Belajar Bahasa Isyarat Merobohkan Diskriminasi Komunikasi


“Mengenalkan, mengajak berinteraksi bersama dengan anak inklusi. Selain itu juga menolak diskriminasi secara umum dengan tidak hanya melihat satu kekurangan seseorang. Terpenting ialah menepiskan pikiran untuk membandingkan setiap individu yang unggul dan mendefinikan diri yang berbeda dengan orang lain.” - Pemateri belajar bahasa isyarat, Herlina Bella Sutedjo, S.Pd. -

JOMBANG – Interaksi dalam hubungan sosial tentu tidak terlepas dari realisasi komunikasi yang seimbang. Berkomunikasi memiliki beberapa cara yang diterapkan misalnya dengan menulis, dan memberi isyarat. Bahasa isyarat diantaranya menggunakan gerakan tangan, kepala, tubuh dan sebagainya. Bahasa isyarat selain dapat dipelajari juga secara alami. Artinya hasil adaptasi dari bahasa lisan yang tidak bisa beberapa orang lakukan.

Menguasai bahasa isyarat bukan hal mudah, namun memiliki manfaat yang luar biasa. Salah satunya dapat menunjukkan kepedulian terhadap seseorang yang memiliki kebutuhan khusus seperti tunarungu dan tunawicara.

Hadirlah kini kelas bahasa isyarat, yang memfasilitasi masyarakat Jombang secara khusus guna belajar bersama dengan para relawan dari gerakan komunitas Mentari Manis Jombang. Belajar mengenal bahasa isyarat, tentu memberikan kegiatan serta pengetahun yang menyenangkan bagi orang tua yang juga memiliki buah hati berkebutuhan khusus sejak lahir atau ketika tumbuh dewasa.

Baca Juga : 
Perpustakaan Digital SMP Negeri 2 Kesamben Varietas Pembelajaran

Kelas ke tiga yang dilaksanakan di Rumah Merdeka atau Cafe Rudeka, Jalan Agus Salim Nomor 9 Jombang, pada Jumat (10/5) pukul 13.00 WIB ini dihadiri oleh lebih kurang limabelas peserta. Pola yang dipergunakan dalam kegiatan ini ialah belajar yang menyenangkan dan dilanjutkan dengan praktik secara individu.

Pemateri belajar bahasa isyarat, Herlina Bella Sutedjo, S.Pd. mengatakan, “Acara ini hadir lantaran ingin memeriahkan hari autis yang tepat pada (21/4) lalu. Kegiatan yang juga bertepatan memperingati Hari Kartini ini pula dimanfaat bersama orang tua sebagai peserta pada belajar bahasa isyarat yang pertama dilaksanakan di Kebon Rojo. Selanjutnya secara berkala akan tetap diadakan kelas belajar bahasa isyarat yang berkesinambungan dari materi pertemuan sebelumnya.”



Perempuan yang juga menjabat sebagai Guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Tunas Harapan I Tembelang ini menambahkan jika kegiatan tersebut guna mengenalkan, mengajak berinteraksi bersama dengan anak inklusi. Selain itu juga menolak diskriminasi secara umum dengan tidak hanya melihat satu kekurangan seseorang. Terpenting ialah menepiskan pikiran untuk membandingkan setiap individu yang unggul dan mendefinikan diri yang berbeda dengan orang lain.

“Kami hadir sebagai pendukung dan mewadahi anak inklusi berkarya serta mengembangkan bakat. Kami meyakini, bahwa di balik kekurangan tentu memiliki kelebihan. Maka terciptalah perlakuan nyaman bagi anak inklusi dimanapun dirinya berada tanpa melihat sebuah perbedaan,” terang perempuan berhijab tersebut.

Prosesnya, pada setiap pertemuan belajar ini selalu dilakukan dalam keadaan diskusi mengasyikkan. Duduk yang membentuk formasi melingkar, kemudian pemateri menjelaskan dengan presentasi gerakan tangan yang disesuaikan dua petunjuk alfabet yang sudah tersedia artinya.

Di Indonesia terdapat dua bahasa isyarat yang digunakan, yakni Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Keduanya diajarkan kepada peserta untuk memperluas pengetahuan penggunaan jenis bahasa isyarat saat berinteraksi dimanapun. Tak jauh berbeda untuk defenisi dari keduanya. SIBI merupakan sistem isyarat yang diakui oleh pemerintah dan digunakan dalam pengajaran di SLB. Sedangkan Bisindo merupakan bahasa isyarat yang muncul secara alami dalam budaya Indonesia, praktis untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga Bisindo memiliki beberapa variasi di setiap daerah.

“Salah satu perbedaan SIBI dan Bisindo yang cukup terlihat adalah SIBI hanya menggunakan satu tangan, namun Bisindo menggerakkan dua tangan untuk mengisyaratkan abjad. Selain itu perbedaan utama keduanya terletak pada tata cara berbahasa. SIBI memang dibuat untuk mengajarkan sistem Bahasa Indonesia kepada tunarungu. Aturan penggunaan kosa kata isyarat lebih rumit dan berjenjang, seperti adanya penggunaan awalan dan akhiran untuk setiap kata. Jika Bisindo digunakan sebagai bahasa keseharian oleh penyandang tunarungu dan tunawicara dengan kosa kata isyarat simbolis. Selama makna dari sebuah kata terwakili, maka kosa isyarat yang sederhana dari Bisindo sudah cukup,” tutup perempuan yang kerap dipanggil Bella itu. chicilia risca