Sumrambah sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Pasalnya buku cerita anak itu sangat menarik dan bahasanya sangat mudah dipahami. Alur cerita yang baik akan memudahkan pembaca untuk menikmati dan paham sebuah isi yang disampaikan oleh buku cerita itu sendiri.

JOMBANG - Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Jombang menggalakkan gerakan literasi di kalangan para guru. Salah satunya dengan menggelar bedah buku yang berjudul Joko Gemblung Kenduri Durian karya Sutaji, M.Hum., M.Pd. yang dilaksanakan di Aula 1 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang (24/3). Acara bedah buku tersebut dihadiri oleh dua pembahas yaitu Wakil Bupati Jombang, Sumrambah sebagai pembahas pertama, dan pembahas kedua adalah Imam Ghozali yang juga sebagai pegiat seni serta penulis.

Sumrambah sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Pasalnya buku cerita anak itu sangat menarik dan bahasanya sangat mudah dipahami. Alur cerita yang baik akan memudahkan pembaca untuk menikmati dan paham sebuah isi yang disampaikan oleh buku cerita itu sendiri.

“Ceritanya bagus dan menarik. Jika hanya melihatnya judulnya saja maka banyak yang beranggapan bahwa ceritanya tentang Kenduri Durian yang biasanya digelar setiap tahun di Wonosalam. Tetapi tidak, ceritanya tidak ada hubungannya dengan Kenduri Durian. Cerita tersebut menjelaskan bahwa tidak ada sesuatu yang sifatnya instan,” jelas Sumrambah.

Disini, tambahnya, Joko Gemblung digambarkan dengan orang yang malas dan tidak mau bekerja keras tetapi ingin menjadi orang kaya. Tentunya tidak bisa seperti itu, harus ada usaha dan selalu bekerja keras supaya cita-cita dapat tercapai.

“Bedah buku ini dirasa sangat ideal untuk menarik minat masyarakat dan guru dalam menggeluti dunia literasi. Terlebih budaya literasi harus selalu digiatkan sebab sekarang ini sudah menurun. Saya berkeinginan di tahun 2020 nanti terdapat 3-4 buku yang diterbitkan oleh guru setiap tahunnya,” kata Sumrambah.




Sementara itu, Imam Ghozali ketika membahas buku tersebut mengatakan bahwa dalam membuat suatu cerita anak atau novel harus sesuai dengan latar cerita yang disajikan. Contohnya saja dalam membuat judul harus sesuai dengan isi pembahasan, jangan sampai tidak sama karena akan membuat perspektif pembaca bingung.

“Karena ini mengangkat judul dengan tema kegiatan sedekah desa, maka harus disesuikan pula dengan desa tersebut. Sejarah serta keunikan-keunikan desa juga harus benar supaya tidak memberikan informasi yang salah,” tegas Imam Ghozali.

Menurut Sutaji, dalam membuat buku cerita anak juga tidak sembarangan. Dirinya rela meluangkan waktunya untuk terjun langsung ke masyarakat dan desa sebagai latar ceritanya agar tepat dalam menggambarkan suasananya. Tidak hanya itu, untuk memunculkan karakter tokoh juga membutuhkan observasi sehingga sesuai dengan daerahnya.

“Joko Gemblung sendiri saya anggat sebagai karakter atau mewakili Jombang. Awalnya Joko Bambang jika di sambung menjadi kata Jombang, tetapi kurang menarik dan saya menemukan kata Gemblung. Gemblung sendiri memiliki keunikan dan belum ada kisahnya, terlebih kata Gemblung adalah kata asli Jawa,” jelas Sutaji sambil memperlihatkan buku karyanya.

Sutaji berharap dengan adanya buku karyanya ini banyak anak-anak bahkan orang dewasa tertarik untuk membacanya. Karena banyak nilai-nilai positif dan motifasi yang ia tuangkan dalam isi bukunya. Selain itu, dengan adanya kegiatan seperti ini akan lebih membuatnya bersemangat menghasilkan karya-karya buku. Untuk teman-teman gurunya juga termotivasi mengembangkan minat baca dan menulisnya. aditya eko
Sebelumnya Berikutnya