Kepala Bidang Konservasi Lingkungan DLH Kabupaten Jombang, Mohammad Amin Kurniawan, S.T., M.Ling menjelaskan bahwa wilayah Dusun Mendiro akan dikembangkan menjadi salah satu area Wonosalam Eco Tourism. Semangat dari Eco Tourism ini adalah menciptakan destinasi wisata yang juga tetap menjaga kelestarian lingkungan.

WONOSALAM – Menyadari pentingnya hutan bagi keberlangsungan kehidupan manusia merupakan hal yang sudah seharusnya dilakukan. Karena secara sadar atau tidak, manusia menggantungkan hidupnya pada hutan. Ketersediaan sumber kehidupan seperti oksigen dan air dipengaruhui juga kondisi kelestarian hutan.

Pernah mengalami masa-masa segarnya air dan udara serta melimpahnya hasil bumi seperti aneka buah dan sayur pada periode di bawah tahun 1990-an. Kemudian semua itu sempat hilang lantaran terjadinya eksploitasi yang dilakukan oleh oknum tertentu terhadap pepohonan yang ada di hutan, membuat warga Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam berkomitmen untuk menjaga kelestarian hutan.

Dipelopori oleh Wagisan, secara swadaya beberapa warga Dusun Mendiro yang tergabung dalam Kelompok Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air (Kepuh) kembali mereboisasi lahan hutan seluas hampir tujuhpuluh hektar dengan beragam jenis tumbuhan. Di awal usahanya, hampir sebanyak sepuluhribu bibit dari empatpuluh jenis tanaman ditanam kembali pada lahan yang gundul akibat eksploitasi.

Baca Juga :
Dekranasda Kabupaten Jombang Selain Mempromosikan Juga Melaksanakan Pendampingan

“Jika kerusakan hutan ini dibiarkan terus-menerus yang akan mengalami kerugian bukan hanya warga sekitar, melainkan banyak orang. Masyarakat sekitar kehilangan pendapatan karena sumber daya alamnya dirusak hingga masyarakat luas yang mungkin bisa terkena dampak bencana lingkungan seperti mengalami kekurangan air atau bahkan terancam terkena longsor karena di atas sini sudah tidak ada lagi pepohonan yang bisa menyimpan cadangan air sekaligus mencegah terjadinya longsor,” jelas Wagisan.

Dalam usahanya untuk merevitalisasi kembali hutan yang gundul itu Wagisan dan timnya tentu mengalami berbagai halangan. Dari terbatasnya dukungan, dana hingga perseteruan dengan pihak-pihak atau oknum yang masih ingin melakukan pembalakan liar. Bahkan menurut kisah Wagisan, salah satu anggotanya pernah ada yang sampai diseret ke ranah hukum hanya karena mencoba melawan para oknum pembalak liar.

Namun segala usaha swadaya yang telah hampir sepuluh tahun dilakukan secara terus-menerus tanpa mengenal lelah mulai merasakan keuntungannya. Beragam hasil tumbuhan yang dulu ditanam, seperti petai, kemiri, durian, jambu, nangka, alpukat, manggis, dan lain sebagainya mulai berbuah dan siap dipanen. Dari hasil panen tersebut masyarakat bisa menambah penghasilan dan mendapatkan keuntungan dengan menjualnya secara langsung atau kepada para pengepul.

“Buah-buahan atau hasil lain dari tumbuhan yang bisa dijual kembali ini menjadi alasan juga mengapa pemilihan tumbuhan yang ditanam kembali untuk reboisasi hutan adalah jenis tumbuhan berbuah bukan yang tumbuhan berkayu. Kalau yang ditanam tumbuhan berkayu dikhawatirkan akan ditebang lagi jika sudah besar,” ungkap Wagisan.

Disamping mengembalikan kondisi hutan seperti sebelumnya dengan kembali menghijaukan lahan yang sejatinya berada di bawah tanggung jawab Perusahaan Umum (Perum) Perhutani, usaha konservasi yang dilakukan Wagisan juga melindungi satwa serta ekosistem yang ada sebelumnya. Aneka hewan endemik yang biasa hidup pada ekosistem hutan bisa kembali ditemui. Seperti lutung, kancil, kijang, berbagai jenis burung, hingga macan kumbang.

