Fiesta 2019 Alkulturasi Tari dan Pendidikan


“Unhasy Tebuireng sebagai jembatan perantara yang dini yang tepat untuk mencetak peserta didik yang unggul dan berkarakter serta berdaya saing. Tentu melalui pengembangan bakat minat yang disenergikan pada budaya serta kesenian daerah yang ada di Indonesia. Sehingga sebagai penerus bangsa, mampu melestarikan dan mengembangkan meski kini perkembangan global tidak mampu dibendung.” - Kepala Disdikbud Kabupaten Jombang, drg. Budi Nugroho, M.PPM. –

JOMBANG – Tari merupakan salah satu cabang seni yang melatih pelbagai hal dalam diri manusia. Baik dalam olah tubuh, rasa, musik, hingga pada jiwa. Sebab bila seseorang ingin menampilkan sebuah tarian dengan apik maka harus menjiwai. Tarian bukan saja sebatas perwakilan gerak semata, melainkan cara lain dalam bercerita menggunakan ragam medium. Selain itu tari merupakan pendidikan alternatif mengigat perkembangan sekarang ini tidak lagi terpusat pada satu bentuk saja.

Hal itulah yang tampak dalam peringatan Hari Tari Sedunia, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Prodi PGSD) Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng yang melibatkan peserta didik SD/MI turut andil dalam lomba Festival Seni Tari (Fiesta) 2019 Se Kabupaten Jombang. Kegiatan ini berlangsung di aula kampus B Unhasy Tebuireng, Kamis (25/4). Mencoba mengalkulturasikan tari dengan dunia pendidikan dengan melibatkan pelbagai sekolah di Kota Santri.

Mundur kebelakang melihat riwayat Hari Tari Sedunia pertama kali dicanangkan di tahun 1982 oleh lembaga tari internasional Counseil International de la Danse (CID) yang bertujuan untuk mengajak seluruh warga dunia berpartisipasi menampilkan tarian-tarian negara asalnya yang jumlahnya beragam.

Hingga pada tahun 2003, Profesor Alkis Raftis yang saat itu menjabat sebagai Presiden CID menyatakan bahwa pelestarian budaya menari masih sangat minim. Bahkan tidak adanya lembaga atau organisasi yang mendanai bidang seni secara memadai, serta tidak adanya pendidikan seni tari, sehingga ketertarikan warga untuk menekuni bidang tari masih sangat rendah.





Kepala Prodi PGSD, Heru Wiyadi, M. Pd. menyatakan, “Kegiatan tersebut guna meningkatkan potensi kreativitas tumbuh kembang anak di dalam keanekaragaman budaya dan seni. Selain itu juga menarik generasi milenial turut melestarikan kebudayaan Indonesia.”

Heru Wiyadi juga berpendapat bahwa melihat perkembangan global pada informasi teknologi dan budaya yang begitu pesat terserap oleh generasi muda, maka kegiatan perdana ini dilaksanakan guna mengangkat rasa nasionalisme kepada budaya bangsa Indonesia. Disisi lain dapat membantu merangsang kreativitas bakat peserta didik dalam kesenian tari Indonesia. Harapannya agar budaya dan kesenian yang sedemikian banyak jumlahnya dan beragam tampilan kreasinya tidak diambil atau diakui oleh negara lain.

Melalui tema ‘Harmonisasi Pendidikan dalam Budaya’ turut hadir pula Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang, drg. Budi Nugroho, MPPM. dalam sambutannya menyampaikan sangat mengapresiasi kegiatan Fiesta 2019. Unhasy Tebuireng sebagai jembatan perantara yang dini dan tepat untuk mencetak peserta didik yang unggul dan berkarakter serta berdaya saing. Tentu melalui pengembangan bakat minat yang disenergikan pada budaya kesenian daerah yang ada di Indonesia. Sehingga sebagai penerus bangsa, mampu melestarikan dan mengembangkan meski kini perkembangan global tidak mampu dibendung.

Fiesta 2019 ini diikuti oleh 99 peserta didik yang terdiri dari 20 peserta kelompok dan 14 peserta individual. Melalui data yang terhimpun sebanyak 15 SD/MI dan satu sanggar tari turut meramaikan. Sehingga membutuhkan tenaga yang prima guna melakukan penilaian secara objektif tanpa berpihak.

“Aspek penilaian lomba terbagi atas empat kategori dengan jumlah total nilai sempurna 400 dan terdapat kategori kreasi dari tari tradisional beserta tari modern. Empat kategori meliputi Wiraga (ketepatan gerak), Wirama (ketepatan musik), Wirasa (ketepatan ekspresi) dan terakhir tata rias beserta kostum,” terang Dosen Pendidikan Seni Tari Unhasy Tebuireng, Ratih Asmarani, M. Pd. chicilia risca