R.A. Kartini, Tiada Seperti yang Ku Kenal


Eny Setyorini *)

Habis malam terbitlah terang

Habis badai datanglah damai

Habis juang sampailah menang

Habis duka tibalah suka

R.A Kartini

(Surat R.A Kartini kepada Ny Abendanon,”Door Duisternis tot Licht”.)

Puisi di atas telah meluluh lantidakkan pandanganku selama ini tentang Kartini. Deretan kata yang syarat makna, serta pesan mendalam. Sebuah puisi yang tentulah dibuat oleh orang-orang yang memiliki pemahaman, pengetahuan, dan pengalaman yang luar biasa dalam hidupnya. Malam(gelap), badai, juang, dan duka pasti akan berlalu. Tergantikan oleh terang, damai, menang, dan suka. Kata demi kata puisi diatas memberi pesan moral, pesan kehidupan yang mendalam. Bagi semua orang, semua bangsa, dan semua generasi.

Sosok Kartini selama ini selalu menghias ruang kantor-kantor pemerintah. Tidak terkecuali ruang kelas siswa. Dalam wujud gambar disamping gambar pahlawan nasional lainnya. Setiap tanggal 21 April selalu diadakan peringatan hari Kartini. Semua pelajar wanita kemudian mengenakan pakaian adat Jawa. Memakai jarik, kebaya dan sanggul seperti Kartini. Puluhan kali meraykan hari Kartini, selalu seperti itu.

Kartini, sosok wanita Jawa yang lahir pada 21 April 1879. Putri seorang Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Mengenyam pendidikan hingga lulus sekolah rakyat Belanda (setingkat SD). Menikah dengan Bupati Rembang, menjadi istri yang ke sekian. Kemudian mendirikan sekolah khusus wanita. Melahirkan, kemudian meninggal di usia 25 tahun. Atas jasa-jasanya Kartini mendapat gelar Pahlawan emansipasi wanita Indonesia. Hanya itu. Ya, hanya itu. Yang kutahu.

Namun buku karya Pramudya Ananta Toer “Panggil Aku Kartini Saja”, merubah segalanya. Tulisan Pak Pram tentang Kartini membuatku kagum dan bangga. Pada tokoh Pahlawan emansipasi wanita Indonesia, Kartini. Hal-hal yang perlu diketahui publik tentang Kartini berikut ulasannya.

Pembelajar Sejati dan Menguasai Banyak Bahasa

Setelah lulus sekolah rakyat Belanda (sekolah dasar) pada masa itu, saat usianya masih 12,5 tahun. Ia tidak mampu menolak kehendak ayahnya yang tidak mengijinkannya melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Bahkan Bea siswa ke negeri Belanda yang ia perjuangkan dengan susah payah kemudian harus kandas, hanya karena tiada restu ayahandanya yang ia sangat sayangi.

Namun bukan Kartini namanya jika hanya berpangku tangan. Meskipun tembok kadipaten mengurungnya bak pesakitan. Ia pun belajar tanpa henti melalui buku-buku yang dikirim kakaknya Sosrokartono dari Negeri Belanda. Koran ataupun Majalah dari ayahanya ia lahap pula. Bahkan buku-buku sastra jawa dengan huruf jawa yang sebagian masih tulisan tangan pun ia baca dengan antusias seperti Wulangreh, Centini, Hikayat Wayang, Hikayat Berantai Panji, Hikayat Menak dll.

Buku-buku sastra berbahasa Belanda, Jawa, dan Melayu beliau baca dengan antusias. Penguasaan terhadap bahasa tersebut teruji, baik lisan maupun tulisan. Bahasa asing lainnya pun Kartini pelajari. Seperti pada kutipan berikut:

“Kami bertiga sekarang belajar bahasa Perancis dari buku-buku Servas de Buijn. Kami telah sempoyongan menghabiskan empat buku... Ayah menghadiahi kami buku kursus bahasa Jerman. Tapi kalau kami bisa selesaikan Perancis kami, kami akan memulai bahasa Inggris, bahasa Jerman kemudian saja...”. surat Kartini, 23 Agustus 1900, kepada Estelle Zeehandelaar.

Duh, adakah wanita Indonesia masa kini yang seperti R.A Kartini. Menguasai banyak bahasa dan memiliki banyak pengetahuan.

Penulis Artikel dan Buku

Kartini adalah sosok yang gemar membaca. Utamanya karya sastra dari berbagai negara utamanya Nederland. Kegemarannya membaca mengantarkan Kartini menjadi penulis yang handal. Baik dalam bentuk artikel maupun buku.

