JOMBANG - Pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kabupaten Jombang, Kamis (19/12/2019), di Aula 1 Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jombang ternyata menguak banyak hal. Selain teridentifikasinya banyak seni tradisi yang lahir maupun berkembang di Kota Seribu Pesantren ini, ternyata juga menguak sejumlah permainan tradisional yang kini hanya menyisakan kenangan.

Ironisnya sejumlah permainan tradisional tersebut sudah tak lagi dimainkan oleh para anak-anak di era milenial. Hal itu tak lain diakibatkan tidak adanya yang memperkenalkan lagi sekaligus kalah populer dengan permainan yang disediakan kecanggihan teknologi yang berbasis internet. Selain tidak sampai melelahkan fisik, secara visual maupun audio lebih menarik. Salah satunya adalah Jor-joran.

Permainan yang lekat dengan anak-anak pedesaan masa itu selagi mencari rumput. Kerap kali dilangsungkan ketika usai mencari rumput untuk ternak-ternak mereka di rumah. Lantaran nantinya rumput yang diperoleh digunakan sebagai taruhan, tak pelak bagi yang kalah mesti rela mencari lagi. Walaupun harus begitu, anak-anak zaman sekitar tahun 1960-an sangat menggemarinya. Bahkan rela harus melayang lagi rumput yang dikumpulkan sebab digunakan sebagai taruhan lagi.

Disebutkan oleh salah satu peserta dari Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Badri bahwa waktu ia kecil seringkali dimainkan. Sangking asyiknya ia dan teman-temannya sampai lupa waktu. Bila malam tak datang, maka ia dan teman-temannya tak akan pulang ke rumah.

"Pokoknya setelah bermain sewaktu pulang wajib membawa rumput seikat pada umumnya. Jika sampai tidak hewan peliharaan di rumah baik kambing, kerbau, maupun sapi bisa menangis kelaparan," ungkap lelaki menjelang senja yang kesehariannya menjadi juru rawat prasasti di Desa Katemas tersebut.

Cara bermainnya di awali dengan masing-masing peserta mempersiapkan rumput seikat. Selanjutnya diletakan pada salah satu tempat diikuti dengan menentukan ambang batas jarak lemparan. Kalau sudah ditentukan, biasanya di tandai dengan sebuah tongkat yang terbuat dari bambu.


Badri menjelaskan dengan penuh semangat memperagakan, "Usai menentukan titik batas lemparan. Peserta langsung mempersiapkan diri untuk melempar sabit yang dibawa guna di lempar mendekati titik batas yang telah di tentukan. Bagi yang paling dekat lemparan sabitnya dengan titik batas, maka ia akan menjadi pemenang dan berhak membawa rumput hasil pencarian teman-temannya."

Jangan dibayangkan titik batas itu dekat, bisa jadi mencapai ratusan meter. Jangankan melempar, sekedar berjalan mengambil sabit seusai di lempar pun rasanya enggan. Namun karena kesenangan yang ditimbulkan itu menghapus segala kemalasan yang timbul.

Badri sendiri menambahkan, memang wajar apabila anak-anak sekarang sudah meninggalkan bahkan tidak mengenal lagi. Dirinya saja mengakui kalau puterinya di rumah tidak diajarkan karena permainan tersebut merupakan permainan anak-anak lelaki. Ditambah sekarang ini telpon pintar hampir semua kalangan sudah memiliki. Baik kalangan tua muda atau di pelosol pedesaan hingga perkotaan. Disana sudah lengkap permainan yang dikehendaki.

Walaupun demikian, lelaki berbadan tambun itu pun menanam sedikit harapan pada pemerintah daerah khususnya kepada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang membidangi agar kembali dikenalkan dan dilestarikan. Langkah-langkahnya mudah, bisa lewat sebuah kompetisi permainan tradisional secara rutin atau di sekolah-sekolah khususnya tingkat dasar sudah mulai dikenalkan.

"Harapannya memang begitu mas, tapi jangankan njenengan, gurunya saja tak mengenal," pungkas Badri dengan nada lirih. ◼️ rahmat sularso nh. 

Sebelumnya Berikutnya