![]() |
| MEGAH! Gunung Penanggungan gagah. (ist) |
NASIONAL - Jalan berkelok dan turun-naik yang membelah perbatasan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan menjadi pembuka petualangan menuju Gunung Penanggungan. Gunung mati setinggi 1.653 mdpl ini memiliki daya tarik yang magis. Puncaknya yang berbentuk kerucut sempurna membuatnya sering dijuluki sebagai "miniatur Gunung Semeru".
Bagi para
pendaki pemula, Gunung Penanggungan
sangat cocok dicoba karena pendaki bisa merasakan sensasi menikmati tantangan trek, keindahan puncak yang ikonik, hingga jejak masa
lalu berupa puluhan situs purbakala di sepanjang lereng gunung.
Perpaduan
antara petualangan dan kekayaan sejarah menjadikannya sebagai tempat yang
sangat sayang jika dilewatkan begitu saja.
Baca Juga: Bongsorejo, Dusun yang Berawal dari Kemakmuran
Dikenal juga
dengan nama Gunung Pawitra yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti tempat berkabut,
gunung ini menyimpan tantangan tersendiri. Perjalanan menuju puncak diwarnai
oleh hamparan pepohonan hijau, udara sejuk, hingga tebing terjal penuh
bebatuan. Di beberapa titik, pendaki harus menghadapi kemiringan tanah hingga
75°. Akan tetapi, jalur yang curam itu tak meruntuhkan semangat para pendaki
untuk melanjutkan perjalanan sampai tuntas.
Rasa lelah akan
terbayarkan begitu kaki menapak di puncak utama. Dari atas, tersaji panorama
megah berupa lautan awan, pemukinan penduduk yang terpampang jelas, dan jajaran gunung yang menghiasi Pulau Jawa.
Di seberang,
berdiri gagah cluster Gunung Arjuno-Welirang. Jika pandangan dilemparkan
lebih jauh, kepulan asap dari kegagahan Gunung Semeru dapat terlihat dengan
jelas oleh mata telanjang.
Tengok dulu: Memahami Pentingnya Literasi Bagi Anak

Lanskap alam Gunung Penanggungan. (Naufal)
Sejarah Panjang Gunung Penanggungan
Dalam pemikiran
Jawa masa Hindu-Budha Pawitra menjadi keramat karena merupakan bagian puncak
gunung Mahameru yang tercecer ketika dipindahkan ke Jawadwipa (Pulau Jawa).
Dalam Kitab Tantu
Panggelaran (1635 M), dikisahkan bahwa Pulau Jawa dulunya tidak stabil dan
kerap berguncang. Konon katanya para dewa memutuskan untuk memindahkan Gunung
Mahameru dari India (Jambhudwipa) ke bagian barat pulau Jawa. Demi menyelamatkan manusia yang hidup di sana.
Namun,
penempatan tersebut justru membuat Pulau Jawa miring ke barat sehingga bagian
puncak gunung dipindahkan ke sisi timur, yang kini menjadi Gunung Semeru. Kendati
demikian, Pulau Jawa tetap belum stabil akibat runtuhan puncak Mahameru yang
tercecer sepanjang perjalanan dan menjelma menjadi rangkaian gunung di Jawa.
Pada akhirnya, para dewa yang jengkel memotong ulang puncak Gunung Semeru dan
menghempaskannya ke lokasi lain, yang kemudian menjadi Gunung Pawitra atau
Gunung Penanggungan saat ini.
Lihat juga: SDN Bendet Kecamatan Diwek Optimalkan Kemampuan Membaca Siswa Sejak Dini
Secara
historis, gunung ini sangat penting karena lerengnya menyimpan ratusan situs
arkeologi dan spiritual dari era Hindu-Budha. Lebih dari seratus struktur atau
puing bangunan telah ditemukan, di antaranya adalah Petirtaan Jolotundo,
pemandian suci peninggalan Raja Airlangga (977 M) berair abadi. Untuk situs
candi, di awal jalur terdapat Candi Bayi dan Candi Putri, diikuti deretan Candi
Pura, Gentong, dan Shinta di lereng barat.
Pada elevasi
yang lebih tinggi, pendaki bisa menemukan Candi Carik dan Candi Lurah yang
dulunya tempat meditasi, serta Candi Pandawa, Umpak Wolu, dan Sengon di dekat
tebing Bukit Bekel. Di atas semua itu, terdapat Candi Siwa sebagai situs utama
tersembunyi yang sangat disakralkan dan dijaga ketat kelestariannya.
Dan masih
banyak lagi nilai sejarah yang ada di area Gunung Penanggungan. Berkat kekayaan
sejarahnya, Gunung Penanggungan resmi ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya
Peringkat Provinsi sejak 14 Januari 2015 melalui SK Gubernur Jawa Timur No.
188/18/Kpts/013/2015. - Naufal Afif