Artikel-artikelnya banyak dikirim keberbagai majalah dan surat kabar yang terbit kala itu. Koran-koran seperti De Echo, bahkan majalah De Hollandsche lelie menyediakan kolom-kolom khusus bagi Kartini. Tentu saja penawaran koran dan majalah terbitan Nederland itu tidak mungkin ada jika bukan karena gaya penulisan kartini yang jernih, lugas, detail dan menarik untuk diketahui semua orang.

Tidak hanya artikel yang dimuat di Koran atau Majalah terbitan Nederland. Kartini pun tampil ke depan mempelopori penulisan buku. Beberapa tulisannya diantaranya telah dibukukan seperti Het Huwelijk de Koddja’s dan Handchrift Jepara. Sebuah karangan antropologi tentang adat perkawinan golongan Koja di Jepara dan buku tentang kerajinan Jepara (batik). Sementara buku tentang adat perkawinan bangsawan Jepara, yang bercerita tentang perkawinan adiknya Kardinah tidak mendapat restu untuk diterbitkan.

Tidak hanya artikel dan buku. Kartini pun menuliskan pemikiranya melalui surat-suratnya kepada kawan-kawannya Kartini menuliskan secara detail pemikirannya. seperti keluarga Abendanon (Direktur Pengajaran dan Ibadah Hindia Belanda), Estelle Zeehandelaar (wartawan), Ny Ovink-Soer, Ir. H.H Van Kol, Prof.Dr.G.K. Anaton di Jena, Dr. N. Adriani, Ny H.G. De Booij-Boissevain dll.

R.A Kartini mampu berkorespondensi dengan tokoh-tokoh berpikiran maju dari negeri Belanda. Apalagi semua surat-suratnya disimpan dengan rapi bahkan kemudian hari dipublikasikan sebagai buku. Menilik dari sahabat-sahabatnya tentulah Kartini tergolong istimewa bahkan luar biasa. Ia mampu menjawab pertanyaan yang terkadang menyudutkan bangsanya. Kemudian balik menyerang dengan ketajaman penanya.

Pendidikan rendah, tidak menjadi penghalang bagi Kartini untuk maju. Masih adakah adakah wanita seperti beliau di zaman now?

Pejuang, Melawan Tirani dengan Pena

Kartini bukanlah sosok pejuang yang membela bangsanya dengan pedang, keris atau tombak. Ia adalah sosok yang membela martabat bangsanya melalui tulisan. Penguasaan terhadap bahasa asing yang baik membuat R.A Kartini, mampu membela bangsanya melalui pena. Tentu saja mengorek Kartini tidak dapat dilakukan secara langsung. Hanya melalui surat-surat beliau kepada sahabatnyalah kita dapat mengetahui pemikiran beliau. Perjuangannya melawan tirani. Seperti pada tulisan beliau berikut ini:

“Negeri manakah yang tidak punya cacat? Hindia atau negeri lain dibawah kolong langit manapun”. Pembelaan Kartini atas buku karya Veth ,”Java”, yang menyudutkan orang Jawa. Surat kartini, 26 Mei 1902, kepada Ny. H.G. de Boooij-Boissevain. Sebagai penolakan Kartini pada buku karya Veth “Java” yang menyudutkan orang-orang Jawa.

Dalam kesempatan lain Kartini, menjelaskan cita-cita dan perjuangannya yang tanpa henti seperti dalam kutipan berikut:

”Sebagai pengarang, aku akan bekerja secara besar-besaran untuk mewujudkan cita-citidaku, serta bekerja untuk menaikkan derajat dan peradaban rakyat kami”. (Surat kartini, 11 Oktober 1901, kepada esrella Zeehandelaar.)

“Sudah pastilah dunia pribumi akan menentang aku,...Orang akan menganggap aku gila. Namun, gagasan itu indah, yaitu melalui pers memperjuangkan cita-cita”. (Surat kartini, 31 Desember 1901, kepada Ny Abendanon.)

“Kami akan guncangkan bangunan raksasa (tata hidup feodalisme yang memandang rendah wanita), bunda. Dengan seluruh kekuatan kami, sekalipun hanya sebuah batu saja yang runtuh dan dengan demikian kami tidak mengganggap hidup kami sia-sia”. (Surat kartini, awal 1900, kepada Ny Ovink-Soer.)

Seolah tahu bahwa suatu saat Hindia atau Indonesia akan merdeka dari penjajahan. Kartini pun menuliskan.

