Mengajar dari usia 40 tahun tak disangka mampu membawanya dalam jabatan struktural pemerintahan desa. Berlandaskan visi ‘Membangun Desa dengan Jujur dan Adil’ dirinya menang atas 1223 suara dari 2821 Daftar Pemilih Tetap (DPT).

KESAMBEN – Bermula sehari sebelum di tutupnya pendaftaran pencalonan kepala desa di Kabupaten Jombang, masih menjadi hal berkesan bagi seorang Mariyati, S.Pd. Sebagai Kepala Desa Kedungmlati terpilih periode 2019-2025, kesan yang membanggakan selanjutnya yaitu sosoknya menjadi pejabat perempuan pertama berdasarkan ulasan sejarah desa.

“Saya masih teringat ketika itu tanggal (28/8) pukul 11.00 WIB diminta untuk mendaftar dengan memenuhi persyaratan diantaranya mengurus Surat Ketarangan Catatan Kepolisian (SKCK) ke Polsek setempat. Berbekal doa serta amanah masyarakat yang diberikan kepada saya, kemudian mendaftarkan diri ke kantor desa,” tutur Mariyati.

Figurnya yang sudah memasyarakat dengan dedikasinya menjabat sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT), aktif pula di kegiatan organisasi desa seperti Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan kader desa siaga, kader Pos Pelayanan Keluarga Berencana-Kesehatan Terpadu (Posyandu). Sehingga rasa yakin pada kemampuan membimbing dan memimpin menjadi hal utama yang digadang-gadang masyarakat beralasan mengapa memilihnya menjadi salah satu kandidat.

Baca Juga : Jambore Budaya Jawa Melestarikan Kebudayaan di Kalangan Anak Muda
Selain itu, ibu dua orang anak ini juga berprofesi sehari-hari menjadi Guru Taman Kanak-kanak (TK) di Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) II Krandegan, Kedungmlati sejak 2008 hingga beberapa waktu lalu sebelum mengajukan berhenti per (14/10). Mengajar dari usia 40 tahun tak disangka mampu membawanya dalam jabatan struktural pemerintahan desa. Berlandaskan visi ‘Membangun Desa dengan Jujur dan Adil’ dirinya menang atas 1223 suara dari 2821 Daftar Pemilih Tetap (DPT). Diantaranya pemilih dari enam dukuhan Gedung Gayam, Krandegan, Kedungmlati, Kedungpapar, Kedungbendo, dan Ingaskerep.

“Realisasi yang akan dilaksanakan ialah menjalankan pemerintahan dengan jujur, transparan, tak pilih kasih, amanah, dan bijaksana. Hal tersebut tentunya merangkul dari segala aspek sosial untuk memajukan desa menjadi lebih baik dari seluruh pelayanan yang diinginkan masyarakat,” terang perempuan kelahiran 1971 itu.

Perempuan yang kerap disapa Yati ini juga mengaku mendapat dukungan penuh dari tokoh masyarakat, tokoh agama Kedungpapar, Kedungmlati, Krandegan, dan sekitarnya. Serangkaian persiapan yang terbilang mendadak inipun dipersiapkan untuk mampu menjadi bapak dan ibu bagi masyarakat dalam jabatannya. Menurut Mariyati, meski dirinya ditakdirkan sebagai perempuan, melalui kesempatan yang diberi akan menjadi pemimpin perempuan tangguh namun tak juga melebihi sosok laki-laki seperti kodratnya.

“Jadi pemimpin yang baik dan tidak melebihi takdir seorang perempuan, tetep mengikuti kodratnya. Sehingga gagasan awal yang dilakukan yakni memajukan ekonomi kerakyatan. Sebab mayoritas masyarakat berprofesi menjadi petani. Jika makmur secara ekonomi, maka kemakmuran dari sisi pendidikan, sosial juga turut mengikuti. Nantinya proses dari, oleh dan untuk warga berjalan sesuai harapan,” tutup alumni Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tersebut. chicilia risca