Sebelum menjadi Desa Ngumpul, desa ini memiliki sebutan lain yakni Desa Wono Ayu. Munculnya nama Desa Ngumpul dimaknai dari peristiwa kala itu terjadi agresi militer Belanda. Kondisi saat itu berbagai ancaman bisa datang kapan saja ketika tentara Belanda datang menyerang.

JOGOROTO – Nama suatu daerah tidak lepas dari sejarah masa lalunya. Laiknya Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto. Kalau di artikan Ngumpul dalam Bahasa Jawa adalah berkumpul. Namun kebenarannya mesti dilansir ulang kepada tokoh desa ataupun pituwo (orang yang dituakan) yang memiliki pengetahuan itu.

Berdasarkan tutur dari tokoh masyarakat Desa Ngumpul, Khotim Sidiq, B.A., terdapat empat makam yang diyakini masyarakat sebagai moyang. Dikenal dengan panggilan Mbah Sudriyo yang membuka jalan atau yang lebih dikenal dengan babat alas. Makam tersebut berjumlah empat, diantaranya Mbah Sudriyo bersama dengan istri, serta dua makam lainnya yang tak diketahui kebenaran identitasnya.

“Diyakini dahulu moyang yang membuka jalan berasal dari Wilayah Kecamatan Tembelang. Hal ini lantaran diketahui hingga saat ini masih ditemui keturunannya seperti cucu dan cicitnya yang mayoritas tinggal di daerah Tembelang,” jelas pria yang juga menjadi tokoh agama Desa Ngumpul tersebut.

Baca Juga: Peringatan Hari Ibu Berbusana Daerah Hiasi Makanan

Sebagai bentuk keberadaannya yang dahulu ada, terdapat tanah dengan luas 2.400 m2 sebagai saksi dengan bangunan makam keramat. Selain itu juga dahulu berdiri satu mushala berbentuk panggung dengan keseluruhan terbuat dari bambu. Kala itu masyarakat menyebutnya dengan mushala angkring.

“Sebelum menjadi Desa Ngumpul, desa ini memiliki sebutan lain yakni Desa Wono Ayu. Munculnya nama Desa Ngumpul dimaknai dari peristiwa kala itu terjadi agresi militer Belanda. Kondisi saat itu berbagai ancaman bisa datang kapan saja ketika tentara Belanda datang menyerang. Sehingga membuat seluruh masyarakat berporak poranda bersembunyi agar tak terbunuh oleh tentara Belanda. Saat itu titik kumpul yang dipusatkan di tanah yang kini menjadi makam keramat dan masjid desa. Dahulu lokasi tersebut rimbun dikelilingi oleh pepohonan yang rindang,” tandasnya.

Khotim Sidiq menambahkan, bahwa saat itu, seluruh masyarakat dihimbau untuk berkumpul jika terdapat tentara yang datang. Meskipun dilokasi tersebut terdapat ratusan masyakarat yang berkumpul, pihak Belanda yang melewati lokasi tersebut tak melihatnya. Bahkan konon cerita yang berkembang di masyarakat, terdapat burung yang melintas di atas tanah makam tersebut, seketika burung tersebut jatuh dan mati.

“Berdasarkan cerita kala itu, pihak sesepuh meyakini dan sepakat untuk mengganti nama Desa Wono Ayu menjadi Desa Ngumpul. Hingga kini makna dari nama tersebut masih terjaga dengan kearifan lokalnya,” tutup Khotim Sidiq. chicilia risca
Sebelumnya Berikutnya