Kentrung Jatimenok Diambang Kepunahan


Kentrung biasanya menceritakan cerita rakyat melalui lakon yang menyimbolkan kondisi sosial masyarakat. Dalam pertunjukkannya kentrung dimainkan oleh dalang dan panjak (penabuh) yang mendongeng dengan diiringi oleh tabuhan dari kendang, terbang, cimplung, dan ketipung.

TEMBELANG –
Kesenian daerah menjadi sebuah warisan leluhur yang berharga dan sudah selayaknya untuk dilestarikan. Beberapa kesenian daerah yang dimiliki Kabupaten Jombang diantaranya adalah Besutan, Ludruk, Tari Remo Bolet, Wayang Topeng Jatiduwur, Jaran Kepang Dor, Bantengan, dan Kentrung Jatimenok.

Kentrung Jatimenok merujuk pada asal kesenian yang dikategorikan sebagai sastra lisan ini berasal. Di Kabupaten Jombang, kesenian ini berasal dari Dusun Jatimenok, Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang. Bahkan beberapa sumber menyebutkan jika Kentrung Jatimenok merupakan satu-satunya kentrung yang ada di Jombang.

Ditilik dari sejarahnya kentrung merupakan kesenian asli Indonesia yang berasal dari pantai utara Pulau Jawa. Kesenian ini menyebar dari wilayah Semarang, Pati, Jepara, Blora, hingga Tuban tempat kesenian ini dinamai Kentrung Bate karena berasal dari Desa Bate, Bangilan, Tuban. Kentrung Bate pertama kali dipopulerkan oleh Kiai Basiman pada zaman penjajahan Belanda tahun 1930-an.

Kentrung biasanya menceritakan cerita rakyat melalui lakon yang menyimbolkan kondisi sosial masyarakat. Dalam pertunjukkannya kentrung dimainkan oleh dalang dan panjak (penabuh) yang mendongeng dengan diiringi oleh tabuhan dari kendang, terbang, cimplung, dan ketipung.

Pelaku Kesenian Kentrung Jatimenok, Badri membenarkan bahwa dalam setiap penampilan selain dirinya sendiri yang berposisi sebagai penabuh kendang sekaligus dalang yang menuturkan lakon (cerita) dia juga akan membawa tiga orang lain sebagai panjak.

“Biasanya saya ditemani istri, anak, dan keponakan. Istri sebagai penabuh terbang, anak yang menabuh ketipung, dan keponakan menabuh cimplung. Mereka juga menyela dengan parikan-parikan di sela-sela babak lakon yang diceritakan,” jelas Badri.

Lakon yang akan dibawakan ketika tampil tergantung pada tujuan atau acara yang diselenggarakan. Untuk acara wiwit pari lakon yang akan ditampilkan adalah Dewi Sri. Dalam acara lain, lakon-lakon panji, cerita Angling Dharma atau Aji Saka, bahkan cerita-cerita baik bernuansa Islam seperti kisah para nabi dapat ditampilkan.

Badri kemudian mengisahkan awal mula dirinya berkecimpung di dunia kesenian kentrung adalah karena menggantikan mendiang bapaknya.

“Ketika itu ada seseorang yang ujar (bernadzar) jika tiba masa wiwit pari (masa mulai memotong padi sebelum panen) bagus maka akan menanggap kentrungan. Karena bapak sudah meninggal, mau tidak mau saya yang harus menggantikan. Memainkannya jadi sebisanya, beruntung yang menanggap mau memahami,” ungkap Badri.

Setelah itu berlanjut dengan undangan dari seorang ibu yang tengah sakit cukup parah. Dia juga berujar jika penyakit yang dideritanya sembuh akan mengundang kentrungan. Dari undangan-undangan tersebut akhirnya Badri pun menggeluti kesenian kentrungan.

Agar penampilannya semakin baik, Badri mengasah kemampuannya secara otodidak. Meski sudah bisa menabuh kendang sejak kecil, namun dia tidak bisa menjadi dalang. Dari sang istri, Sarmini yang sudah lama ikut menjadi panjak sejak sang ayah masih aktif bermain kentrung, Badri banyak belajar tentang menyampaikan lakon dalam kentrung secara runtut.

Tahun 1975-an adalah waktu paling sibuk yang dilakoni Badri. Dia banyak mendapatkan undangan dari berbagai pihak juga daerah bahkan hingga keluar Jombang. Bupati Jombang kala itu, Hudan Dardiri (memimpin sekitar 1979-1983) juga pernah mengundangnya untuk tampil di Pendopo. Badri juga pernah diberi kepercayaan untuk mewakili Kabupaten Jombang mengikuti Pekan Budaya tingkat Jawa Timur di Banyuwangi.

“Sayangnya akhir-akhir ini sudah jarang ada yang mau mengundang. Ada pun mungkin hanya setahun dua kali atau atas permintaan dari pemerintah atau Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang untuk menjadi tamu,” ucap Badri.

Saat ditanya mengenai generasi penerus kesenian yang telah melambungkan namanya tersebut, kakek tigabelas cucu dan limabelas cicit ini mengaku hingga sejauh ini belum ada yang menggantikan. Anak, cucu, bahkan hingga cicitnya sampai sejauh ini belum ada yang berminat untuk turut bermain kentrung. Sehingga sempat terbersit dalam benaknya jika ia meninggal nanti, kesenian Kentrung Jatimenok ini akan punah.

 
Usaha Regenerasi

Sementara itu Kepala Seksi Kesenian, Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Heru Cahyono, S.Sn mengatakan bahwa kekhawatiran yang disampaikan oleh Badri dapat ditangkap sebagai sebuah keresahan yang sudah seharusnya untuk diperhatikan sekaligus dijadikan sebagai sebuah motivasi bagi generasi muda untuk melestarikan kesenian daerah.

“Bidang Kebudayaan akan memfasilitasi pengenalan serta pendalaman berbagai kesenian juga kebudayaan khas Jombang. Beragam seminar hingga lokakarya akan dilakukan. Kerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Jawa dan Seni Budaya untuk dijadikan poros utama pengenalan kesenian dan kebudayaan pada peserta didik di sekolah bakal dilakukan. Di luar itu, merangkul berbagai kelompok/paguyuban kesenian daerah baik yang berupa teater, musik, dan tari untuk mengenal satu sama lain agar transformasi ilmu tidak menjadi eksklusif hanya dalam kelompoknya,” jelas Heru Cahyono.

Pria yang juga berprofesi sebagai dalang ini memahami tantangan yang dihadapi oleh para pelaku kesenian tradisi adalah selera generasi milenial yang sudah berubah. Sehingga agar tampilan kesenian tradisi bisa diterima dan dinikmati, penampil melakukan sedikit perubahan juga improvisasi tidak akan menjadi sebuah kesalahan bahkan hal terebut bisa menjadi salah satu pilihan.

“Intinya tentang bagaimana anak-anak muda ini bisa tertarik kemudian mengenal kesenian daerahnya. Baru setelah mereka tertarik kemudian mengenal, baru disisipkan pengetahuan akan awal mula (nilai asli) dari kesenian tersebut,” ujar Heru Cahyono.

Disamping itu usaha untuk merekonstruksi bentuk kesenian melalu pendokumentasian baik secara tertulis ataupun secara visual juga dapat dilakukan. Sehingga ketika di masa mendatang ketika pelaku kesenian asli sudah tidak bisa ditemui lagi, penggalian informasi melalui dokumentasi bisa dilakukan. fitrotul aini.