“Terbanyak adalah hasil scan (pemindaian) Lembar Jawaban Komputer (LJK) peserta didik tidak terbaca secara benar dan maksimal. Sehingga ketika data akan diolah, terjadi ketidakcocokan antara master data dengan data yang dimasukkan.” - Drs. Moh. Iskak -

JOMBANG – Peserta didik tingkat akhir saat ini tengah mengalami masa tegang. Lantaran harus menghadapi ujian akhir yang meski sekarang sudah tidak mempengaruhi kelulusan, namun masih menjadi salah satu tahapan yang harus dilalui.

Seperti biasanya, menjelang Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) sebagai ujian akhir peserta didik tingkat SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang menggelar try out (uji coba) untuk melihat kesiapan peserta didik sebelum menghadapi ujian yang sebenarnya. Hasil nilai dapat digunakan guru untuk analisis penguatan materi pembelajaran agar peserta didik bisa mendapat nilai yang maksimal.

Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian Sekolah Dasar, Bidang Pembinaan SD, Disdikbud Kabupaten Jombang, Drs. Moh. Iskak, M.Si mengatakan selain untuk menilai sejauh mana persiapan peserta didik dalam mengikuti ujian, try out juga dapat digunakan sebagai inventarisir berbagai persoalan yang kemungkinan bakal terjadi ketika hari pelaksanaan ujian.

“Kalau dari peserta didik sudah jelas salah satunya adalah nilai try out kemudian teknis pelaksanaan termasuk segi kepengawasan. Apakah para pengawas ruang ujian telah melaksanakan tugasnya dengan benar ataukah belum. Dari segi penyusun soal, hasil dari try out dapat digunakan untuk analisis bobot soal serta apakah soal yang telah disusun telah sesuai dengan kisi-kisi USBN yang ada,” jelas Moh. Iskak.

Sesuai penjelasan dalam Panduan Operasional Standar USBN 2019, soal USBN terdiri atas soal Pilihan Ganda (PG) sebanyak 90 persen dan soal uraian sebanyak 10 persen. Penyusunannya berasa dari Pusat sebanyak 20-25 persen. Sisanya, 75-80 persen soal USBN disusun oleh masing-masing guru di satuan pendidikan yang dikonsolidasikan oleh MGMP/KKG/Forum Tutor/Pokja Pondok Pesantren Salafiyah.

Terkait teknis Moh. Iskak mengatakan dari pelaksanaan try out ditemukan beberapa kendala teknis.

“Terbanyak adalah hasil scan (pemindaian) Lembar Jawaban Komputer (LJK) peserta didik tidak terbaca secara benar dan maksimal. Sehingga ketika data akan diolah, terjadi ketidakcocokan antara master data dengan data yang dimasukkan. Akibatnya proses koreksi berjalan lebih lama karena harus mencocokkan terlebih dulu,” tambah Moh. Iskak.

Tidak maksimalnya hasil pemindaian LJK kemungkinan salah satunya diakibatkan karena peserta didik saat mengisi LJK, mata pensil yang digunakan diraut terlalu tajam sehingga goresan yang dihasilkan tidak cukup tebal untuk bisa terbaca pada alat pemindai. Untuk itu dihimbau kepada peserta didik untuk memperhatikan keruncingan mata pensil yang digunakan untuk mengerjakan ujian. fitrotul aini.
Sebelumnya Berikutnya