Seporsi Tahu Telor ala Bu Kulimah. (Donny)


JOMBANG – Selepas Telatah Kebo Kicak di guyur hujan, rasa lapar rasanya datang bergelayut. Menyantap makan hangat yang nikmat menjadi penawar yang pas. Selain itu dapat mengobati dinginnya suasana kala itu.

Pilihan tepat adalah menjajal Tahu Telor Bu Kalimah atau masyarakat yang mengidolakannya lebih mengenal dengan sebutan Tahu Lontong Hotel Udarti. Bukannya tanpa alasan mendapat sematan itu, karena sebelumnya memang Tahu Telor Bu Kalimah berjualan tepat didepan Hotel Udarti yang berada di Jalan Urip Sumoharjo Jombang. Kini berpindah di gang sebelah Barat Hotel Udarti.

Petisnya tidak mendominasi, namun ada kacang yang membuncahkan kegurihan dengan porsi sepadan. Lengkap juga dengan beberapa bumbu rempah penunjangnya.

Sambil menantikan pesanan saya diolah dan dibuatkan bumbunya oleh Bu Kalimah, perempuan paruh baya ini menceritakan bila sudah 25 tahun berjualan Tahu Telor. Makanan yang memasyarakat dengan cita rasa kenikmatan tak tertandingan sebagai penawar perut keroncongan.

Baca Juga: Musala Thok Ada dari Sebelum Indonesia Merdeka

Benar saja ketika pesanan saya datang, sekilas langsung menyilaukan pandangan. Sebab disajikan terpisah, antara tahu telor dan lontongnya. Biasanya pasti lumrah menjumpai penyajiannya menjadi satu dalam wadah yang sama. Namun di Tahu Telor Bu Kalimah keduanya dipisahkan.

Pengulekan Bumbu Petis dan Kacang. (Donny)

Mendadak dalam benak saya terbesit pikiran pasti ada sesuatu yang berbeda di sajian tahu telornya. Suapan pertama sengaja saya menyendok tahu telor, memang benar olahan tahu telornya tidak sebatas tahu yang dibalut kocokan telor belaka. Namun serasa ada bumbu penambah sehingga terasa nyaman dilidah biarpun tanpa menggunakan bumbunya.

Proses penggorengan tahu telor. (Donny)

Tetapi ketika ditambah dengan bumbu, nendang! Semakin menguat rasanya dalam pergulatan kenikmatan yang tiada tertandingi. Petisnya tidak mendominasi, namun ada kacang yang membuncahkan kegurihan dengan porsi sepadan. Lengkap juga dengan beberapa bumbu rempah penunjangnya. Jadi sewaktu dimakan dengan lontongnya pun, kian menambah selera untuk tidak berhenti setiap kecapannya.

Antrian para pembeli. (Donny)

Kalau tak percaya, silakan coba sendiri! Temukan pembedanya daripada menu serupa lainnya. Tapi jangan sampai terlalu malam, sebab tak sampai pukul 21.00 WIB biasanya kerap sudah ludes dipesan pelanggan yang rela antre mengular di sekitar warungnya yang sederhana.

Reporter/Foto: Donny Darmawan

Lebih baru Lebih lama