PLOSO – Mengikuti kompetisi untuk peserta didik tentu banyak memberikan latihan akan hal-hal yang baik. Mulai motivasi berjuang memperoleh juara, semangat bersaing, percaya diri, dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Kalau pun hasil akhirnya menjadi juara, itu adalah hadiah atas kerja. Sebaliknya jika kalah bersaing, tidak harus berputus asa. Melainkan harus kembali meningkatkan kemampuan dan mengikuti pada kesempatan lainnya.

SDN Rejoagung Ploso menyadari hal positif yang akan diterima oleh peserta didiknya. Sehingga selalu mendorong mereka untuk berkompetisi dan berani bersaing. Tentu tidak sekedar meraih juara, melainkan memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik untuk keberlanjutan pembelajarannya ke depan.

Kepala SDN Rejoagung Ploso, Wiji Shodik, S.Pd., mengatakan bahwa persiapan dan penjaringan peserta didik dalam mengikuti kompetisi tidak mudah. Banyak tahap yang dilakukan agar mendapatkan bibit-bibit unggul nantinya. Seperti halnya menyusun program pembinaan jangka menengah dan tahunan.

Baca Juga: SMA Negeri Kesamben Percantik Infrastruktur

“Jangka menengah (kurun waktu tiga tahun) sangat penting disiapkan dalam menyongsong peserta didik dalam laga lomba tiga tahun yang akan datang. Program tersebut hendaknya memuat beberapa aspek penting, antara lain menetapkan calon peserta, menentukan sistem pembinaan yang akan diterapkan, jadwal pembinaan, menentukan pembina, dan menetapkan alokasi anggaran yang harus disiapkan,” papar Wiji Shodik ketika ditemui di ruangannya.

Selanjutnya, tambah pria bertubuh tegap ini, menyiapkan substansi materi. Soal olimpiade memiliki karakteristik berbeda dengan soal pada pembelajaran di sekolah. Untuk memecahkan soal tersebut, selain peserta didik harus memahami konsepnya, mereka juga dibekali cara khusus (trik) yang membuatnya mampu menyelesaikan soal lebih cepat dan benar.

Selain menyiapkan materi, pembinaan bahasa perlu diberikan. Pasalnya soal-soal olimpiade juga menyajikan soal dalam Basaha Inggris. Peserta didik sebenarnya tidak dituntut untuk menguasainya, hanya saja kosakata yang banyak dijumpai dan umum digunakan dalam olimpiade. Kebanyakan peserta olimpiade salah menjawab bukan karena tidak menguasai substansi materi, tetapi gagal karena tidak memahami isi atau maksud soal yang disajikan dalam Bahasa Inggris.

“Peralatan praktik atau eksperimen harus disiapkan. Pengalaman bereksperiman sangat diperlukan bagi mereka. Karena meskipun tidak dilakukan uji terhadap kemampuan praktik atau eksperimen, pengalaman melakukan hal itu dibutuhkan untuk memecahkan soal-soal yang hanya bias dipecahkan dengan tepat. Yakni ketika peserta benar-benar memiliki pengalaman mempraktikkan,” terang Wiji Shodik.

Tak ayal, dengen konsep yang diterapkan tersebut, SDN Rejoagung Ploso berhasil meraih prestasi dalam beberapa kejuaran olimpiade. Yang paling baru adalah kejuaran Olimpiade MIPA. Dalam ajang itu, murid SDN Rejoagung bernama Ragil Yulio Kurnianto meraih juara I, sedangkan juara III diduduki M. Farhan Octavian.

“Alhamdulillah dengan metode yang diterapkan tersebut dapat mengantarkan peserta didik kami menjadi juara pada Olimpiade MIPA. Kedepannya mereka akan kami bina untuk ikut dalam ajang selanjutnya, yaitu Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2020,” tegasnya.

Reporter/Foto: Aditya Eko P./Istimewa
Sebelumnya Berikutnya