Pentas Tari Remo Njombangan Upaya Melestarikan Kesenian Daerah


Program ini terbuka untuk semua warga Jombang. Untuk semua umur, profesi, latar belakang pendidikan, sosial budaya dan lainnya. Namun yang paling diutamakan adalah peserta didik jenjang SD dan SMP - Ahmad Nuril Mubtadiin -

NGUSIKAN – Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi, namun yang berkembang saat ini banyaknya mayoritas orang sudah mulai mengabaikan bahkan melupakan kebudayaan bangsa seperti halnya tarian tradisional. Tidak sedikit anak muda malah lebih senang menarikan tarian modern, sedangkan tarian tradisional sudah mulai tenggelam.

Menyikapi permasalahan tersebut Komunitas Njombangan tergerak untuk membuat program dengan tajuk Njombangan Menari. Tarian dalam program ini berfokus pada Tari Remo yang menjadi khas Kabupaten Jombang. Tujuannya adalah membangkitkan rasa cinta bagi anak cucu dimasa depan terhadap tarian Remo yang didalamnya penuh dengan ketelitian dan kerja tim dalam hal olah gerak, tata rias, tata berbusana, keterampilan dalam mengolah keselarasan dan kedinamisan irama.

Salah satu anggota Komunitas Njombangan, Ahmad Nuril Mubtadiin, mengatakan, “Program ini sudah berjalan kali kedua. Pertama dilaksanakan di Desa/Kecamatan Tembelang dan sekarang di Desa Ngampel, Kecamatan Ngusikan. Njombangan Menari ini gratis dan terbuka untuk umum.”

Satu kali program, tambah Ahmad Nuril, dilaksanakan selama 3-4 bulan atau sekitar 12-16 kali latihan. Latihan biasanya dilakukan pada hari Minggu dengan durasi maksimal dua jam. Dalam setahun akan berganti ke 3-4 tempat baru. Tempat programnya adalah griya baca atau rumah baca yang menjadi mitra kerjasama atau rekanan Njombangan.

Peserta Tari Remo akan diajar dan dipandu oleh pelatih profesional tentang pemahaman umum dan teknik Tari Remo. Sedangkan yang diajarkan adalah gerakan dari yang paling mendasar sehingga tidak perlu khawatir jika tidak atau belum pernah menari sebelumnya


“Program ini terbuka untuk semua warga Jombang. Untuk semua umur, profesi, latar belakang pendidikan, sosial budaya dan lainnya. Namun yang paling diutamakan adalah peserta didik jenjang SD dan SMP,” tegasnya.

Di akhir pertemuan, lanjut laki-laki yang juga menjabat sebagai ketua Panitia Pentas Remo Jombangan yang dilaksnakan di Desa Ngampel (24/3) itu, juga melaksanakan lomba kelulusan dengan diadakannya Pentas Remo Njombangan bagi pesertanya. Setiap anak didiknya menampilkan Tari Remo yang dikuasainya kemudian di nilai oleh para Juri dan mendapat sertifikat.

“Antusias masyarakat sampai saat ini Alhamdulillah masih lumayan. Di Desa Ngampel ini setidaknya terdapat duabelas peserta yang mengikuti program tari ini. Mudah-mudahan kedepan masyarakat akan lebih mengenal dan mencintai Tari Remo,” Ungkapnya.

Selain dukungan pemerintah, pihaknya berharap masyarakat luas khususnya orang tua, bersedia memperkenalkan budaya tradisional kepada anak-anak. Pengenalan sejak dini kesenian tradisional pada anak akan menjadi fondasi yang kuat dari orang tua untuk mengajarkan anaknya mencintai seni budaya tanah air.

“Saya berharap juga peran orang tua untuk menumbuhkan minat itu dengan mengajak putra-putrinya lebih apresiatif menikmati seni-seni yang ada di Jombang. Semoga para orang tua, masyarakat juga, lebih mencintai budaya tradisional, dan akhirnya generasi yang akan datang juga akan tumbuh perasaan mencintai tarian khas Jawa Timur,” ujar alumi Universitas Negeri Malang tersebut. aditya eko