Menerapkan metode integrasi, SDN Sukomulyo, Mojowarno memadukan antara ilmu umum dan ilmu keagamaan. Perpaduan tersebut diupayakan terjadi dalam setiap lini kegiatan yang ada pada SD yang berdiri sejak tahun 1979 ini.

MOJOWARNO – Setiap lembaga pendidikan memiliki cara atau metode tersendiri dalam setiap kegiatan yang dilakukan, baik itu intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Tujuannya selain sebagai panduan dalam menjalankan kegiatan, juga dapat digunakan untuk memberikan ciri khas pada lembaga sehingga bisa digunakan sebagai sarana promosi kepada masyarakat luas.

Menerapkan metode integrasi, SDN Sukomulyo, Mojowarno memadukan antara ilmu umum dan ilmu keagamaan. Perpaduan tersebut diupayakan terjadi dalam setiap lini kegiatan yang ada pada SD yang berdiri sejak tahun 1979 ini.

“Tidak hanya pada saat materi pembelajaran saja materi-materi keagamaan disisipkan, melainkan juga ketika kegiatan ekstrakurikuler bahkan ketika memperingati hari-hari besar nasional tetap ada muatan keagamaannya,” ujar salah seorang guru SDN Sukomulyo, Muhammad Mudlofar.

Baca Juga : Bupati Jombang 100% Dukung Program APKASI

Pria 49 tahun itu kemudian lantas mencontohkan perpaduan materi keagamaan pada kegiatan esktrakurikuler misalnya adalah penggunaan lagu mars Yalal Waton pada ekstrakurikuler drumben. Sedangkan di ekstrakurikuler Pramuka diciptakan sebuah kreasi materi tepuk tayamum yaitu memadukan antara terpuk pramuka yang khas pada kegiatan pramukan dengan cara bertayamum. Begitu pula saat peringatan HUT RI pada 17 Agustus, tidak hanya diisi dengan lomba-lomba seperti pada umumnya di SDN Sukomulyo diisi juga dengan lomba keagamaan yg sederhana seperti menghafal qunut.

Begitu kentalnya perpaduan materi keagaaman pada kegiatan pembelajaran dan hal-hal umum lain di SDN Sukomulyo, pada akhirnya membuat masyarakat menjuluki sekolah ini sebagai SD bergaya pesantren. Dalam beberapa kali pertemuan dengan wali peserta didik, mereka mengungkapkan senang dan bersyukur dengan kegiatan keagamaan yang semakin banyak. Mereka mengatakan bahwa hal tersebut membawa dampak positif pada peserta didik. Anak-anak dinilai lebih rajin beribadah dan juga bersikap lebih sopan.

“Selain memang kultur masyarakat sekitar yang juga sangat kental keagamaannya, memadukan kegiatan umum dengan materi keagamaan dilakukan sebagai sebuah strategi untuk bersaing dengan lembaga sederajat yang letaknya bersebelahan,” ungkap Kepala SDN Sukomulyo, Mahmud, S.Pd.

“Namun yang jauh lebih utama adalah kami ingin memberikan bekal ilmu yang seimbang antara ilmu umum dan ilmu keagamaan pada peserta didik. Kami ingin mereka tidak hanya pandai dalam ilmu umum tapi juga harus cerdas beragama dan mampu bersosialisasi pada masyarakat melalui kegiatan keagamaan yang memang identik dengan lingkungan mereka,” tambahnya.

Harapannya ke depan, SDN Sukomulyo tetap bisa memberikan pelayanan yang terbaik pada peserta didik. Mampu melengkapi sarana prasarana penunjang keberlangsungan kegiatan para peserta didik. Hubungan yang tercipta dengan wali peserta didik juga bisa semakin baik sehingga mampu menciptakan sinergi yang baik untuk memaksimalkan hasil pendidikan yang didapat peserta didik. fitrotul aini.
Sebelumnya Berikutnya