BPBD bersama tim, akan mengaplikasikan dengan menggunakan cara yang mudah dipahami serta mampu dilakukan dalam menginformasikan kepada masyarakat.

JOMBANG – Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (BP-PAUD) dan Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Jawa Timur melaksanakan pengembangan program di beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Bekerjasama dengan satuan pendidikan terkait seperti Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), Kelompok Bermain (KB), dan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP).

Tim Pengembangan Model/Program melaksanakan identifikasi ke lokasi sasaran penyelenggaraan uji coba konseptual dan operasional pengembangan program di wilayah kerja Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang. Terdapat empat judul program yang di canangkan, diantaranya pembelajaran Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) berbasis proyek usaha, pembelajaran proyek di kelompok bermain, penyelenggaraan kursus kewirausahaan ekowisata dan pembelajaran sadar kebencanaan sebagai penguat pendidikan karakter bagi peserta didik LKP.

Fokus utama pemerintah pusat ialah pembelajaran sadar kebencanaan sebagai penguat pendidikan karakter bagi peserta didik LKP. Diikuti oleh LKP Modes Nusa Indah, Mojoagung, LKP Modes Sri Rejeki, Diwek, dan LKP Dharma Bangsa, Jombang sebagai lokasi uji coba. Didampingi oleh tiga orang tim pengembang, sebagai Pemimpin Tim, Drs. Edi Basuki,M.Si., dan dua anggotanya Yusuf Mualo, S.Pd., MM. serta Dhiana Ainur A., SE., M.Pd.

“Pamong belajar setiap tahunnya mendapatkan tugas mengembangkan pendidikan belajar.

Sasarannya di lembaga khursus, PAUD dan PKBM. Dari sisi ini terdapat model pembelajaran tentang upaya mitigasi kebencanaan atau sadar kebencanaan kepada masyarakat awam. Hal ini bertujuan untuk bagaimana masyarakat khususnya di daerah potensi terjadi kebencanaan untuk sadar akan kebencanaan secara dini,” tegas Edi Basuki.

Dirinya menambahkan, untuk mengetahui tanggap kebencanaan ialah mengetahui penyebab terjadi kebencanaan, jenis-jenis kebencanaan, dan mengenali waktu datangnya kebencanaan. Selanjutnya mengenalkan upaya untuk meminimalisir atau mengurangi terjadinya kebencanaan. Misal saja menanam pohon di daerah rawan longsor. Begitu halnya dengan pasca kebencanaan dengan melakukan tindakan yang membangun karakter serta memotivasi.

Menurut Yusuf Mualo, “Saat ini yang dikembangkan pemerintah ialah pendidikan mitigasi kebencanaan begitu juga dengan pembuatan tas siaga kebencanaan yang baru saja diinstruksikan agar di tanggal (26/4) setiap sekolah dan lembaga pendidikan menyelenggaran simulasi kebencanaan terkait dengan Hari Kesiapsiagaan Kebencanaan (HKB). Di Kabupaten Jombang juga dilaksanakan dengan langsung dipimpin oleh rekan dari Badan Penanggulangan Kebencanaan Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang yang turun dan datang langsung ke sekolah.”




BPBD bersama tim, akan mengaplikasikan dengan menggunakan cara yang mudah dipahami serta mampu dilakukan dalam menginformasikan kepada masyarakat. Maka terdapat alat perantara dengan nama ‘Beberan Kebencanaan’ yang tampilannya menyerupai permainan monopoli. Media yang beberan kebencanaan yang diciptakan BP-PAUD dan Dikmas Jawa Timur ini terkesan lebih menyenangkan serta mudah diingat pesannya. Alat yang dipergunakan untuk semua kalangan ini mampu menyesuaikan jenjang pendidikan sebagai objek. Melalui penggantian kartu pertanyaan yang tersedia di seluruh nomor media beberan kebencanaan. 

Selain itu terdapat pamflet, poster, dan lain sebagainya yang mampu diciptakan secara mandiri bergantung pada kreativitas. Murah meriah namun mengena, merupakan konsep pendidikan luar sekolah yang diterapkan.

“Pada intinya masyarakat mampu melek kebencanaan, karena sejatinya masyarakat tidak bisa lari dari kebencanaan. Tetapi mampu diatasi dengan mencegah agar tidak terjadi serta menangani dengan cara yang bijak atau mengimbanginya. Hal ini masuk dalam penguatan pendidikan karakter, bagaimana peserta didik dari lembaga kursus bisa menyadari tentang kebencanaan,” ungkap Yusuf Mualo saat menyampaikan materi.

Yusuf Mualo juga menjelaskan, materi tersebut akan disisipkan pada jam pelajaran LKP baik sesudah ataupun sebelum pembelajaran. Maka pada proses pengidentifikasi ini, akan disusunlah modul pembelajarannya. Kemudian akan dibuat sebuah laporan untuk bahan pembelajaran oleh BPBD sebagai hasilnya.

Dhiana Ainur A. menyampaikan, proses identifikasi ini akan berlanjut hingga bulan November. Menunggu adanya validasi uji coba serta menyusun naskah yang dilakukan oleh pusat dari hasil uji coba di Kabupaten Jombang tersebut. Kemudian bergulir pada tahap finalisasi dan baru akan diduplikat seluruh Indonesia dengan kriteria untuk wilayah dengan potensi kebencanaan yang serupa.

“Peserta sangat antusias menjadi tempat uji coba, terlihat pada keaktifan bertanya proses dan mekanismenya. Berharap agar mampu diterapkan dimasing-masing lembaga dan lingkungan sekitar atau komunitas. Pengimbasan diharapkan tidak terhenti di tutor atau kita saja tetapi mampu menyebar di keluarga serta lingkungan terdekat peserta didik agar semakin peduli terhadap lingkungan,” tutup Dhiana Ainur A. chicilia risca
Sebelumnya Berikutnya