Hendaknya di Nederland orang belajar bertanya dan merenungkan,”Bagaimana nasib Nederland tanpa Hindia?’. Dan sebaliknya Nederland mengajarkan pada Hindia.”Bagaimana nasib Hindia tanpa Belanda”.

Membaca kutipan surat-surat Kartini tersebut diatas, dapatlah kita ambil kesimpulan tulisan-tulisan beliau mengarah pada perjuaangannya melawan penjajahan dan tata hidup feodal yang memandang rendah wanita. Melalui pena. Masihkah kita ragu akan perjuangan Kartini melawan tirani yang membelenggu bangsa ini kala itu?

Seniman, Lukis, dan Batik

Tidak banyak yang tahu. Sosok Kartini disamping sebagai pembelajar, penulis, pejuang sejati, juga sebagai seniman. Hal tersebut juga dinyatidakan Pak Pram berkomentar ,”Kartini adalah seniman di berbagai bidang. Dia menulis buku, melukis, membatik”.

Benarkah beliau juga seorang seniman? Apa sajakah peran beliau? Dan adakah karyanya? Untuk mengetahui lebih lanjut tiada salahnya kita baca diary Dr. N. Andriani tentang pertemuannya dengan Kartini-sesaudari di Batavia. September 1900.

“Mereka bertiga berpakaian sama, berkebaya sutra putih berbunga-bunga jambu, berkonde dan berkalung emas tipis pada leher mereka. Yang membuat mereka cantik, ketiga-tiganya mengenakan sarung batik indah, buatan sendiri, berwarna coklat memikat”.

Dalam kesempatan lain Ny. Abendanon juga pernah mendapat kain batik karya Kartini. Namun sayang ketika dibuat duplikatnya, hasilnya tidak sebagus kain batik karya Kartini. Tidak hanya batik, Kartini pun membela seni rakyat lainnya seperti seni pahat penyu, kuningan, dan pandai emas perak. Tidak mengherankan pula ia tiada lelah menghidupkan industri rumah tangga pertenunan rakyat (tenun dringo) yang terdesak oleh tekstil impor kala itu.

Tidak hanya berhenti disitu. Kartini pun mencoba menggiatkan industri rakyat melalui seni ukir kayu. Sekalipun ia tidak secara aktif ikut mengukir. Keaktifannya adalah dalam hal meningkatkan nilai seni ukir. Serta membantunya hidup kembali setelah sekian lama dalam keadaan tidak menentu. Boleh dikata berkat jasa Kartini Seni ukir Jepara banyak dikenal hingga Manca Negara khususnya Nederland.

Dalam bidang musik pun, Kartini mencoba menerjemahkan permainan dan nyanyian-nyanyian Jawa kedalam Bahasa Belanda. Beliau pun mengalami kesulitan pada kelainan tangga nada Jawa dan tangga nada Barat. Dan nada-nada tertentu tidak terdapat dalam tangga nada Eropa. Pada kesempatan lain Kartini pun bercerita sedang sibuk menghimpun dongengan Jawa dan adiknya Rukmini sibuk menghiasinya dengan gambar.

Terkenal Sejak Muda

Tidak banyak yang tahu, Kartini terkenal sejak masih belia. Umur 16 tahun pun ia telah menulis. Buku dan artikel yang kebanyakan berbahasa belanda. Bahkan tanpa menyebut namanya pun, seperti tulisan “Handchrift Jepara”, pada pameran di Nederland orang akan tahu Kartinilah penulisnya. Pendek kata umur 16 tahun ia telah terkenal seantero pulau Jawa berkat karya tulisnya.

Tidak hanya ketika masih hidup. Nama Kartini tetap harum meskipun beliau telah meninggal dunia. Surat-suratnya kepada sahabatnya, kemudian hari banyak dijadikan buku seperti. Door duistenis tot licht, Gedachten over en voor het javaansche volk van Raden Ajeng Kartini.

Kartini di kenal banyak orang sejak beliau masih hidup melalui karya-karyanya. dan ketika sudah wafat pun beliau dikenal melalui surat-suratnya pada sahabatnya. Dan sejak Indonesia merdeka. Hari kelahirannya 21 april dirayakan sebagai hari Kartini.

Merayakan hari Kartini, tidak selayaknya hanya sebatas memakai pakaian adat Jawa. Mulailah penyetaraan dengan Kartini. Memiliki banyak pengetahuan, menguasai banyak bahasa, penulis artikel dan buku, seniman lukis dan batik, terkenal, dan pejuang sejati untuk kemajuan bangsanya. Selamat hari Kartini 21 April 2019, mari tingkatkan diri.

*) Guru SMP Negeri Kudu Jombang