Cerita Untuk Ibu


Surya Indah Pradina*

Ku harap ada sosoknya yang begitu lembut memelukku

Aku merindukannya ketika semesta tidak lagi berbaik hati padaku

“Nu, ayo cepat bersiap-siap. Cepatlah sedikit nanti kamu telat ke sekolah”, kata ayah penuh khawatir jika aku terlambat ke sekolah. Aku tahu dibalik marahnya kadang tersimpan rasa sayang yang sulit diungkapkan begitu saja, meskipun kadang aku tak paham dan menganggap bahwa ayah terlalu keras padaku.

“Belajar yang baik dan ingat jangan lagi bertengkar dengan temanmu”, pesannya setiap kali mengantarkanku sampai gerbang sekolah. Maaf, bu. Aku sering sekali bertengkar dengan temanku atas kesalahan kecil. Jika engkau tau, bu. Aku sangat sulit mengendalikan emosiku sendiri. Pernah aku mencoba untuk diam dan tidak melawan ketika temanku mengolok-olok bahwa ibuku adalah seorang pelacur. Tapi maafkan anakmu ini sekali lagi, jika akhirnya aku menghajarnya. Bagaimana mungkin aku bisa berdiam saja jika ada hal-hal jelek tentang ibu keluar dari mulut teman-temanku?

Biarkan saja, Nu. Ibumu itu orang yang baik, hanya saja ibumu pergi untuk mencari tambahan uang demi sekolahmu. Hanya itu yang dikatakan nenek padaku setiap kali ia merawatku saat muka dan tubuh ini lebam karena berkelahi. Aku hanya bisa mengiyakan perkataannya tanpa bisa berusaha menuruti apa yang diminta.

Baca Juga: TK Dharma Wanita Dukuhmojo Mojoagung Biasakan Bermain Permainan Tradisional

Jika ibu lihat disini, neneklah yang mengurus segala keperluanku. Entah memastikan aku makan tiga kali sehari, entah memastikan aku telah mengerjakan tugas-tugas sekolah dengan baik dan entah memastikan ada atau tidak uang jajanku agar aku tidak iri ketika teman-temanku bisa jajan enak. Apakah ibu tidak merindukan wanita tua berumur 65 tahun ini? Beliau yang setiap malam diam-diam akan melihat foto anak perempuannya, mengingat dan berandai anak perempuannya ada bersamanya di rumah.

Aku tahu di usia nenek yang sudah tua ini, ia mungkin ingin menikmati masa tua dengan tenang. Sayangnya, karena ada aku maka hidupnya penuh dengan kerepotan. Ketahuilah, bu, nenek masih saja bekerja sebagai asisten rumah tangga di tempat kerjanya dulu. Saat Dzuhur, nenek akan izin pulang demi memastikan aku telah makan siang dan mengingatkan ayah menjemputku ke sekolah.

Apa ibu ingat tentang celengan bentuk ayam besar milik ayah? Celengan itu telah terpecah hanya untuk aku. Saat itu masih sebulan ibu berangkat bekerja, kata nenek ibu bekerja di tempat yang jauh dan mengharuskan ibu tidak pulang untuk waktu yang lama, dan aku belum bisa menerima keadaan jauh dari ibu. Aku memilih menjadi anak yang nakal, meskipun ibu berpesan agar aku menjadi anak baik dan pintar. Tidak ada penyesalan atas pilihanku menjadi seorang anak yang nakal, bandel, dan brutal.

Ada kesenangan tersendiri ketika aku melakoninya, di mana orang-orang berhasil ku buat marah dan ku buat khawatir dengan tidak pulang berhari-hari. Baik ayah maupun nenek mencariku dan dengan itulah aku merasa bahwa aku masih disayangi. Maaf ya, bu. Namun, aku merasa bahagia di atas kekhawatiran ayah dan nenek. Tepat pukul 00.10 WIB, seorang pemuda menghubungi ayah dan mengatakan aku terserempet mobil. Sekonyong-konyong ayah jatuh terhempas akibat berita itu. Akhirnya celengan itu terpecah demi melunasi biaya rumah sakit. Atas kejadian itu, aku telah kehilangan kemampuan berjalan pada kaki sebelah kiri. Ya, anakmu telah cacat, ibu.

