohman, S.Pd.I menuturkan, “Kegiatan di Jumat Pasaran memang beragam. Contohnya saat Jumat Wage diisi dengan kerja bakti di sekolah, Legi lebih kearah religi laiknya Istigasah, Tahlil, dan Selawat.

JOGOROTO – Pembelajaran tidak sebatas di dalam kelas saja. Bahkan kini pembelajaran dapat dilakukan di luar kelas dengan mengakulturasikan budaya lokal yang berkembang di sekiat lingkungan sekolah. Selain mengembangkan kearifan lokal, tentunya mengenalkan budaya leluhur yang mulai luntur dimakan zaman. Seperti yang dilakukan oleh SDN Sumbermulyo I Jogoroto, mengengbangkan kegiatan pembelajaran non-akademis dengan nama Jumat Pasaran sejak tahun 2015.

Sama halnya namanya maka kegiatan pun beradasarkan kalender Jawa. Oleh karenanya, kegiatan yang dijalankan pun sesuai dengan Pancawarna atau Pasaran di hitungan kalender Jawa yakni Wage, Kliwon, Pon, Pahing dan Legi.

Kepala SDN Sumbermulyo I Jogoroto, Abdur Rohman, S.Pd.I menuturkan, “Kegaiatan di Jumat Pasaran memang beragam. Contohnya saat Jumat Wage diisi dengan kerja bakti di sekolah, Legi lebih kearah religi laiknya Istigasah, Tahlil, dan Selawat. Sedangkan pada Jumat Kliwon jalan sehat di lingkungan sekitar sekolah, Pon atau hari gembira karena kegiatannya adalah senam kreasi bersama. Sementara Pahing melakukan kegiatan literasi membaca di luar kelas.”

Guna memberikan semangat tambahan, di setiap kegiatan pasti dilakukan penilaian oleh guru olahraga yang diberikan tanggung jawab. Nantinya, kelas yang mendapatkan nilai tertinggi memperoleh hadiah tertentu. Walaupun nominal hadiah tidak begitu besar, tetapi mampu menarik minat peserta didik supaya melakukan kegiatan dengan sungguh-sungguh.


Kegiatan tersebut tidak berlangsung selama satu hari penuh, melainkan dibatasi sejak jam pertama hingga pukul 09.00 WIB. Setelah kegiatan berakhir, peserta didik kembali melakukan aktivitas pembelajaran seperti biasa.

Mengenai proses pembiasaan di setiap harinya, kepala sekolah membagi jadwal piket bagi guru untuk menyambut kedatangan peserta didik. Tujuannya agar peserta didik dapat lebih menghormati gurunya sebagai orang tua kedua dan memberikan pendidikan yang tidak diperoleh di rumah.

Laki-laki yang berkediaman di Desa Bandung, Kecamatan Diwek ini menambahkan, “Selain itu pada hari Senin sampai Kamis sebelum memulai pembelajaran, peserta didik diajak membaca surat pendek, melantunkan selawat dan Salat Dhuha berjamaah di masjid sekitar lembaga. Selanjutnya, apabila ada anak yang berkata kotor akan mendapatkan hukuman membaca istighfar sebanyak seratus hingga seribu kali di depan kepala sekolah.”

Di luar kegiatan inti, lembaga yang sudah berdiri sejak tahun 1953 ini juga memiliki sejumlah kegiatan tambahan. Diantaranya adalah pramuka, drumben dan tari. Penyumbang prestasi terbanyak berasal pada kegiatan tari.

Demi mengimplementasikan semua keterampilan yang didapat peserta didik, sekolah rutin menyelenggarakan pentas seni di setiap tahunnya. Selain sebagai ajang pengaplikasian keterampilan, juga sebagai bentuk apresiasi terhadap seluruh peserta didik dengan menampilkan kebolehannya di depan orang tua dan masyarakat sekitar. ■fakhruddin
Sebelumnya Berikutnya