“Kantin kejujuran dapat menjadi salah satu metode untuk menanamkan jiwa antikorupsi dan terkandung pula makna dalam budaya antre pada anak sejak dini. Selain itu, karakter anak juga dapat dilihat dari adanya kantin tersebut,” - Kepala TK Al-Husaini, Abdul Rokhim, S.Pd.,AUD. -

NGORO – Kantin kejujuran di sekolah merupakan salah satu sarana untuk membentuk karakter anak didik dan pendidikan antikorupsi. Tetapi seiring waktu, hanya segelintir kantin kejujuran yang mampu bertahan. Sisanya merugi dan akhirnya gulung tikar.

Sehingga pentingnya untuk menerapkan sejak dini makna kantin kejujuran. Hal tersebut sudah dilakukan oleh TK Al-Husaini sejak sembilan tahun silam. Sarana kantin kejujuran dengan nama Kantin Amanah ini mampu bertahan bahkan setiap tahunnya mendapatkan laba yang meningkat. Hingga keuntungannya pun mampu dikembalikan kepada wali anak didik untuk kesejahteraan bersama seperti pembiayaan syukuran sekolah.

Tampilan kantin kejujuran ala TK Al-Husaini begitu sederhana. Tersedia almari lebih kurang berukuran 100 cm x 50 cm yang bagian atasnya dibiarkan terbuka dengan ditambahkan rak plastik tiga susun. Almari yang diletakkan di dekat pintu keluar ruang kepala TK. Setiap hari sudah tersedia jajanan makanan ringan dan susu kemasan yang siap untuk untuk.

Baca Juga : Rawon Klenteng Mojoagung Suwiran Dagingnya Bikin Beda

“Bukan tanpa alasan kantin kejujuran ini dibentuk, bermula dari keresahan sebab kala perdana lembaga berdiri tak ada satupun pedagang jajanan anak yang tersedia. Sehingga anak didik merasa kesulitan untuk mengisi perut yang lapar. Bermodalkan delapanpuluh ribu kala itu, usaha mandiri oleh lembaga berkembang hingga kini,” jelas Kepala TK Al-Husaini, Abdul Rokhim, S.Pd.,AUD.



Pria yang sering di panggil Rokhim ini juga bercerita, selain pembeli benar-benar dituntut untuk jujur pada diri sendiri dengan meletakkan uang pembayaran pada kotak yang tersedia, anak didik menjadi bermoral. Pendidikan moral kepada anak didik untuk bersikap jujur, adil, dan menciptakan kemandirian.

“Kantin kejujuran dapat menjadi salah satu cara untuk menanamkan jiwa antikorupsi dan terkandung pula makna dalam budaya antre pada anak sejak dini. Selain itu, karakter anak juga dapat dilihat dari adanya kantin tersebut,” harap pria berkumis tipis itu.

Berdasarkan pengamatan Abdul Rokhim, dirinya menilai metode ini sukses dengan prosentase di atas 90%. Sisanya masih belum pahamnya anak didik baru tentang kantin kejujuran.

“Disana, anak didik terlatih untuk mengenal uang dengan caranya sendiri. Artinya ketika ada keterlibatan anak didik harus mengambil kembalian uang sesuai dengan pembelanjaan, dengan teliti akan menghitung berapa seharusnya uang yang diterima dari beli makanan tersebut. Tentu masih diawasi oleh guru dari jauh,” ungkap Abdul Rokhim.

Lembaga yang memiliki lebih kurang enampuluh anak didik dari empat kelas ini akan terus mengembangkan melakukan pengimbasan. Menurut Guru Kelas B1, Nadlifatul F., S.Pd.,AUD. anak didik betul amanah menerapkan kejujuran. Terdapat kolaborasi antar teman yang saling membimbing dan mengingatkan untuk tepat mengambil jajanan sesuai uang yang dimiliki. Anak didik setiap belanja selalu menanyakan apakah uangnya mendapatkan kembalian, jika ada kembalian berapa uang yang harus diambilnya. Sehingga begitu terdapat pengambilan uang disesuaikan dengan harga beli barang.

“Kalau dari kecil ditanamkan seperti nilai dasar kejujuran, kemandirian, dan nilai moral lainnya, akan berkesinambungan hingga lulus dari TK. Selaras hingga tumbuh besar yang didukung lingkungan keluarga berkesinambungan turut aktif menerapkan pembiasaan tersebut. chicilia risca

Visi :

Membangun kepribadian anak didik yang beriman, berilmu, dan berakhlaqul karimah.

Misi :

Menanamkan iptek, imtaq,serta etika sosial sejak dini kepada peserta didik dalam suasana belajar yang kondusif dan menyenangkan.
Sebelumnya Berikutnya