****

Pukul 12.30 WIB, matahari sedang angkuh dengan teriknya. Hmmm kupikir mungkin ia sedang tidak berbaik dengan bumi. Terlihat jalan-jalan beraspal sampai berkilau dengan pantulan terik yang menyengat ini. Rasa panas tengah menggerogoti tubuhku yang tengah berjalan di bawah teriknya. Lalu, kurasakan pula keringat mulai mengucur pada setiap pori-pori kulit yang sengaja terbuka dan menguap. Gerah. Tapi sudahlah, baru begini saja aku sudah mengeluh, padahal ada yang bersitahan panas-panasan bekerja bahkan hujanpun kadang masih terus bekerja, yups tentu ia adalah ayahku. Bangunan yang hampir berdiri kokoh akan disulap perlahan-lahan menjadi gedung megah dan mewah. Ibu pasti tahu apa yang aku maksud kan? Dan benar, ayah masih menggeluti pekerjaan yang sama, yaitu menjadi kuli bangunan yang upahnya tak sebarapa namun cukup untuk menghidupiku. “Assalamualaikum, yah,” salamku seraya mendekatinya yang sedari tadi duduk melamun di sela-sela waktu istirahat bekerja. “Waalaikumsalam Wr. Wb., nak. Ada apa?” jawabnya sambil terburu-buru memasukkan dompet ke sakunya kembali. Aku mengerti, jika ayah baru saja melamun sambil memandang foto ibu, perempuan cantik yang masih menguasai hati dan pikirannya, perempuan yang bagi ayah telah memberi karunia seorang anak keturunannya. “Ayah kangen ibu ya? Kira-kira ibu kapan pulang sih?” tanyaku menelisik. Dengan enteng ayah menjawab sekenanya bahwa memang ayah sedang kangen ibu dan secepatnya ibu akan pulang bersama kami di rumah kecil milik nenek. Rumah itu tak berubah sama sekali, dan kuharap ibu secepatnya pulang.

“Yah, bolehkan aku meminta uang 300 ribu untuk melunasi uang buku yang masih kurang?” pintaku.

“Boleh, Nu. Tapi besok ya, besok ayah akan ke kota mengambil uang di bank. Sepertinya Ibumu telah mentransfer uang untukmu. Jadi, sabar ya, Nu”. Bu, sungguh aku tidak ingin ayah berbohong lagi tentang ini, seakan aku tidak harus tahu bahwa sebenarnya sejak lima tahun terakhir ibu tidak lagi mengirim uang untuk aku. Bahkan sudah lama sekali ibu tidak memberi kabar kepada ayah maupun nenek. Kau tahu, bu? Sudah banyak tetangga yang bilang bahwa di negeri seberang ibu telah memilih kehidupan sendiri tanpa kami, ibu telah meninggalkan kami dan memilih membangun hidup baru bersama lelaki lain.

Dan aku sudah mengerti bahwa terakhir kali ibu memberi kabar ke ayah dengan hadir selembar foto keluarga kecil ibu yang baru bersama lelaki lain yang jauh dari ayah. Lelaki yang lebih kaya dan bisa membahagiakan ibu lebih dari yang dilakukan ayah kepada ibu. Lalu, sejak aku tahu semua itu, rasa rindu dan rasa cinta untuk ibu telah berganti menjadi kebencian yang terkadang membuat isi dadaku sesak mengingat betapa tega Ibu kandungku membuangku begitu saja. Namun, aku tidak paham bagaimana ayah masih bisa menyakinkan aku bahwa ibu adalah seorang ibu yang baik dan penyayang, sedang kenyataan yang aku dengar ibulah pelakon yang merusak hubungan denganku dan ayah. Pulanglah, bu. Sekali saja aku hanya ingin bertanya kepadamu tentang kesalahan apa yang aku perbuat dengan ayah hingga membuat ibu pergi?

Nu, ini nomor telepon ibumu, tolong hubungi karena nenek pengen ngobrol, nenek sudah kangen, sudah lama ibumu tidak memberi kabar. Pinta nenek ketika rasa kangennya pada ibu muncul, dan berkali-kali aku akan beralasan keluar untuk mengerjakan tugas sekolah. Dulu ibu bilang ke nenek bahwa Ibu pergi hanya sebentar kan?

Ibu bilang hanya pergi tiga tahun saja, tapi pernahkah ibu menghitung sudah berapa lama ibu tak pulang? Sadarkah ibu bahwa waktu ibu pergi aku masih berumur 9 tahun? Dan apakah ibu tahu bahwa sekarang umurku sudah 17 tahun? Aku mengerti semuanya, bu. Hanya saja tentang keburukan ibu dengan kami, tak sekalipun ayah memberitahu nenek. Ayah menyimpan kepahitan seorang diri tanpa dibagi denganku sedikitpun. Sekali lagi, jika ibu membaca ini, aku mohon pulanglah, bu. Setidaknya ibu pulang demi nenek. Demi wanita yang melahirkan ibu. Sungguh aku tidak ingin kehilangan nenek. Pulanglah sebentar dan katakan kepada nenek bahwa ibu menyayangi nenek, setelah itu aku tidak akan mencegah ibu untuk pergi meninggalkan kami lagi.

*) Dapat di temui di indahpradina1609@gmail.com