“Respon ini begitu luar biasa, ternyata secara mayoritas berkontribusi aktif dalam literasi ketika mendapat kesempatan untuk mengembangkan sesuai yang diinginkan,” - Ketua Panitia Festival Literasi 2019, Dito Firmansyah Rosidi -

MOJOAGUNG – Berkilas balik pada tahun 2016 untuk penumbuhan budi pekerti, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Hal tersebut bagian dan implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015.

Seiring dengan itu SMA Negeri Mojoagung juga menerapkan GLN kepada seluruh warga sekolahnya. Pembiasaan itulah yang secara turun temurun dilaksanakan hingga memberikan dampak positif bagi pengembangan literasi yang sesuai. Kesesuaian ini dilihat dari minat dan antusias warga sekolah yang mampu mengembangkan ide berdasarkan atas keinginan dan kesukaan peserta didik. Pasalnya pada pelaksanaan Festival Literasi 2019 ini, memberikan kesempatan pada seluruh pihak dengan latar belakang sosialnya untuk mengembangkan karya secara bebas.

Pembina Literasi SMA Negeri Mojoagung, Anik Noerachini, M.Pd. mengungkapkan, “Sejak adanya GLN, SMA Negeri Mojoagung juga menerapkannya. Setiap tahunnya selalu berkembang dengan beberapa sajian inovasi. Kemeriahan tersebut terlihat pada pelaksanaan Festival Literasi 2019 pada Kamis (24/10). Puncak acara diisi dengan menulis tiga paragraf atau Pentigraf.”

Baca Juga : SMP Negeri 1 Megaluh Terapkan Ujian Berbasis Android

Anik Noerachini menambahkan, secara kolosal acara tersebut diikuti sebanyak lebih kurang sembilan ratus peserta didik serta tamu undangan yang berada dekat dengan lingkungan sekolah. Terasa suasana yang berbeda sangat terasa pada tahun ini. Pembedanya ialah tahun ini tidak adanya pawai literasi melainkan diganti menulis Pentigraf oleh seluruh warga sekolah.

Kepala SMA Negeri Mojoagung, Zainal Fatoni, S.Pd.,M.MPd.,M.Pd.,M.Si. menjelaskan, “Kegiatan tersebut berlangsung guna meningkatkan serta menjaring bakat berliterasi dan berkarya melalui menulis. Peluang inilah yang disajikan untuk mengetahui seberapa besar keterlibatan selama ini usai menerapkan pembiasaan berliterasi, yang mengkombinasikan hasil olahan imajinasi kreatif warga sekolah.”

Zainal Fatoni juga bercerita, terdapat serangkaian kegiatan pendukung selain menulis Pentigraf. Seperti diantaranya pemilihan putra putri literasi, lomba menulis cerpen dan puisi, lomba musikalisasi puisi, lomba strory telling, lomba membuat poster digital, lomba kelas literasi, kaligrafi, penelitian sederhana, dan lain sebagainya.

Kemeriahan ini terasa lengkap ketika pada acara puncak yakni lomba Pentigraf berlangsung. Antusias warga sekolah memenuhi hamparan pelataran sekolah duduk bersila, hingga hampir tak terlihat ruang kosong meski sekedar melintas berjalan. Tampak seluruh peserta begitu menikmati dan mencari posisi serta suasana ternyaman untuk memulai menggoreskan pena di atas selembar kertas putih yang disediakan panitia.

“Meski Pentigraf memiliki ketentuan hanya menuliskan tiga paragraf cerita, justru hal ini di luar ekspetasi panitia. Panitia menerima karya tulisan lebih dari tiga paragraf bahkan hingga terlihat penuh pada semua sisi kertas yang disajikan. Respon ini begitu luar biasa, ternyata secara mayoritas berkontribusi aktif dalam literasi ketika mendapat kesempatan untuk mengembangkan sesuai yang diinginkan,” terang Ketua Panitia Festival Literasi 2019, Dito Firmansyah Rosidi. chicilia risca
Sebelumnya Berikutnya