Pengenalan binatang ternyata lebih direalisasikan di kelas B2, Miftakus Sholichah, S.Pd. membawakan kucing peliharaannya ke sekolah untuk anak didiknya melakukan pengamatan. Kemudian anak didik merasa ingin tahu dan bertanya, kondisi ini terdapat pembelajaran saintifik dengan adanya anak didik bertanya.

GUDO – Lingkungan anak didik merupakan media pembelajaran yang paling efektif. Hal itu dikarena tempat tumbuh dan berkembangnya anak didik, sehingga ketika materi pembelajaran diambil dari bahan-bahan di lingkungan sekitarnya maka pemahaman yang diperoleh akan cepat terserap. Itulah yang disadari TK Dharma Wanita Spanyul, Kecamatan Gudo yang memanfaatkan potensi lingkungan menjadi asupan pembelajaran bagi anak didik.

Misalkan saja sewaktu tema tentang binatang. Guru tinggal mencontohkan dari binatang di sekitar anak didik yang sebelumnya sudah dikenal atau diketahui. Dengan demikian mereka mampu mendiskripsikan dengan lancar dari pengalamannya sekaligus mempraktikan suara, gerak, serta idintas lain yang melekat pada hewan tersebut.

Baca Juga :
Jor-Joran Permainan Tradisonal yang Tinggal Kenangan

Kepala TK Dharma Wanita Spanyul, Cicik Purnaningsih, S.Pd. mengatakan, “Rangkaian ini bagian dari pengembangan, artinya anak didik paham dengan yang dilakukan. Anak didik diawal sudah dipantik motorik kasarnya dengan melompat seperti katak, kegiatan ini melibatkan koordinasi tangan dan kaki. Bergerak serta mengilustrasikan sesuai yang diinginkan yakni menirukan binatang.”

Guru Kelas TK B1, Yulia Mustianingrum, S.Pd. menambahkan, ketika dikelas juga digali kembali dengan pertanyaan jenis-jenis binatang seperti tebakan atau kuis. Diantaranya penyebutan ciri fisik, awalan huruf, dan bentuk suara yang diperagakan serta ekspresi dan anak didik menebaknya. Kemudian diapresiasikan dengan gerak motorik halusnya antara koordinasi mata serta tangan seperti membuat macam-macam binatang yang mereka ketahui dan mereka suka menggunakan plastisin.


Perempuan yang baru saja menyelesaikan pendidikan starta dua Administrasi Publik dan Manajemen ini menambahkan, dengan menggunakan alat peraga plastisin, anak didik juga belajar mengklasifikasikan warna dalam satu paket bahan yang diberikan. Anak didik berkreativitas dengan bermain warna pada setiap bagian binatang yang dibuatnya.

Pengenalan binatang ternyata lebih direalisasikan di kelas B2, Miftakus Sholichah, S.Pd. membawakan kucing peliharaannya ke sekolah untuk anak didiknya melakukan pengamatan. Kemudian anak didik merasa ingin tahu dan bertanya, kondisi ini terdapat pembelajaran saintifik dengan adanya anak didik bertanya.

“Kehadiran kucing sebagai alat peraga, hal ini dimaksudkan untuk anak akhirnya benar-benar mengetahui secara detail bentuk fisik kucing tersebut tak hanya melihat dari gambar saja. Memahamkan pula bahwa binatang merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang harus disayang serta dirawat sehingga terdapat pengembangan penilaian pada Nilai Agama dan Moral (NAM),” tutur Miftakus Sholichah.


Selanjutnya anak didik diajak untuk mensinergikan dengan lagu ‘Kucingku Telu’. Jika dijabbarkan, terdapat lirik lagu yang tertulis jika kucing makannya lontong, sehingga dipraktikkan apakah benar mau makan kalau dikasih lontong. Selanjutnya anak didik dikenalkan dengan juga lauk yang disukai oleh kucing. Kemudian diajak untuk memberi makan kucing, interaksi ini untuk mengukur apakah ada rasa takut, atau bahkan merasa tak mau berinteraksi karena takut kotor serta canggung.

“Kemudian anak juga diajak untuk membuat kolase dengan menempel kapas di atas kertas yang sudah terpola gambar kucing. Ini diibaratkan sebagai bulu kucing yang halus. Kegiatan yang kedua ialah dengan memercik. Anak didik memercik dengan perantara media sisir rambut dan sikat gigi yang diberi pasta sebelum digesek di atas permukaan sisir. Tersedia kertas putih yang di atasnya diberikan pola gambar kucing dan dipercik secara merata hingga tertetes warna pada seluruh bagian kertas. Kemudian diangkat pola gambar kucing tersebut sehingga membentuk gambar kucing yang bersih dengan sekelilingnya terdapat pola warna percik,” tutup Miftakus Sholichah. chicilia risca


Visi:

Membentuk generasi yang berakhlak mulia, sehat, mandiri, berprestasi, dan cinta lingkungan.


Misi:


1. Membangun pembiasaan perilaku hidup bersih, sehat, peduli lingkungan, dan berakhlak mulia secara mandiri.

2. Memfasilitasi kegiatan belajar yang aktif dan menyenangkan sesuai tahapan perkembangan minat, bakat, dan potensi anak.

3. Membangun kerjasama orang tua, masyarakat, dan lingkup terkait dalam rangka pengelolaan PAUD yang profesional, akuntabel, dan berdaya saing.


Prestasi di 2019:

Juara I lomba mewarnai tingkat kabupaten, Aqila Valent Zahrani

Juara II lomba mewarnai HPSN tingkat kabupaten, Ariqa Inara

Juara Harapan I mewarnai HPSN tingkat kabupaten, Aqila Valent Zahrani

Juara Harapan I Colour Guard lomba drum band anak TK/RA tingkat kabupaten

Juara Harapan II lomba mewarnai TK tingkat kabupaten, Meica Zaidan