Aktivis lingkungan sekaligus Direktur Operasional Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), Amiruddin mengatakan usaha yang dirintis oleh Wagisan bersama Kepuh dan masyarakat Dusun Menduro merupakan suatu upaya yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar area hutan. Mereka sudah seharusnya dilibatkan untuk menjaga kelestarian hutan agar tetap bagus, terjaga, dan terawat. Sehingga mata air yang ada terus mengalir dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat dari hulu hingga hilir. Disisi lain, keterlibatan masyarakat ini juga dapat dijadikan sebagai upaya agar hutan tidak dialihfungsikan menjadi bentuk yang lain oleh oknum-oknum tertentu.

“Sangat penting melibatkan masyarakat untuk menjaga hutan. Karena merekalah yang setiap hari berinteraksi di hutan dengan berbagai ikatan baik secara emosional dan ekonomi yang terkandung di dalamnya,” ujar Amiruddin.

Pria yang sudah mendampingi Kepuh sejak 2010 ini juga menambahkan, agar usaha konservasi alam ini terus berjalan berkesinambungan setidaknya ada tiga hal yg harus diperhatikan, yakni masyarakat diberikan informasi mengenai pengelolaan hutan yang berkelanjutan, masyarakat diberikan akses berpartisipasi untuk menjaga hutan dan mata air, dan masyarakat diberikan akses untuk mengelola hutan yang bertujuan untuk menyejahterakan dirinya.

Untuk itu, menurut Amiruddin dengan segala macam upaya dan hasil yang telah didapatkan di wilayah Mendiro sekarang, sudah seharusnya masyarakat mendapatkan apresiasi lebih dari pemerintah. Setidaknya diberikan hak dan tanggung jawab penuh dalam pengelolaan hutan yang selama ini telah di jaga kelestariannya.

“Saat ini kami tengah mencoba bernegoisasi pada pemerintah juga Perum Perhutani untuk memberikan status hutan lindung yang dijaga itu menjadi hutan desa. Namun sepertinya masih perlu upaya lebih lagi karena Perum Perhutani menghendaki bagi hasil, bukan sepenuhnya menjadi milik desa,” jelas Amiruddin.

 
Dikembangkan Menjadi Wonosalam Eco Tourism.

Terlepas dari status, usaha yang telah dilakukan oleh Wagisan dan warga Dusun Mendiro untuk menjadikan hutan kembali lebat dan hijau selain memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar juga menarik wisata lokal serta mancanegara. Tujuannya pun juga beragam, ada yang hanya sekadar berekreasi menikmati indahnya pemandangan hingga studi lingkungan. Bahkan tidak sedikit kelompok belajar seperti peserta didik dan mahasiswa yang datang untuk belajar mengenai kehutanan dan upaya konservasi hutan sekaligus melakukan aksi penanaman hutan di Dusun Mendiro.


“Semoga dengan banyaknya perhatian dari masyarakat luar juga, ekosistem hutan di Dusun Mendiro tetap terjaga, dan menjadi sumber penghidupan masyarakat yang turut menjaga kelestarian hutan serta mata air,” harap Wagisan.

Atas upaya yang telah dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Mendiro, Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memberikan apresiasi yang mendalam. Potensi yang dimiliki oleh Dusun Mendiro pun kemudian dinilai oleh pihak DLH Kabupaten Jombang dapat dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata unggulan Jombang.

Kepala Bidang Konservasi Lingkungan DLH Kabupaten Jombang, Mohammad Amin Kurniawan, S.T., M.Ling menjelaskan bahwa wilayah Dusun Mendiro akan dikembangkan menjadi salah satu area Wonosalam Eco Tourism. Semangat dari Eco Tourism ini adalah menciptakan destinasi wisata yang bukan hanya membangun infrastruktur untuk tempat wisata, melainkan lebih pada menciptakan tempat wisata yang juga tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Sementara itu, PLT DLH Kabupaten Jombang, Abdul Qudus, SH dalam acara Festival Green Culture & Traditional Culinary yang diadakan pada Minggu (8/12) juga berharap kuliner khas Mendiro juga dapat turut berkembang seiring dengan sumber daya alam yang melimpah.

Air terjun Selo Lapis, Bird View Burung Rangkong, Good View, dan perjalanan menyusuri Sungai Booro merupakan destinasi wisata yang bisa dinikmati oleh pengunjung ketika datang ke Dusun Mendiro. Selaku pengelola, Wagisan menyarankan untuk melakukan kunjungan secara berkelompok. fitrotul aini.