Dua peserta tampak memperlihatkan Nasi Goreng Jawa racikannya. (Wahyu)


JOMBANG – Berbagai cara dilakukan untuk mengenalkan cita rasa kuliner khas daerah. Dalam hal ini, fungsi sekolah sebagai edukator perlu diterapkan. Berdasarkan hal itu, SDIT Al Ummah mencoba membuat festival kuliner dengan cita rasa khas Indonesia. Uniknya, Festival Nasi Goreng Jawa dilombakan oleh dua perwakilan wali siswa dari setiap kelas.


Kepala SDIT Al Ummah, Setyowati Puji Rahayu, S.Pd., menuturkan bahwa pemilihan menu masakan kuliner tidak terlepas dari banyaknya anak-anak zaman sekarang yang lebih mengenal makanan cepat saji dibandingkan masakan lokal.


“Pemilihan tema Nasi Goreng Jaw aini supaya mereka lebih mengenal makanan tradisional. Pada tahun sebelumnya, kita juga mengambil tema makanan tradisional Rujak Uleg. Bahkan, banyak dari siswa yang ternyata baru pertama kali mencobanya,” ujar Yayuk, sapaan akrabnya.


Para siswa mencicipi Nasi Goreng Jawa buatan wali siswa. (Wahyu)


Dari sekolah, tambah Yayuk, mereka telah menyediakan bahan-bahan untuk memasak. Sementara, bahan utama nasi dibawa oleh para peserta untuk digunakan sebagai lomba. Menurutnya, sekolah memberi batasan dalam membawa properti dan stand untuk memasak.


“Tahun lalu ada wali siswa yang sampai menyewa stand. Maka dari itu, kami memberi batasan,” ungkapnya.


Yuk Tengok! Ada Manasik Haji Hingga Nonton Bareng di MPLS SDN Kayangan 1


Ihwal pelaksanaan lomba, Yayuk menerangkan bahwa lomba itu digelar dalam rangka mempererat hubungan antar sekolah, wali murid, dan sesama wali murid.


“Kami tidak ingin para wali siswa sampai mengeluarkan biaya berlebihan agar kegiatan tampak lebih meriah. Jangan sampai esensi utama digelarnya festival ini tidak tercapai,” ujar perempuan berkacamata itu.


Kepala, komite, dan majelis sekolah. (Wahyu)

Sementara itu, Ketua Komite SDIT Al Ummah, Dr. Kasmuji Raharjo, M.Pd., yang menjadi juri dalam festival tersebut, mengatakan ada tiga pertimbangan dalam penilaian perlombaan.


“Penilaian masakan tidak dinilai hanya dari tampilan yang menarik. Juga dari rasa yang menjadi penilaian utama. Ditambah pula dengan penyajian, kebersihan, dan kerapian selama proses memasak,” jelas Kasmuji Raharjo.


Yuk baca: Unjuk Siswa Berbakat di MPLS Hari Keempat SDN Kwaron 1 Diwek


Pria asal Plandi itu menilai secara umum kemampuan peserta sudah cukup baik.

“Namun, ada beberapa dari hasil masakan yang memiliki tekstur kurang pas atau masih lembek,” lanjut Kasmuji Raharjo.


Ida ketika menilai stand wali siswa. (Wahyu)


Salah satu juri lain dari SMKN 2 Jombang, Ida panggilannya, mengatakan bahwa dalam perlombaan terdapat satu bahan jebakan yang sengaja disediakan untuk para peserta.


“Ada bahan masakan yaitu lada. Sedangkan, Nasi Goreng Jawa itu tidak usah menggunakan lada. Karena memang terasa dan saya bisa membedakannya. Kalau cabe itu cenderung terasa pedas di ujung lidah. Sedangkan lada akan terasa pedas di pangkal lidah,” tutur guru yang mengampu jurusan tata boga tersebut.


Ada beberapa catatan bagi para peserta dalam proses memasak, Ida menjelaskan, “Ada yang masih terasa amis dari telur, bumbu tidak tercampur merata, dan ada juga nasi yang belum dimasak dengan betul-betul matang. Tapi kebanyakan sudah bagus, nasi goreng yang sudah ada aroma dari asap atau smokey bisa menambah cita rasa dan menjadi nilai tambah.”


Ketua Majelis Sekolah, Ir. Sutarno Said, M.Pd., M.Si., mengungkapkan kebanggannya kepada para panitia dan peserta yang memeriahkan acara pada hari ini.


“Kegiatan seperti ini sangat baik. Kami berharap untuk terus dilaksanakan dan dikembangkan pada tahun-tahun berikutnya,” pungkasnya.

Penulis            : Wahyu R. Hidayat
Editor              : Dimas B. Aditya

Lebih baru Lebih lama