Memahami Fungsi Orangtua dalam Proses Pendidikan


Tidak ada orangtua yang ingin melihat kegagalan anak-anaknya di masa sekarang atau mendatang. Namun, tidak semua orangtua sadar bahwa mereka memiliki peran signifikan dalam menentukan keberhasilan anak mereka.

PLANDAAN – Berbicara tentang pendidikan, berarti pula menjelaskan hubungan dan peran penting antara guru, peserta didik, dan orangtua. Proses belajar di sekolah akan berjalan lancar seperti yang diharapkan, jika terjalin relasi yang baik dan peran yang optimal di antara ketiganya. Peserta didik merupakan amanah yang dititipkan orangtua kepada guru. Sementara itu, guru wajib menjalankan amanah dengan cara memberikan pelayanan, rasa cinta, dan aman terhadap peserta didiknya, baik saat berada di dalam maupun di luar kelas.

Ketua panitia pelaksana acara Dialog Pendidikan Solusi Untuk Desa Terpencil yang dilakukan di Desa Klitih, Jalaluddin Hambali mengatakan bahwa peran orangtua juga tidak kalah pentingnya dalam proses pendidikan anak. Keberhasilan proses pembelajaran tidak bisa hanya dibebankan pada guru semata. Orangtua harus berperan aktif dalam proses belajar anak. Pada hakikatnya, orangtua merupakan madrasah utama bagi seorang anak dalam mendapatkan pendidikan. Sementara itu, guru dan sekolah merupakan madrasah lanjutan.

“Memberikan dukungan kepada anak dalam proses belajar merupakan salah satu contoh motivasi yang dapat dilakukan orangtua. Akan tetapi, dalam kenyataannya, masih banyak orangtua yang tidak mengetahui cara mendukung anak-anak dalam meraih mimpi-mimpinya. Banyak orangtua justru tidak menunjukkan dukungan kepada buah hatinya,” ujar Jalaludin Hambali.

Menumbuhkan kesadaran orangtua atas pentingnya perannya dalam menentukan keberhasilan anak, dapat dibantu oleh guru dengan cara memberikan saran atau masukkan yang bersifat positif dan informatif kepada orangtua. Tidak ada orangtua yang ingin melihat kegagalan anak-anaknya di masa sekarang atau mendatang. Namun, tidak semua orangtua sadar bahwa memiliki peran signifikan dalam menentukan keberhasilan anaknya.

Laki-laki yang tergabung dalam Relawan Peduli Jombang itu menambahkan “Pada titik inilah guru berkewajiban untuk membangun komunikasi yang baik dengan wali peserta didik. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi dan dukungan yang memadai terhadap berbagai hal yang dapat orangtua lakukan, sekaligus menjelaskan manfaat dukungan yang diberikan terhadap anaknya dalam proses belajar. Agar keinginan anak dan orangtua dapat sejalan.”

Salah satu guru SMA Negeri Ploso, Titik Romziati menjelaskan, “Peran orang tua dalam pendidikan anak, jelas dan tegas bahwa mereka adalah pendidik yang utama dan pertama. Pertama karena merekalah yang memberikan pengajaran, pendidikan, apapun itu untuk perdana kalinya. Utama, karena merekalah yang memiliki tanggung jawab, kewajiban, dan kuasa untuk menjadikan anak seperti apa.”

Guru dapat memulai pembicaraan dengan wali peserta didik melalui pesan atau telepon singkat, mengadakan pertemuan di sekolah atau kunjungan ke rumah. Orangtua juga harus mengenal siapa guru yang mengajar anaknya, memahami aturan main (hak dan kewajiban) yang harus dipatuhi di sekolah. Tugas dan peran orangtua dalam proses belajar peserta didik di sekolah maupun di rumah, dapat disampaikan dan kemudian dipahami melalui komunikasi yang intensif dengan orangtua.

“Pertukaran informasi dan diskusi yang baik ini juga berimbas pada kedekatan guru dan orangtua yang semakin erat yang juga akan memudahkan guru dalam mengelola peserta didiknya atas dasar kepercayaan yang diberikan orangtua,” tambah Titik Romziati.


Orangtua Bukanlah Pengadil

Hasil proses pendidikan akan menyarikan kemampuan anak secara sesungguhnya. Artinya bakal teridentifikasi sebenaranya potensi anak dimana. Oleh karena itu, orang tua pun wajib memahami ini. Jangan sampai karena dorongan stigma sosial membuat anak melokoni pendidikan yang sama sekali tidak disukai atau bertolakbelakang dengan potensinya. Sebaliknya, bila diberikan dukungan secara penuh tentu hasil yang dituai jauh lebih melampaui ekspetasi


“Memaksa anak menjadi apa yang orangtua kehendaki masih banyak terjadi. Contoh, karena orangtua menghendaki anak menjadi dokter maka disuruh masuk kelas IPA, padahal kemampuan anak tersebut tidak di kelas itu. Anak bukan boneka orang tua. Anak memiliki hak untuk menentukan apa dan mau menjadi apa atas hidupnya. Orang tua hanya menjadi fasilitator. Oleh karenya penting sekali orangtua memahami buah hatinya,” papar Titik Romziati saat menjadi pemateri.

Selain itu, memberi perhatian lebih pada minat anak, memahami cara belajar anak yang sifatnya unik atau tidak bisa disamakan dengan anak lainnya melalui ragam cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak. Meluangkan waktu untuk terlibat dalam kegiatan belajar anak terutama di rumah melalui beberapa kegiatan bersama. Membaca, mengerjakan PR, tugas atau proyek anak juga melatih dan menumbuhkan rasa tanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan proses belajar anak, antara lain dengan melakukan diskusi dan evaluasi atas hasil belajar mereka.

Terakhir, tambah Titik Romziati, orangtua juga dapat membantu anak untuk memahami yang dipelajari dengan mengaitkan proses belajar dengan dunia nyata, melalui contoh dan praktik di kehidupan sehari-hari. Dengan cara ini, anak dapat berpeluang mengalami serangkaian moment of learning yang nyata.

“Perlu kesadaran bersama bagi tumbuh kembang anak. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, sesuai dengan kapasitas dan bagian masing-masing. Saling melengkapi bukan meniadakan atau mengambilalih dan mengoperkannya,” tutupnya. aditya eko