Pahami Epilepsi Bukan Penyakit Menular


Dokter Spesialis Saraf, dr. Nirmala Budiman, Sp.S mengatakan bahwa serangan epilepsi merupakan gejala atau suatu gangguan gangguan sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik otak yang tidak normal, sehingga menimbulkan keluhan kejang, sensasi dan perilaku yang tidak biasa, hingga hilang kesadaran.

JOMBANG – Epilepsi merupakan masalah penting baik dipandang dari sudut ilmu kedokteran maupun sosial. Masyarakat awam sering menyebutnya sebagai penyakit ayan, sawan, atau celeng (Jawa Barat). Kata epilepsi sendiri berasal dari Bahasa Yunani Epilambanein yang berarti sesuatu yang menimpa seseorang dari luar sehingga ia jatuh.

Epilepsi sendiri telah dikenal sejak lama sekitar 2000 tahun Sebelum Masehi di daratan China. Dikalangan masyarakat masih banyak terdapat kesalah pahaman mengenai penderita epilepsi. Tidak sedikit yang masih berpendapat bahwa epilepsi dapat menular atau sebagai akibat kutukan maupun kesurupan. Sehingga banyak orang tua merasa malu mempunyai anak yang menderita penyakit tersebut.

Dokter Spesialis Saraf, dr. Nirmala Budiman, Sp.S mengatakan bahwa serangan epilepsi merupakan gejala atau suatu gangguan gangguan sistem saraf pusat akibat pola aktivitas listrik otak yang tidak normal, sehingga menimbulkan keluhan kejang, sensasi dan perilaku yang tidak biasa, hingga hilang kesadaran. Gangguan pada pola aktivitas listrik otak saraf dapat terjadi karena kelainan pada jaringan otak, ketidakseimbangan zat kimia di dalam otak, atau kombinasi dari beberapa faktor penyebab tersebut.

“Serangan epilepsi sendiri dapat terjadi apabila salah satu sebab secara tiba-tiba timbul lepasnya muatan listrik sel-sel otak yang berlebihan dan tidak teratur. Itu biasanya disebut gangguan fungsi otak. Penyebab ganguan tersebut adalah kelaianan bawaan pada otak, cidera otak pada waktu lahir, radang atau infeksi otak, dan cedera kepala yang biasa di alami saat terjadi kecelakaan,” terang Nirmala Budiman.

Semua ini menimbulkan cacat pada jaringan otak, lanjutnya, sehingga pada suatu waktu dapat mencetuskan lepasnya muatan listrik secara tiba-tiba. Ada juga penyebab epilepsi yang tidak dapat diketahui yang disebut epilepsi Idiopatik atau disebut juga sebagai epilepsi primer.

Tidak semua gejala epilepsi ditandai dengan kejang. Beberapa orang mungkin mengalami gerakan berulang yang terjadi secara cepat, mendadak, dan berulang tanpa bisa dikendalikan serta kehilangan kesadaran sesaat. Dalam beberapa kasus, seseorang juga dapat mengalami kehilangan kesadaran secara mendadak, kekakuan tubuh dan gemetar, dan kadang-kadang kehilangan kontrol serta menggigit lidahnya.

Menurut Nirmala Budiman dalam penanganan epilepsi sebaiknya orang yang menolong harus menjaga penderita agar tidak terluka seperti terjatuh atau tergores benda tajam. Selain itu si penderita harus ditidurkan terlentang dan menaruh bantak dibawah kepalanya, serta dilarang memasukkan benda keras ke mulut pasien. Biasanya kejang epilepsi berlangsung lebih kurang 15 menit, namun jika melebihi itu dan berulang-ulang secepatnya dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Perlu ditekankan, tambahnya, epilepsi bukan penyakit menular yang selama ini tengah menjadi animo di masyarakat. Epilepsi dapat dikontrol dengan minum obat teratur serta rutin kontrol pengobatan yang baik sesuai kondisi pasien. Penyandang epilepsi juga dapat hidup dan bekerja seperti orang kebanyakan.

“Selain itu penyandang epilepsi diharuskan olahraga, namun jika renang harus didampingi karena ditakutkan penyakitnya kambuh. Penderita epilepsi juga harus didampingi saat berkendara, sebab jika kambuh akan membahayakannya,” papar Nirmala Budiman. aditya eko